Buwas, (kiri) dengan Azrul Ananda

batampos.co.id – Pemberitaan mengenai langkah-langkah pencegahan akan memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana menghindari jeratan narkotika.

”Selama ini, pemberitaan media masih didominasi langkah-langkah penindakan. Bicara berapa kilo narkotika yang diamankan, dan berapa pengedar yang ditembak,” jelas Kepala BNN Budi Waseso dalam pemaparannya di sela-sela rapat evaluasi triwulan I 2017 Jawa Pos Group (JPG) di Hard Rock Hotel Bali, Rabu (12/4). ”Padahal, pencegahan tidak kalah penting untuk mencegah masyarakat tidak terjebak dalam penggunaan barang haram itu,” lanjutnya.

Untuk itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengajak semua pihak untuk bersinergi memerangi peredaran narkotika. Itu harus dilakukan karena peredaran narkotika sudah sampai pada tahapan yang sangat mengkhawatirkan. Tanpa dukungan semua pihak, BNN akan kesulitan menyelamatkan jutaan warga yang telah kecanduan.

Menurutnya, kelompok media seperti JPG, harus turut andil dalam upaya pemberantasan narkotika demi menghindarkan Indonesia dari lost generation akibat barang haram tersebut.

”Duduk di hadapan pemimpin Jawa Pos dan jajaran, saya serasa jadi presiden saja,” kata Buwas, sapaan Budi Waseso, disambut tepuk tangan pemimpin redaksi dan top management JPG.

”Ini mewakili semua daerah di Indonesia,” lanjutnya.

Buwas menyebut, sinergi BNN dengan media sangat penting dalam upaya pemberantasan nakotika. Ekspos mengenai penindakan yang dilakukan bisa menimbulkan efek jera.

Buwas memprediksi narkotika yang beredar di masyarakat beratnya sudah berton-ton. Demikian besar, karena Indonesia menjadi salah satu pasar utama peredaran internasional. Baik dari Eropa, India, Taiwan, Filipina, dan Tiongkok. Paling besar di antara importer narkotika itu adalah Tiongkok.

Indonesia menjadi sasaran empuk karena penduduk Indonesia sangat besar, 250 juta jiwa. Selain itu, masuknya narkotika ke tanah air relatif lebih mudah. Itu tidak lepas dari panjang pantai Indonesia yang begitu panjang. Sehingga pengawasan pelabuhan-pelabuhan tikus sangat sulit dilakukan.

”Teknologi scanner kita di pelabuhan-pelabuhan juga kurang canggih.   Sehingga narkotika dalam jumlah besar bisa disisipkan dalam mebel, tiang pancang, atau barang-barang proyek lain,” jelas jenderal bintang tiga tersebut.

Memiliki 173 media cetak, 43 media elektronik, dan 21 manufaktur, JPG menurut Buwas akan mengambil peranan penting dalam perang melawan narkotika.

”Di daerah peredaran narkotika juga canggih. Seperti di Gorotalo, dimana saya pernah jadi kapolda di sana. Sosialisasi akan bisa dilakukan dengan maksimal oleh media yang berbasis di sana seperti yang ada dalam jaringan Jawa Pos,” paparnya.

Perang melawan narkotika menurut mantan kabareskrim itu tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Karena korban meninggal setiap hari mencapai 50 orang. Dan jutaan lainnya kini kecanduan.

”Ini bahaya yang lebih besar dari terorisme sekalipun. Kita bisa mengalami lost generation jika tidak mampu menanggulangi,” tandasnya.

Azrul Ananda, Presiden Komisaris JPG, sepakat dengan Buwas. Narkotika adalah bahaya terbesar yang dihadapi Indonesia. Pria yang concern pada anak muda itu menyatakan semua aktivitas untuk membangun generasi yang lebih baik akan rusak karena narkotika.

”Kami akan support kampanye BNN dalam penanggulangan bahaya narkotika melalui laporan khusus dan pemberitaan di JPG,” kata Azrul.

Menanggapi masukan dan pertanyaan dari JPG, Buwas menegaskan bahwa narkotika adalah high risk crime. Kejahatannya sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Karena itu, penangannya pun harus luar biasa.

”Saya bilang pada jajaran saya, tidak perlu membuang peluru untuk tembakan peringatan. Kalau memang sudah clear dia pengedar dan residivis, arahkan tepat ke dadanya biar tidak berkepanjangan,” tegasnya. (ang/jpgroup)    

Respon Anda?

komentar