Sedanau Tak Dilengkapi Pemadam Kebakaran

Wakil Ketua DPRD Natun Hadi Candra meninjau ķorban kebakaran lokasi kebakaran di pelantar Sedanau masih dipasang garis polisi. F. Aulia Rahman/batampos. 

batampos.co.id – Pasca kebakaran tujuh rumah warga termasuk kantor Syahbandar di pelantar Sedanau, aktifitas warga sudah kembali normal.

Penerangan listrik pun sudah kembali normal. Namun korban kebakaran masih mengungsi di rumah warga dan keluarga.

Sementara Bupati Natuna Abdul Hamid Rizal dan Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suparapti meninjau lokasi kebakaran memberikan dukungan moral kepada korban kebakaran.

Menurut Hamid, Pemerintah Daerah juga akan melakukan evaluasi terhadap musibah kebakaran di Sedanau Kecamatan Bunguran Barat, yang sudah menjadi kota terapung di Natuna.

“Tentu Pemerintah akan evaluasi, supaya kejadian ini tidak terulang,” kata Hamid kemarin.

Sementara penyebab kebakaran yang bersumber dari sebuah gudang material milik Nato belum disimpulkan pihak kepolisian. Namun dipastikan tidak terdapat korban jiwa, hanya kerugian material yang ditaksir mencapai belasan miliar.

Kapolsek Bunguran Barat AKP Dunot Gundring mengatakan, pasca kebakaran ini tidak ada pengadulan dan laporan warga yang kehilangan anggota keluarga. Pihak korban kebakaran pun menyatakan tidak terdapat anggota keluarganya yang belum ditemukan. Bahkan di dalam gudang api bersumber tidak terdapat penjaga gudang.

“Korban jiwa tidak ada, maupun digudang material yang terbakar. Menurut pemiliknya tidak ada yang jaga gudangnya. Penyebab kebakaran pun masih belum disimpulkan,” kata Gundring, Senin (24/4).

Dikatakan Kapolsek, akibat kebakaran tersebut menyebabkan kerugian cukup besar. Ditaksir sekitar Rp 18 miliar. Karena tidak hanya toko pakaian, toko sembako, gudang material, toko material dan rumah makan, rumah tinggal warga juga ludes.

“Paling besar kerugiannya adalah milik Nato, karena rumah, toko dan gudang ludes. Memang api sekitar satu jam habiskan tujuh bagunan di pelantar itu. Untung api tidak merembet bagunan kayu lain, tapi saat kejadian, warga tak bisa selamatkan barang,” ujar Gundring.

Pasca kebakaran tersebut, warga di Sedanau meminta Pemerintah Daerah melakukan evaluasi kebutuhan sarana yang harus dilengkapi Pemerintah. Terutama pemadam kebakaran.

“Kami nilai Pemerintah lalai, karena kebakaran hebat sudah kedua kalinya terjadi. Masih untung hanya tujuh rumah, tahun 2002 lalu, semua rumah di pelantar Sedanau ini ludes, penyebabnya penjual bensin eceran,” tutur Sofian warga Sedanau.(arn)

Respon Anda?

komentar