batampos.co.id РSejumlah tokoh masyarakat Desa Kiabu yang dikoordinir oleh pemangku adat desa mendatangi kantor Bupati Kepulauan Anambas pada Kamis (20/4). Mereka ingin menanyakan kejelasan mengenai pembangunan sekolah lanjutan tingkat Atas (SLTA) yang ada di desa mereka.

Pasalnya jika di desa mereka tidak segera dibangun sekolah, maka warga setempat akan mengalami kesulitan. Ini mengingat pemuda usia sekolah asal Kiabu sudah banyak dan harus meneruskan sekolah di kota Tarempa. Sementara itu untuk menuju Tarempa membutuhkan beberapa jam perjalanan laut menggunakan pompong.

“Kita ini terpencil, kalau tidak ada sekolah sendiri, kami susah, anak usia sekolah susah melanjutkan sekolah. Sementara itu pendidikan¬†merupakan kebutuhan dasar,” ungkap pemangku adat Burhan kepada wartawan kemarin.

Dengan jarak tempuh itu maka akan menyulitkan karena perjalanan laut tidak sama dengan perjalanan darat. Perjalanan laut itu mempertaruhkan nyawa dengan kondisi cuaca yang ekstream. “Kalau sekolah di Tarempa ongkosnya akan jadi mahal,” ungkapnya lagi.

Diakuinya saat ini di Desa Kiabu hanya ada satu sekolah Dasar dan satu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Sehingga setelah lulus SLTP, maka untuk melanjutkan sekolah harus kekota Tarempa. Diakuinya tidak banyak Kepala Keluarga di desa tersebut yakni hanya sekitar 200 KK saja. Tapi kondisinya sangat terpencil yang jauh dari pusat kota sehingga tetap harus diperhatikan.

Demi terwujudnya pembangunan sekolah di desa Kiabu, maka sejumlah warga kata Burhan, sudah siap untuk menghibahkan lahan asalkan ada pembangunan sekolah di desa tersebut. “Ada tiga warga yang sudah siap menghibahkan lahan, tinggal pilih saja asalkan dibangun sekolah,” ungkapnya. (sya)

Respon Anda?

komentar