Pembudidaya ikan Napoleon di Pulau Sedanau, Natuna, menunggu realisasi kran ekspor dibuka pemerintah. F. Aulia Rahman/batampos.

batampos.co.id – Pembudidaya ikan napoleon di Natuna, hingga saat ini masih menunggu kepastian dibukanya kran ekspor oleh Pemerintah, pasca moratorium diberlakukan.

Pulau Sedanau Kecamatan Bunguran, salah satu tempat budidaya ikan napoleon terbesar di Natuna. Selain pulau lain seperti Subi, Serasan, Midai, Pulau Tiga dan Pulau Laut.

Pasca moratorium larangan penjualan ikan napoleon diberlakukan, ekonomi di Kecamatan Bunguran Barat ternyata sangat berpengaruh. Bahkan geliat ekonomi masyarakat hampir lumpuh. Sebab hampir 50 persen warga setempat adalah nelayan, baik nelayan tangkap dan nelayan budidaya. Hanya sebagian kecil sebagai petani dan pedagang. Dan tidak terdapat perusahaan yang mempekerjakan masyarakat.

“Dua tahun lalu kami sangat mudah cari uang saat napoleon masih masih laku dijual. Sehari memancing, bisa dapat dua ekor Mengkait (Napoleon,red). Tentu uang Rp 1 juta sudah di tangan,” tutur Azmin warga Sedanau kemarin.

Namun kini, warga setempat juga bingung mendapatkan rezeki. Hasil tangkapan ikan selain napoleon tidak seberapa. Hanya laku untuk konsumsi lokal yang jumlahnya juga tidak seberapa banyak.

Moratorium larangan ekapor ikan napoleon sekitar dua tahun lalu juga berimbas pada nelayàn budidaya. Ikan yang sudah dibesarkan tidak bisa dijual, disatu sisi kebutuhan pakan terus bertambah.

Nato, seorang pembudidaya dan penampung hasil budidaya ikan napoleon di Sedanau mengaku, pembudidaya napoleon di Natuna kini menanti realiasasi pemerintah untuk membuka kembali kran ekspor napoleon.

Pihaknya sudah menerima kabar baik bagi nelayan budidaya napoleon. Karena akan memberikan kuota ekapor napoleon sebesar 30 ribu per tahun. Bahkan katanya sudah mendapat rekomendasi dari Kementerian kehutanan dan lingkungan serta LIPI. Hanya tinggal perubahan khusus terkait transportasi yang digunakan.

“Memang dalam aturannya ekspor napoleon harus lewat jalur pesawat. Tapi di Natuna sarana itu tidak mendukung. Jangankan angkut ikan, mau bawa badan saja susah dapt tiket,” ungkap Nato.

Besar harapan pembudidaya napokeon di Sedanau ini, dibukanya kran ekspor napoleon bisa dibuka secepatnya. Mengingat terdapat ratusan ribu napoleon di keramba jaring tancap menunggu diekspor.

Nato mengaku, saat ini terdapat 114.445 ekor napoleon sudah ukuran besar di keramba nelayan, dari 161 nelayan budidaya. Usia napoleon pun sudah mencapai antara 3 tahun hingga 6 tahun. Dengan kebutuhan pakan yang terus meningkat.

Budidaya ikan napoleon ini sambungnya, memang sangat menjanjikan. Namun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebelum masa panen, dibutuhkan, kesabaran, keulekan dan waktu minimal tiga tahun. Utamanya adalah modal yang cukup dengan resiko rugi yang seimbang.

Dalam satu lobang keramba ini katanya, terdapat sekitar 200 ekor napoleon. Setiap hari pakannya adalah 15 kilo ikan campuran yang dibeli dari nelayan tangkap, Rp 3 ribu per kilo.

Jika dikalkulasikan, dalam satu tahun. Pakan yang dibutuhkan 200 ekor napoleon mencapai 5 ton ikan campuran. Sementara satu nelayan membudidaya bisa mencapai ribuan ekor napoleon yang terus menunggu kepastian dengan resiko kerugian yang cukup besar.

“Sekarang harga napoleon kisaran Rp 1 jutaan per kilonya.
Memang menjanjikan, tetapi resikonya juga besar, apalagi kran ekspor masih ditutup Pemerintah,” sebut Nato.(arn)

Respon Anda?

komentar