batampos.co.id – Kamp Vietnam menjadi target pengembangan destinasi pariwisata di Batam oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Kepri. Target ini ditetapkan setelah melalui kajian penuh terhadap potensi pariwisata di Batam. Selain Kamp Vietnam, Pulau Abang, Pulau Funtasy Island dan lainnya juga dianggap sangat berpotensi untuk dikembangkan.

“Kamp Vietnam layak jual. Kami akan buat wisata ziarah. Karena nanti pada bulan enam ada ziarah kubur. Dan akan kami tangkap kesempatan itu dan saat ini konsepnya sedang dibuat,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar di Hotel Harmoni One Batam Centre, Kamis (20/4) saat press conference di acara Seminar Tata Kelola Destinasi Pariwisata yang digelar oleh Kementerian Pariwisata.

Ia mengungkapkan akan segera bekerjasama dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam yang saat ini masih mengelola Kamp Vietnam. Selain itu akan mengajukan izin hubungan diplomatik dengan luar negeri untuk memudahkan pengembangan kawasan tersebut.

“Konsepnya bagus. Kami akan bawa ke Kementerian dan meminta izin hubungan diplomatik. Pasti mereka sangat mendukung sekali,” katanya lagi.

Batam katanya merupakan tiga pintu masuk utama pariwisata di Indonesia selain Jakarta dan Bali dan menjadi perhatian utama pemerintah pusat.

“Kami sampaikan apresiasi atas perhatian dari pemerintah pusat yang sangat mendukung kemajuan pariwisata di daerahnya,” tambahnya lagi.

Di tempat yang sama, Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata, Oneng Setya Harini mengatakan infrastruktur berikut sarana dan prasarana di Batam sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi destinasi pariwisata.

“Pasar wisatawan dari negara tetangga seperti Singapura juga sangat mungkin digarap dari sisi ini. Tinggal SDM dan masyarakatnya dipersiapkan dan kapasitasnya ditingkatkan. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton, karena pariwisata harus meningkatkan kesejahteraan mereka,” jelasnya.

Daerah perbatasan memiliki banyak keunggulan yang dapat dikembangkan menjadi destinasi pariwisata. Salah satu tren wisata yang bisa dikembangkan di wilayah perbatasan adalah wisata halal karena menunjukkan tren peningkatan. Hal tersebut dapat dilihat dari kunjungan wisatawan muslim dari negara-negara timur tengah ke Indonesia, seperti Pulau Lombok.

“Selain itu, mayoritas kunjungan wisatawan ke Indonesia, 60 persennya adalah untuk menikmati wisata budaya. Budaya merupakan aset penting sehingga harus dijaga sebaik-baiknya,” katanya.

Gereja Katolik peninggalan pengungsi Vietnam di Desa Sijantung, Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau.

Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Purnomo Andiantono merespon positif. Menurutnya Kamp Vietnam memiliki banyak sejarah karena merupakan saksi sejarah salah satu pengungsian terbesar di dunia yakni migrasi 250 ribu warga Vietnam ke Pulau Galang akibat perang antara Vietnam dengan Amerika.

“Kamp Vietnam menjadi salah satu aset wisata yang dikelola BP Batam. Kami terus melakukan pembenahan disana karena juga merupakan salah satu pemasukan untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang masuk ke kas negara,” katanya.

Memang sampai saat ini belum ada komunikasi dengan Pemprov. Namun jika Pemprov Kepri bersedia mengembangkan Kamp Vietnam, mereka akan membantu.

“Sarana dan prasarana seperti jalan kesana sudah bagus. Dan berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2011, Kamp Vietnam merupakan situs sejarah yang harus dijaga kelestariannya,” pungkasnya.

Museum Wisata Sejarah Kemanusiaan atau yang akrab disebut Kamp Vietnam tersebut asri dengan pepohonan, meski jalannya telah beraspal. Pohon-pohon itu pun menjadi habitat para monyet. Setiap ada mobil yang melintas, monyet keluar dari persembunyian, lalu menunggu makanan dilempar dari mobil.

Sebuah monumen kemanusiaan berdiri tak jauh dari pintu masuk. Monumen patung wanita itu dibangun atas dasar simpati kepada pengungsi yang bernama Tinh Nhan. Patung tersebut menjadi sebuah bentuk penghormatan.

Tak lama setelah melewati monumen itu, terbentang Pemakaman Nghia Trang. Pemakaman yang berisi sekitar 563 nisan tersebut merupakan kuburan para pengungsi yang meninggal karena faktor usia atau penyakit.

Pemakaman itu terawat. Temboknya bercat putih bersih. Di altar makam terdapat buahbuahan dan hio yang terbakar separo. Gulungan-gulungan kertas putih yang berisi angka-angka berserakan. Ternyata, ada pula yang mencari peruntungan di makam.

Selanjutnya, dua perahu menarik perhatian. Konon, itu adalah perahu asli yang digunakan para pengungsi untuk melintasi Laut China Selatan.  (leo)

Respon Anda?

komentar