Enam Tim Arkeologi Meneliti Tiga Situs Sejarah Bintan

333
Enam Tim Arkeologi bersama Disbudpora Bintan melihat lokasi penelitian di Dapur Arang di Sungai Kecil, Kecamatan Teluk Sebong, Rabu. F.Harry/batampos.

batampos.co.id – Enam tim ahli arkelogi yang diundang Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) melakukan penelitian terhadap tiga situs sejarah yang ada di Kabupaten Bintan, Rabu (19/4). Penelitian yang dilakukan dari pukul 08.00 WIB sampai 17.00 WIB itu bertujuan untuk peningkatan setatus menjadi benda cagar budaya.

Keenam tim arkelogi itu, Peneliti dari Ikatan Ahli Arkeologi Medan, Rita Margareta Setianingsih, Peneliti dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Banda Aceh, Deni Sutrisna, Peneliti dari Balai Cagar Budaya Batu Sangkar, Fitria Arda, Akedemisi Perguruan Tinggi (PT) Stisipol Raja Ali Haji, Nurbaiti Hoesni Siam, Pakar Peduli Kebudayaan Bintan, Herry Hoesni dan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bintan, Luki Zaiman Prawira.

Peneliti dari Ikatan Ahli Arkeologi Medan, Rita Margareta Setianingsih mengatakan penelitian ini dilakukan untuk penetapan situs sejarah menjadi benda cagar budaya yang diakui secara nasional. Sebab melalui penetapan itu, benda cagar budaya akan mengantongi prodak hukum untuk perlindungan dan pelestariannya.

“Kami langsung meninjau ketiga situs sejarah itu. Mulai dari Bukit Kerang di Kelurahan Kawal, Rumah Tua di Tanjung Berakit, dan Dapur Arang di Sungai Kecil,” ujar Rita.

Dijelaskan Rita, dari hasil penelitian ketiga situs itu memiliki usia lebih dari 50 tahun. Kemudian juga memiliki sejarah panjang yang sangat kental dan nilai karakteristik yang tinggi. Bahkan keberadaan ketiga situs itu sangat langka di Indonesia.

Memang, kata Rita ketiga situs itu sudah memenuhi unsur-unsur untuk dijadikan cagar budaya. Namun timnya ingin mengetahui lagi secara sepesifik potensi yang dapat diberikan jika sudah ditetapkan sebagai cagar budaya.

“Kami ingin pastikan jika banyak potensi yang dihasilkan dari penetapan cagar budaya. Mungkin dari segi pengetahuan, pendidikan maupun destinasi wisata baru di Indonesia,” bebernya.

Hal senada dikatakan Peneliti dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Banda Aceh, Deni Sutrisna. Dia mengakui jika untuk usia ketiga situs itu sudah melampaui unsur ketetapan. Bahkan juga memenuhi unsur lainnya seperti nilai sejarah, pendidikan, budaya, serta berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata baru.

“Kami akan merembuk, menggodok dan memberikan rekomendasi. Sehingga hasil itu dapat diusulkan ke Pak Bupati (Apri Sujadi) hingga mendapatkan register cagar budaya nasional dari Pemerintah Pusat,” akunya.

Dengan ditetapkannya ketiga situs sejarah sebagai benda cagar budaya, menurut Deni perlindungan dan pelestariannya akan dijamin undang-undang (uu). Karena benda cagar budaya akan mengantongi SK Register Nasional. Sehingga lahan yang ada disekitarnya akan dilarang keras untuk digunakan aktivitas lain.

“Setelah disetujui Pak Bupati. Kami akan membantu Disbudpora untuk membahas ketingkat selanjutnya,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Disbudpora Bintan, Makhfur Zurahman mengucapkan terimakasih kepada tim ahli dan media lokal yang berperan penting dalam penetapan situs sejarah menjadi benda cagar budaya. Karena melalui penetapan inilah situs sejarah itu akan terlindungi, terlestarikan dan terabadikan.

“Jika tidak ditetapkan sebagai cagar budaya pastinya situs-situs akan hancur termakan jaman serta terusik oleh aktivitas lainnya.

Makhfur berharap situs itu segera ditetapkan sebagai benda cagar budaya tahun ini juga. Karena keberadaan ketiga situs itu langka sehingga sangat berpotensi besar dikembangkan sebagai objek pariwisata sejarah di Bintan bahkan Indonesia.(ary)

Respon Anda?

komentar