ANGGARAN pembangunan fisik Kebun Raya Batam (KRB) cukup fantastis. Untuk melihat Kebun Raya Batam layaknya sebuah kebun raya, butuh anggaran Rp 800 miliar.

“Benar, dana pembangunan fisik sampai selesai sekitar Rp 800 miliar,” kata Asisten Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Pemko Batam, Gintoyono Batong, Jumat (5/5) siang.

Ini belum termasuk dana untuk tanaman koleksi kebun. “Dana tanam tumbuh itu  Kebun Raya Bogor dan LIPI yang tahu,” tambahnya.

Namun mantan kepala Dinas Tata Kota (Distako) Batam ini mengaku tidak tahu berapa besar anggaran tanam tumbuh tersebut.

Ditanya berapa jumlah anggaran yang kini sudah terserap, Gintoyono juga mengaku tidak tahu, pasalnya pengerjaan fisik oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Yang pasti dia tahu yakni pembangunan fisik akan berlanjut tahun ini.

“Sempat vakum dua tahun kan karena berkasus (kasus korupsi). Tahun ini baru lanjut lagi setelah tidak lagi ada kendala terkait hukum,” sebutnya.

Tidak menunggu waktu lama, setelah perbaikan tahun ini tuntas, rencananya akhir tahun 2017 Kebun Raya Batam akan di-launching.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat (KemenPUPR) sudah menggelontorkan dana awal Rp 21,8 miliar di awal pembangunan tahun 2014. Namun Rp 6,947 dikorupsi. Sisanya telah digunakan untuk membangunn sejumlah fasilitas, termasuk kantor pengelola, namun kondisinya kini banyak yang rusak.

Tahun ini, tepatnya mulai Juli 2017 mendatang, KemenPUPR akan menggelontorkan kembali dana Rp 5 miliar untuk perbaikan fasilitas yang rusak. Menyusul anggaran berikutnya di tahun 2018 dan seterusnya hingga Kebun Raya Batam benar-benar layak disebut kebun raya.

Soal status lahan, Gintoyono memastikan tidak ada masalah. Badan Pengusahaan (BP) Batam telah menetapkan lokasi tersebut untuk kebun raya. “Tak ada kendala, lanjut terus. Luasnya 86 hektar,” sebutnya.

Berdasar pada maket, selain sarana perkantoran pengelola, perpusatakaan hingga ruangan bagi pengunjung Kebun Raya Batam juga dilengkapi berbagai sarana lain seperti Laboratorium, Gedung Konservasi, Botanocal Viewing Tower, Gedung Herbarium, Botanical Skyway, Danau Buatan, Kolam Air hingga Gazebo.

Tidak hanya itu, di kebun tersebut juga ada zonanya, diantaranya Zona Sunda Land, Wallacea, New Guinea, Oceania, Other World Hutan Magrove, Botanical Signage, flower Garden, Maeze Garden dan lain-lain.

Kantong Semar Jadi Andalan

Pendamping Kebun Raya Batam_LIPI, Cindy Yoeland Violita mengatakan tumbuhan di Kebun Raya Batam akan jadi tempat koleksi tanaman pesisir dan pulau-pulau kecil se Kepri. Yang paling khas yakni Kantong Semar atau Nepenthes.

“Di Kebun Raya Batam saja sudah ada lima. Nephentes Gracilis, Nephentes Ampularia, Nepenthes Tricocharpa, Nepenthes Rafflesiana, Nepenthes Hokeriana,” kata dia, Rabu (3/5).

Menurutnya, jumlah yang kini ada di KR Batam tersebut merupakan kantong semar yang sudah ada sejak awal. Seiring eksplorasi tanaman ke berbagai wilayah di Kepri, koleksi kantong semar dipastikan akan bertambah.

“Di pulau Batam, yang paling banyak di daerah Galang. Kalau di Kepri lebih banyak lagi, karena persilangan alamiah dari dua jenis spesies bisa ada spesies lain,” terangnya.

