batampos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karimun mengingatkan kepada toko kelontong atau warung agar tidak menjual obat sembarangan kepada masyarakat. Sehingga, penggunaannya tidak disalahgunakan. Karena, meski beberapa jenis obat dapat dijual bebas tanpa resep dokter, jika dikonsomsi berlebihan bisa memberikan efek negatif.

Untuk mengatasi penjualan obat agar tidak disalahgunakan, beberapa waktu lalu, Dinkes sudah membuat surat edaran ke Puskesmas yang ada di setiap kecamatan untuk diteruskan ke toko obat, toko kelontong dan juga warung.

“Tujuannya, untuk mengingatkan agar yang bukan toko obat dilarang menjual obat sembarangan. Memang, kita tahu ada toko kelontong yang menjual obat bebas resep dokter. Khususnya obat ada logo lingkaran warna hijau,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Karimun, Rahmadi kepada Batam Pos, Sabtu (22/4).

Meski bisa dijual tanpa resep dokter untuk obat yang bertanda logo hijau, tapi dalam melakukan penjualannya tetap harus seletif. Termasuk juga, toko obat atau apotek kalau menjual obat dapat melihat kondisi pembelinya. Misalnya, ada seorang warga mau membeli sekotak obat batuk jenis tertentu, maka toko obat atau apotek jangan langsung menjual, ditanyakan lebih dulu untuk apa membeli sebanyak itu.

”Karena, kita sudah sering terima laporan dan juga mendapatkan informasi untuk salah satu jenis obat batuk cair dalam bentuk sachet banyak disalahgunakan. Sebagian besar digunakan untuk campuran mengkonsumsi minuman beralkohol atau anggur. Padahal, obat batuk tersebut memiliki logo bertanda biru. Yang artinya, bebas dibeli tanpa resep dokter, tapi penggunaannya diawasi, karena termasuk obat keras. Bahkan, selain toko obat atau apotik tidak boleh menjual obat batuk yang dimaksud,” jelasnya.

Intinya, lanjut Ramhadi, dalam melakukan penjualan jangan hanya menacari keuntungan dari penjualan obat. Tapi, penjual bisa juga bertindak sebagai pengawas. Karena, sudah mendapatkan surat edaran dari pihaknya. Selain itu, dalam waktu tertentu pihaknya bersama dengan satpol PP juga akan turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan. Khususnya, di toko kelontong yang ada di lingkungan pemukiman masyarakat. (san)

Respon Anda?

komentar