Dalam Naungan Panji Rasulullah

HTI Batam Gelar Pengajian Umum Rajab 1438 H

Suasana pengajian umum Rajab 1438 Hijriah yang digelar HTI Kota Batam, Minggu (16/4/2017). Foto: Muhammad Nur/Batam Pos

BATAM (BP) – Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Batam kembali menggelar Pengajian Umum Rajab 1438 Hijriah di ruang serba guna gedung SMK Kartini di Kompleks Baloi View Batu Batam, Ahad (16/4/2017).

Pengajian kali ini mengusung tema “Bersama Ummat Dalam Naungan Panji Rasulullah”. Acara ini dihadiri oleh anggota, simpatisan, dan umat Islam dari berbagai kalangan.

Sejatinya, acara ini diawali dengan konvoi kendaraan sambil mengibarkan panji Rasulullah Al Liwa-Ar Rayah (Liwa-Rayah), yaitu bendera umat Islam. Namun kepolisian meminta agar konvoi ditiadakan.

“Kami menyayangkan larangan konvoi itu, tapi sebagai organisasi yang taat aturan dan respon terhadap permintaan teman-teman kepolisian, maka konvoi kami tiadakan, hanya pengajian umum saja,” ujar Ustad Donny Irawan, penanggungjawab acara saat ditemui di usai pengajian.

Pengajian sendiri berlangsung aman dalam pengawalan pihak kepolisian. Hadir sebagai pemateri antara lain Ustad Ahmad Syahreza, dan beberapa pemateri lainnya.

Dony mengatakan, ada yang salah memahami keberadaan Panji Rasulullah, Liwa Rayah, dengan mempersepsikan bendera tersebut akan menggantikan bendera merah putih. Padahal, persepsi tersebut keliru. Liwa Rayah adalah bendera umat Islam, sehingga tak perlu dipersepsikan negatif. Bendera itu telah ada sejak zaman Rasulullah hingga saat ini.

HTI maupun umat Islam lainnya pada dasarnya punya tugas untuk mensosialisasikan Liwa Rayah, bahwa itu adalah bendera umat Islam. Bukan bendera partai politik atau organisasi manapun.

Bagi Hizbut Tahrir, bendera tersebut sebagai simbol tumbuhnya semangat juang untuk menegakkan Islam yang Kaafah (sempurna) demi terciptanya Islam Rahmatan lil ‘Alamiin. Itu sebabnya HTI selalu membawa bendera tersebut dalam setiap kegiatannya.

“Rencana konvoi itu dalam rangka memperkenalkan kembali ke publik bendera umat Islam itu, tapi karena diminta tidak konvoi, ya kita taati,” ujar Dony, lagi.

Pria yang bekerja di salah satu rumah sakit di Batam ini juga meluruskan anggapan yang menyebut HTI tak cinta NKRI. Ia menegaskan, HTI justeru sangat cinta NKRI. Hal ini bisa dibuktikan dalam setiap gerakannya yang getol memperjuangkan agar kekayaan alam Indonesia tidak diberikan ke asing, tapi dikelola sendiri oleh negara untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

“Saat referendum Timor Timur, HTI juga getol meminta agar jangan ada referendum karena khawatir Timor Timur lepas dari NKRI, namun tetap saja digelar referendum, Timor Timur akhirnya lepas dari NKRI,” ungkap Dony.

Masih adanya persepsi negatif terhadap perjuangan HTI dinilai Dony sebagai sebuah pemicu semangat untuk terus mensosialisasikan lebih jauh ke publik, khususnya umat Islam. “Artinya, kami harus kerja keras dan lebih giat lagi melakukan sosialisasi,” ujar Dony. (nur)

Respon Anda?

komentar