Dua Pria Mengaku Terpaksa nJambret sebab Tak Kerja Lagi

ilustrasi

batampos.co.id – Sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, membuatĀ  Yusuf, 38 nekat menjambret bersama dengan temannya, Hari Arya, 28. Dari pengakuannya kepada polisi, Yusuf telah melakukan aksinya sebanyak puluhan kali.

“Saya begini tidak mempunyai kerja lagi. Sebelumnya saya kerja di PT sebagai operator forklift. Selama ini sudah main sebanyak 25 kali,” ujar Yusuf saat ditemui di Mapolresta Barelang, Senin (15/5).

Dijelaskan Yusuf, dari puluhan aksinya itu, hapir sebagaian besar aksinya dilakukan di kawasan Nagoya. Untuk sasaran dalam melancarkan aksinya itu, ia dan temannya menyasar pengendara wanita maupun laki-laki yang sedang lengah. Yusuf pun bertugas sebagai eksekutor.

“Saya saat tidak punya uang baru main. Biasanya dapat ponsel langsung saya jual ke konter,” ucapnya.

Diakui Yusuf, hasil penjualan ponsel itu dibagi dua dengan rekannya. Selama aksi jambretnya yang telah berlangsung selama 8 bulan, ia paling besar mendapatkan uang Rp. 1 juta dan paling kecil mendapatkan Rp. 400 dari hasil penjualan ponsel hasil jambret tersebut.

“Istri selama ini tidak tahu saya jambret. Dia tahunya selama ini saya kerja di pasar ikan,” katanya.

Aksi penjambretan Yusuf pun akhirnya berakhir, Kamis (2/5) lalu. Ia ditangkap oleh warga di depan Laundry Extra Qilo Komplek Windsor Phase. Akibat penangkapan itu, kepala Yusuf mengalami robek dan harus menerima 15 jahitan akibat hantaman dari benda tumpul.

“Kemarin itu, saya sama istri. Karena tidak ada uang lagi, saya mau main dan istri sama anak saya ditinggal di Simpang Rujak. Dia nunggu disana dari jam 7 sampai jam 12 malam,” katanya.

Istri Yusuf pun kemudian dijemput oleh sanak saudaranya dan memberi tahukan bahwa Yusuf telah ditangkap warga dan dikeroyok massa karena menjambret.

Diakuinya, malam itu ia terpaksa menjambret karena ia sangat membutuhkan uang dan berusaha meminjam uang kepada temannya pada malam itu. Namun, usahanya untuk meminjam uang tidak membuahkan hasil.

“Istri saya sudah pulang ke Siantar. Dia tahu saya ditangkap polisi. Semenjak tertangkap dia belum melihat saya. Saya tahunya dia pulang, saat dia meniitipkan baju saya sama polisi,” imbuhnya menahan tangis.

Sementara itu, Kapolresta Barelang AKBP Hengki mengatakan, minimnya lapangan pekerjaan di Kota Batam menjadi salah satu faktor terjadinya kejahatan jalanan. Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah daerah harus bahu membahu untuk mengatasi masalah ini.

“Terkait dengan masalah kejahatan jalanan, merupakan tugas bersama pemerintah daerah untuk mengatasi masalah ini. Sementara untuk pelaku usaha saya himbau untuk memasang CCTv agar dapat membantu kita apabila terjadinya tindak pidana,” katanya. (cr1)

Respon Anda?

komentar