Menambah koleksi tanaman untuk KR Batam kini pihaknya terus lakukan eksplorasi. eksplorasi pertama dilakukan di Bintan periode Maret-April lalu. Sementara kini yang tengah berlangsung atau April-Mei di lakukan di Karimun.

“Di Bintan dapat 275 nomor koleksi dengan jumlah 1.966 spesies. Eksplorasi kedua targetnya 2000 nomor koleksi,” ucapnya.

Tidak hanya tanaman se Kepri dengan Kantong Semar-nya yang unik, Kebun Raya Batam juga menampung tanaman dari daerah lain se-Indonesia, termasuk dari Kebun Raya Bogor. Belakangan disebut tanaman dari daerah lain selain Kepri disebut ‘Sumbangan’.

Selain menambah koleksi tanaman, LIPI yang mendapat tugas pengembangan Kebun Raya Batam dengan membuat dua taman tematik. Satunya taman tematik warna warni seluas 7.434 meter persegi yang dimulai pengerjaannya Februari lalu. Satu lagi taman palem seluas 8.857 meter persegi yang mulai dikerjakan April.

“Targetnya, sebelum launching Kebun Raya Batam, tamannya harus selesai,” harapnya.

Urip seorang pekerja sedang mengerjakan tugu nama Kebun Raya Batam di Kselurahan Sambau Kecamatan Nongsa, Kamis (4/5). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Pihaknya berharap, semua elemen yang terlibat dalam Kebun Raya Batam yang direncanakan jadi tempat edukasi, penelitian hingga pariwisata tersebut dapat bersinergi agar pengerjaannya dapat sesuai rencana dan memuaskan semua pihak.

“Kalau LIPI sih siap, yang kami harapkan sinergisitas itu,” ucapnya.

Sementara itu, seorang Peneiliti LIPI, Savitri Dyah mengatakan bukan tidak mungkin KR Batam berisi satwa alias tidak hanya sekedar berisi tanaman.

“Ada faunanya juga bisa, kami fleksibel saja. Tergantung Pemko Batam. Kebun Raya ada juga yang ada faunanya contohnya di Wamena,” ungkapnya.

Soal launching yang ditargetkan akhir tahun ini Kepala Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pertamanan (Disperkintam) Kota Batam, Herman Rozie, mengatakan tergantung kesiapan KemenPUPR dan LIPI.

“Kami siap-siap saja, jangan nanti pas mau launching tapi sarana belum siap,” ucap dia.

Untuk diketahui, kata Herman, berkenaan dengan pembangunan fisik Kebun Raya Batam merupakan domain KemenPUPR. Pemerintah Kota (Pemko) Batam dalam hal ini hanya pengelola, sementara pengembangan dikerjasamakan dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Kebun Raya Bogor.

Dia menambahakan, sembari menunggu kesiapan KemenPUPR, pihaknya pada Kamis (18/5) mendatang akan melakukan perpanjangan nota kesepahaman terkait pengembangan kebun raya.

“Yang lama, yang ditandatangani oleh pak Ahmad Dahlan (mantan Wali Kota Batam) itu kan tahun 2012 berakhir 2017 ini,” katanya.

Dia mengatakan, Kebun Raya Batam merupakan proyek yang kelak multifungsi. Dari fungsi pendidikan atau edukasi, penelitian hingga pariwisata.

“Tahun ini, khusus kami Pemko juga buat taman labirin, ke depan mungkin saja ada objek wisata lain. Kita akan pikirkan kebun raya ini akan menarik wisatawan,” ucap dia.

Kini, Kebun Raya Batam memiliki 10 ribu koleksi tanaman. Jumlah ini akan diyakini terus bertambah, pasalnya tim LIPI terus menambah koleksi tanaman yang akan ditempatkan di kebun tersebut.

“Sampai saat ini mereka (LIPI) masih lakukan eksplorasi ke Karimun, Bintan, dan daerah lainnya untuk menambah jumlah koleksi tanaman,” tutupnya. (cr13)

Respon Anda?

komentar