Manatn Presiden RI BJ Habibie mendapat pengawalan ketat saat melewati kerumunan warga yang ingin bersalaman dan berfoto usai nonton film di Studio XXI Megamall Batamcenter, Rabu (26/4/2017). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Presiden ketiga Republik Indonesia Baharuddin Jusuf Habibie mengingatkan semua pihak di Batam agar bersinergi membangun Batam. Semua hambatan harus dihilangkan.

”Mari bersinergi positif, supaya ekonomi Batam menjadi lebih baik lagi,” ujarnya saat berkunjung ke Rumah Sakit Soedarsono Darmosoewito, Nongsa, Rabu (26/4/2017).

Habibie pun menceritakan kisah pertama kali ia membangun Batam. Sebagai perintis, ia paham betul kesulitan yang dihadapi. Batam harus bisa tumbuh menjadi kawasan yang maju karena berhadapan langsung dengan negara maju Singapura.

”Saya masih di Jerman ketika Pak Harto menelepon langsung meminta saya kembali ke Indonesia,” ucapnya.

Habibie pun kembali ke Indonesia. Tak lama kemudian, ia ditugasi oleh Presiden kedua RI, Soeharto, untuk mengembangkan Pulau Batam. Tujuannya, agar Batam bisa tumbuh menjadi kawasan baru yang maju. Apalagi negara tetangga Singapura juga terus tumbuh pesat.

”Pak Harto bilang ke saya, Singapura bisa berkembang lebih baik, kenapa tidak dengan Batam,” katanya.

Hal inilah mendasari cikal bakal Batam yang sekarang. Suharto pun memberikan BJ Habibie proposal rancangan pembangunan Batam. Tapi rancangan tersebut ditolak.

”Saya bilang, kalau bapak mau saya membangun Batam. Biar saya buat dengan cara saya,” ucap Habibie menirukan saat dirinya bertemu Soeharto.

Karena begitu percayanya pada Habibie, Soeharto menyerahkan sepenuhnya aturan pembangunan Batam kepada pemilik IQ 200 itu. ”Saat saya masuk itu, Batam hanya berpenduduk 6 ribu orang,” tuturnya.

Dari sana mulailah Habibie membangun Batam. Merancang, mengonsep, dan merencanakan pembangunan untuk masa-masa yang akan datang. Ia mengatakan saat membangun Batam, dirinya menjalin hubungan positif dengan siapa saja.

”Termasuk Singapura, saya diperbolehkan bangun apa saja waktu itu. Tapi ada pengecualian, judi tidak boleh,” ujarnya.

Habibie pun melihat Batam saat ini jauh lebih maju dari saat ia merintis.

Melihat Batam saat ini, dia berpesan agar jangan takut menghadapi berbagai masalah, supaya terus maju dan menghadapi masalah yang ada. Tapi bila maju menghadapi masalah, harus bijak dalam menyelesaikannya. ”Hal itu harus diperjuangkan,” ucapnya.

Habibie mengatakan saat membangun Batam, ia dibantu oleh orang-orang yang mau berkarya dan memiliki semangat juang yang tinggi.
”Adik ipar saya (Soedarsono Darmosoewito, red) yang menjadi wakil saya. Saat saya bolak balik Indonesia-Jerman, adik saya (Ibu Sri Soedarsono) selalu memiliki semangat sosial yang tinggi,” katanya.
”Dan pengusaha muda yang energik pada waktu itu, Pak Kris Wiluan,” tuturnya.

Seluruh yang hadir mendengarkan dengan seksama pesan yang disampaikan oleh Habibie. Tak hanya bercerita tentang Batam, ia juga mengungkapkan keheranan negara lain dengan Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan adat istiadat, namun bisa bersatu.

Seluruh undangan di RS Soedarsono Darmosoewito takjub mendengarkan hal-hal yang disampaikannya. Setelah memberikan sambutannya, Habibie bersama rombongan meninjau seluruh ruangan di RS  Soedarsono Darmosoewito. (ska)

Respon Anda?

komentar