2nd Indonesia Investment Forum di Kuala Lumpur, Selasa (26/4) lalu membuka mata calon investor terhadap potensi wisata Indonesia. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menawarkan banyak skema investasi di pariwisata.

Ketua Pokja Percepatan Destinasi Prioritas Kemenpar Hiramsyah Thaib memaparkan skema itu di hadapan 100 calon investor potensial.

Dia mengatakan, acara tersebut sudah diapkan dengan rapi oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia. Hiram tampil mewakili Kemenpar yang sedang gencar membuka cakrawala baru dalam bisnis pariwisata.

“Kami memaparkan materi Tourism Development Investment Opportunity in Indonesia dihadapan 100 investor yang potensial. Alhamdulillah acara berlangsung lancar, kami berharap memberikan hasil optimal berupa investasi di kawasan pariwisata Indonesia,” kata dia usai acara.

Hiram menambahkan, kegiatan ini sebenarnya dilaksanakan untuk kedua kalinya dan berlangsung setiap tahun. Ini kelanjutan dari acara BKPM Investment Regional Forum di Bali tahun lalu yang juga dihadiri oleh Menpar Arief Yahya dan Ketua BKPM Thomas Lembong.

Hadir juga memberikan paparan Arie Prasetyo (Dirut BOPD.Toba ), Edwin (Direktur Pengembangan usaha KEK PT ITDC), Fachrully ( Dirut KEK PT Banten West Java Tanjung Lesung ), Alan Ye ( GM KEK PT Jababeka Morotai ), Berry Darmaputra ( Direktur Pengembangan usaha KEK Tanjung Kelayang ), Andre Darmono ( Kawasan Industri Kendal ), Rusmin Lawin (Direktur KEK Sei Mangke ), Johanes Mardjuki ( Managing Director Kawasan Industri Java Integrated Industrial and Ports Estate / JIIPE ). Acara dibuka oleh Andreano Erwin Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Ricky Kusmayadi ( Diector of IIPC Indonesian Investment Promotion Centre Singapore mewakili Ketua BKPM). Hiram menambahkan, BKPM dan Kemenpar terus proaktif memasarkan potensi investasi di sektor Pariwisata dan infrastruktur pendukungnya.

Di sektor pariwisata, investasi adalah ujung tombak baru dari upaya pemerintah untuk meningkatkan penanaman modal. “Sektor pariwisata dan ini yang tidak kalah pentingnya yakni infrastruktur pendukung, yang bisa  menjadi sektor prioritas untuk menarik investor asing dan domestik,” kata dia.

Menurut dia, peluang usaha yang muncul dari infrastruktur pendukung harus dimanfaatkan oleh investor secara optimal. “Prospek sektor ini sangat besar bila melihat data-data yang ada. Pertumbuhan investasi terus berkembang. Kita akan genjot terus dari tahun ke tahun,” kata Hiram.

Di kesempatan terpisah, Menteri Pariwisata Arief Yahya menyampaikan bahwa sektor pariwisata adalah alat yang paling cepat, murah dan mudah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mendapatkan devisa, PDB serta menciptakan lapangan kerja.

Menteri Pariwisata mengemukakan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia pada tahun 2015 jauh di atas pertumbuhan pariwisata di ASEAN dan Dunia. “Secara umum sektor pariwisata tumbuh 10,3%, di atas ASEAN yang tumbuh 5,1% dan dunia di level 4,4%,” jelasnya.

Terkait dengan infrastruktur pendukung, infrastruktur dasar, yang juga dikenal dengan JALI yaitu Jalan, air, listrik dan internet, saat ini sudah menjadi basic need. Pemerintah bertugas menfasilitasi investasi JALI.

Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong,  mengatakan, bahwa BKPM akan terus berkoordinasi dengan Kemenpar untuk meningkatkan investasi di sektor pariwisata.

“Presiden Jokowi menargetkan jumlah wisatawan asing mencapai 20 juta di tahun 2019 tentu membutuhkan kerja keras dan sinergi berbagai Kementerian dan Lembaga, BKPM siap mendukung dari sisi investasi,” ujarnya.

Selama lima tahun terakhir kontribusi sektor pariwisata pada total realisasi investasi berada di level 2,2% atau Rp 51,2 triliun. Dari data BKPM tahun 2016 investasi sektor pariwisata PMDN mencapai Rp 2,2T, sementara PMA Rp 12,8 triliun, sehingga total investasi sektor pariwisata Rp 15,0 triliun.(*)

 

Respon Anda?

komentar