Berbagai agenda telah dipersiapkan sebagai materi pembahasan maupun perjanjian demi kemajuan pariwisata tanah air.

Untuk itu Indonesia akan mengambil bagian dalam World Travel and Tourism Council (WTTC) Global Summit 2017 dihelat di Bangkok-Phuket, Thailand, pada 24-28 April 2017.

WTTC Global Summit ke-17 tahun ini merupakan program unggulan WTTC dalam kerangka perayaan “2017 International Year of Sustainable Tourism for Development”.

WTTC Global Summit 2017 diselenggarakan WTTC bekerjasama dengan Pemerintah Thailand. Fokus diskusi pada Global Summit adalah peran pariwisata dalam mentransformasi dunia, dalam tema besar “Transforming our World”.

Nantinya akan ditetapkan berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh sektor pariwisata untuk memastikan kontribusi positif untuk masa depan yang berkelanjutan. Tema ini sendiri sejalan dengan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030, mempertimbangkan latar belakang pertumbuhan penduduk. Bagaimana dunia akan tampak pada 2030, dan apa yang perlu sektor pariwisata sadari dari pertumbuhan demografi serta peran spesifik bidang travel and tourism.

Pembicaranya berasal dari para CEO, vice chair industri terkait pariwisata, mantan Perdana Menteri Inggris, Menteri Pariwisata Thailand, juga perwakilan universitas dan jurnalis.

“WTTC Global Summit 2017 menjadi agenda penting bagi Indonesia untuk membina dukungan pemangku kepentingan pariwisata peserta yang hadir. Tentu, dalam pencapaian target kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2019,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Forum ini juga akan membangun kepercayaan dan hubungan yang saling menguntungkan melalui jejaring kerja dengan seluruh peserta untuk mempromosikan kepariwisataan serta berbagi informasi mengenai isu-isu terkini terkait pengembangan destinasi pariwisata yang berkelanjutan. Dan, tidak kalah penting adalah mempromosikan pariwisata Indonesia melalui pemberitaan pada media dengan kehadiran Menteri Pariwisata Arief Yahya. “Indonesia akan terlibat secara aktif dalam setiap agenda WTTC Global Summit 2017,” kata Menpar Arief Yahya.

Pertama, berdiskusi dengan pemangku kepentingan pariwisata yang hadir terkait beberapa isu pengarusutamaan pariwisata terkini dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pencapaian United Nations Sustainable Development Goals (SDGs) serta kebijakan nasional untuk pencapaian target 20 juta wisman.

“Di antaranya membahas kemudahan visa, pengembangan aksesibiltas internasional maupun domestik, serta deregulasi lainnya seperti Asas Cabotage dan CAIT (Clearance Approval for Indonesian Territory),” jelas Menpar Arief Yahya.

Kedua, menawarkan peluang kerjasama investasi di 10 Destinasi Wisata Prioritas Indonesia kepada para CEO perusahaan di level atas yang berpartisipasi dalam pertemuan ini.

“Beberapa hal yang perlu disampaikan antara lain kemudahan berinvestasi, deregulasi bidang investasi, Ketersediaan SDM pariwisata yang tersertifikasi, potensi sumber daya alam yang besar di destinasi prioritas, dan konektivitas yang terus dibangun dari dan ke destinasi prioritas,” tambah Menpar Arief Yahya.

Ketiga, menjajaki kerjasama dengan Pemerintah Thailand dalam pemasaran pariwisata dan peluang menerapkan strategi “mengail di kolam ikan” mengingat tingginya kunjungan wisman ke Thailand.

Keempat, menjajaki kerjasama dengan Thai Airways terkait pengembangan konektivitas dan promosi on board untuk mendukung kunjungan wisman ke Indonesia.

“Yang bisa dipertimbangkan untuk kerjasama dengan Thailand dan Thai Airways, di antaranya promosi Wonderful Indonesia di Bandara Internasional Svarnabhumi, Bangkok; peluang berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan pariwisata di Thailand (pameran dan festival); promosi Wonderful Indonesia di armada-armada Thai Airways; dan penambahan jalur Thai Airways ke Destinasi lain di Indonesia, seperti Lombok, Medan, dan lain-lain,” paparnya.

Dan kelima, benchmarking destinasi pariwisata Thailand (Phuket) pengembangan pariwisata yacht melalui Sail Phuket, Sabang, dan Langkawi.

Terkait pengembangan pariwisata yacht melalui Sail Phuket, Sabang, Langkawi, Menteri Pariwisata Arief Yahya akan membahasnya secara khusus pada hari ke-3 WTTC Global Summit 2017.

Rencananya dilakukan penandatanganan kerjasama antara Menteri Pariwisata Indonesia, Menteri Pariwisata Thailand, dan Menteri Pariwisata Malaysia. Pihak-pihak terkait yang diundang hadir dalam penandatangan ini, di antaranya Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), Phuket Yacht Club (Ao Chalong), Royal Langkawi Yacht Club, dan Phuket Boat Lagoon.

Untuk informasi, WTTC selaku penyelenggara WTTC Global Summit 2017, adalah sebuah forum para pimpinan perusahaan dan sektor swasta lain yang bergerak di bidang industri perjalanan dan wisata. Organisasi ini didirikan pada 1990 dan berkantor pusat di London, Inggris. WTTC bekerjasama dengan pemerintah dalam rangka meningkatkan kesadaran arti pentingnya industri perjalanan dan wisata.
Kegiatan WTTC antara lain penelitian tentang dampak ekonomi dan kebijakan pariwisata serta bersama-sama United Nation World Tourism Organization (UNWTO) mengkampanyekan industri pariwisata melalui penyampaian “Open Letter” kepada para pimpinan negara. Keanggotaan WTTC adalah para CEO industri pariwisata dan industri terkait pariwisata, seperti hotel, maskapai udara, operator tur, dan lain-lain. (*)

Respon Anda?

komentar