Vivian Balakrishnan.Foto: JPNN

batampos.co.id – Meskipun Singapura kini menanamkan investasinya di berbagai daerah di Pulau Jawa, khususnya di Kendal, namun Batam masih tetap menjadi pilihan menarik. Banyak investor Singapura bersiap menanamkan modalnya dengan membuka usaha baru maupun memperluas usahan yang sudah ada.

”Iya, Kepri khususnya Batam masih tetap menarik bagi investor kami di Singapura,” ujar Vivian Balakrishnan, Menteri Luar Negeri Singapura, saat bertemu Gubernur Kepri Nurdin Basirun di Graha Kepri, Selasa (25/4). Vivian didampingi Duta Besar Singapura untuk Indonesia Anil Kumar Nayar,  Konsulat Singapura untuk Batam Gavin Chay, dan dirjen serta tujuh sektetaris Kementerian Luar Negeri Singapura.

Lalu mengapa banyak yang ragu? Vivian punya alasan mendasar. Menurutnya, meski Batam kawasan terbaik, namun banyak investor Singapura masih menunggu kepastian hukum yang menjamin keberlangsu­ngan usaha mereka.

Vivian mengatakan sejumlah investor Singapura sangat tahu regulasi di Batam sering berubah-ubah. Bahkan, dua lembaga pemerintahan, yakni Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemko Batam tidak akur. Kondisi ini kian membuat investor ragu berinvestasi di Batam.

”Minat berinvestasi sangat tinggi, tapi kalau tidak ada kepastian hukum, siapa yang berani?” ujarnya.

Tak hanya itu, persoalan kecepatan layanan perizinan, keamanan wilayah, juga menjadi pertimbangan utama bagi investor Singapura untuk menanamkan modalnya di Batam dan wilayah lainnya di Kepri.

Menurutnya, Batam-Singapura saling membutuhkan, sehingga selayaknya ada jaminan kepastian hukum, keamanan, kecepatan layanan perizinan. Dengan begitu, keraguan investor bisa hilang.

”Makanya kami tanya langsung ke Pak Gubernur soal kepastian hukum, keamanan, dan kemudahan layanan perizinan itu,” kata Vivian.

Gubernur sendiri mengakui keluhan investor Singapura yang disampaikan melalui Menlu negara tersebut. Namun Nurdin menegaskan, berbagai upaya terus dilakukan pihaknya untuk menarik investor ke Kepri, khususnya dari Singapura. Hasilnya, ada kemajuan ke arah yang lebih baik, meski belum bisa memuaskan semua kalangan.

Nurdin juga menegaskan ia dan jajaran pemerintah kabupaten/kota di Kepri akan terus berupaya memperbaiki pelayanan. Termasuk bekerjasama dengan berbagai kalangan untuk meningkatkan rasa aman bagi investor.
Terkait hubungan Pemko dan BP Batam yang tak harmonis, Nurdin mengaku sudah menyampaikan ke Presiden Joko Widodo dan sudah menjadi bahasan serius Presiden. Ia optimis, Presiden akan membuat hubungan BP dan Pemko Batam menjadi lebih baik lagi.

Selain itu, pemerintah pusat juga sudah memberikan sinyal untuk membuka kawasan Rempang-Galang sebagai kawasan investasi baru. Investor yang selama ini kesulitan mendapatkan

”Beberapa aturannya sedang disusun oleh pusat. Sementara untuk situasi keamanan sendiri, sejauh ini sangat kondusif,” bebernya.

Dalam pertemuan singkat itu, Nurdin turut menawarkan daerah lain kepada Menlu Vivian untuk berinvestasi. Bintan, Karimun, dan Lingga dengan wilayah yang cukup luas. Kemudian Natuna dan Anambas dengan pesona alamnya yang memikat. Cocok untuk pengembangan kawasan pariwisata.

”Yang jelas di wilayah tersebut tak sesusah di Batam. Kalau ada yang menghambat, temui saya. Saya langsung urus,” tegas Nurdin.
Usai menemui Gubernur Kepri Nurdin Basirun, Vivian juga menemui Wali Kota Batam di Hotel Best Western Premier Panbil. Tujuannya sama, yakni ingin meminta kepastian hukum sekaligus meminta penjelasan soal hubungan Pemko dan BP Batam yang cenderung tak harmonis.

Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Anil Kumar Nayar juga membenarkan pertemuan awal Pemerintah Singapura dengan Kepri untuk menyampaikan keluhan para investor Singapura yang berencana berinvestasi di Batam. Keluhan itu juga bakal disampaikan pada President Joko Widodo yang berencana kembali melawat  ke Singapura September nanti.

Wali Kota Batam Muhammad Rudi usai pertemuan mengatakan, Menlu Singapura menanyakan kondisi Batam. Vivian juga menanyakan kepastian hukum bagi investor dan termasuk hubungan Pemko dan BP Batam yang belum diselesaikan. ”Dia tidak ngomong dualisme tapi kepastian hukum. Kita yakinkan bahwa Pak Jokowi serius menangani hal ini,” kata Rudi.
Menurut Rudi, kepastian hukum ini sangat penting. Apalagi investor Singapura menjadi yang terbesar menanamkan modalnya di Batam.

Duta Besar Singapura untuk Indonesia, sambung Rudi, juga menyampaikan, bahwa sudah banyak perusahaan Singapura yang ada di Batam pindah ke Kendal, namun Rudi meminta tidak ada lagi yang pindah karena Batam akan terus berbenah.

”Singapura dekat Batam dan investasi di Batam sudah sampai 20-30 tahun, kenapa harus pindah. Fasilitas kan sama dengan yang ada di sini,” lanjut Rudi.

Hanya saja di sana kepastian hukumnya jelas. Apalagi Batam usianya sudah mencapai 40 tahun. Sementara untuk mengubah regulasi membutuhkan waktu. ”Makanya saya tegaskan, Batam akan mengarah ke sana. Kepastian hukum akan sama dengan Kendal,” tuturnya.

Selain dua hal ini, Menlu Singapura berjanji bakal membantu menyampaikan ke Presiden Jokowi. Mereka tak ingin investor terganggu, karena investasi di Batam sangat besar. Dan hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Jokowi kepada perdana menteri Singapura dua tahun lalu.

”Kalau dari bahasanya mereka mau regulasi cepat selesai. Permintaan mereka itu sama dengan tujuan kita yakni regulasi satu garis, sehingga ketika ada orang berinvestasi tidak berbelit-belit seperti saat ini,” bebernya.

Menurut Rudi, sistem apa saja yang dibuat hari ini, sama saja. Namun siapa yang mimpin harus berani. ”Kalau ada investasi masuk tangkap dulu, dokumen diselesaikan belakangan. Kalau saya akan demikian supaya orang berani masuk,” pungkas Rudi.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan juga berkesempatan bertemu dengan pengusaha di Hotel Best Western Premier Panbil. Hadir dalam pertemuan itu CEO Citramas Group Kris Wiluan, Direktur PT Sat Nusapersada Tbk Abidin Hasibuan, dan Pimpinan Panbil Group, Johanes Kennedy Aritonang.

”Mereka (Singapura) melihat begitu banyak kesempatan kerjasama. Apalagi letak Singapura dengan Batam dekat, ” ucap Kris Wiluan.
Menurutnya, agenda pertemuan dengan pengusaha lebih terarah pada pembicaraan bagaimana meningkatkan kerjasama investasi antara Singapura dan Indonesia, khususnya Batam.

”Intinya bagaimana meningkatkan kerjasama yang lebih baik lagi, antara Batam dengan Singapura, antara Kepri dan Singapura,” ujarnya.
Kini, lanjut dia banyak negara Eropa maupun dari Cina ingin berinvestasi ke Indonesia. ”Singapura bisa memfasilitasi bersama-sama dengan Indonesia agar berinvestasi di Indonesia, khususnya Batam,” tambahnya.

Sementara itu, Pimpinan Panbil Group, Johanes Kennedy mengatakan pihaknya menyampaikan harapan agar wisatawan Singapura sering mengunjungi Batam. ”Kita ingin wisatawan Singapura banyak ke Batam, supaya ada limpahan. Di sana cukup besar, kita ingin sebagian datang ke Batam,” kata Johanes. (cr13/ rng)

Respon Anda?

komentar