batampos.co.id – Tidak mudah memang membangun sebuah band indie, tidak hanya butuh modal besar namun tekad yang kuat. Eksistensi band indie seakan menegaskan jatidiri mereka yang berdiri dilabel musik sendiri.

Berbeda dengan band yang terikat kontrak dengan perusahaan rekaman, band indie memulai segalanya secara mandiri. Mulai dari bebas ciptakan musik di luar jalur musik yang sedang happening, hingga menggarap album dan memasarkan karya mereka sendiri.

Meskipun begitu, nyatanya band indie memiliki pangsa pasar sendiri. Membawa corak lagu yang berbeda dan anti mainstreme, membuat angin segar bagi penikmat musik.

Diary of Einstein merupakan band indie asal Batam yang terus konsisten di jalur Pop Punk. Berdiri tahun 2013 silam, Irfan (vocal/guitar) dan Ronald (drummer) membentuk band ini saat bangku SMK. Keduanya akhirnya bertemu dengan Budie Satria yang mengisi posisi bass.

Sejak saat itu ketiganya rutin mengikuti Gigs (event indie music) underground Batam. Dari event ke event lain, mereka akhirnya bertemu dengan anggota yang cocok untuk mengisi posisi leader guitar. “Terakhir, Alvito Kurniawan melengkapi formasi band ini pada gitar,” kata Irfan.

Greenday, Newfound Glory, Blink 182 dan Sum 41 menjadi band yang menginspirasi band ini untuk terus berkarya. “Lagu-lagu band tersebut sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari, mereka menciptakan lagu bukan sekedar untuk menjadi artis dan mendapatkan uang,” jelasnya.

Irfan mengatakan sangat kagum dengan eksistensi Blink 182. “Meski ditinggal oleh sang vokalis, band tersebut tetap mengeluarkan karyanya,” ujarnya.

Ditanya eksistensi genre pop punk, dia menjawab dengan tegas. “Genre ini sudah lama melekat pada diri kami. Kami akan konsisten di jalur yang telah kami ambil,” ucapnya.

2017 ini menjadi tahun yang dinanti oleh ke-empat personil band ini. Mereka berencana mengeluarkan album perdana. “Semoga album perdana ini bisa dilaunching secepatnya. Kami juga berharap bisa makin solid terus, ” paparnya.

Laki-laki bertubuh padat ini mengungkapkan harapan agar band lokal di Batam berani menciptakan dan membawakan lagu sendiri. “Jangan cuma tampil bawakan lagu band lain,” tegasnya.

Menurutnya membangun band indie ibarat momok bagi band yang hanya mengejar materi. Letak Batam yang memang jauh dari pusat Ibu Kota, Jakarta, membuat perjuangan band indie harus lebih kuat.

“Pasalnya, Jakarta adalah pusat industri musik,” ucapnya.

Melalui perkembangan teknologi informasi yang ada cukup membantu band indie lebih maju. “Youtube bisa membantu. Utamanya sih, solidaritas sesama band indie diperlukan untuk mempermudah eksistensi. Bisa dengan saling mengundang ketika ada event,” ungkapnya.

Besar harapannya, promotor musik ataupun sponsor bisa memberikan  band indie kesempatan tampil di kota sendiri.(cr18)

Respon Anda?

komentar