batampos.co.id – Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) Kepri pada kuartal pertama tahun 2017 turun 0,94 persen dibanding kuartal yang sama pada tahun 2016.

Jika pada tahun 2016 kunjungan wisman berjumlah 475.840 kunjungan sedangkan tahun 2017 ini hanya 471.347 kunjungan. Sumbangsih terbesar pda kuartal pertama ini dari Batam yaitu  sebanyak 352.097 kunjungan.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kepri Buralimar. “Sedikit menurun dibanding kuartal pertama tahun sebelumnya, tapi ada harapan kalau dilihat perbandingan tiap bulan ada kenaikan,” imbuhnya, Minggu (14/5) siang.

Buralimar mengatakan, keadaan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama yakni belum banyaknya event pada awal tahun. Bahkan isu dalam negeri, turut memberi sumbangsih buruk bagi kedatangan wisman.

“Mudah-mudahan April dan Mei naik. Juni mungkin turun lagi karena puasa (Ramadhan), maka dari itu Juli dan seterusnya kita gelar beberapa even dan promosi,” ucap dia. Soal even, dia yakin banyak even yang digelar di Kepri, tak hanya oleh pemerintah namun juga oleh swasta.

Untuk diketahui, Kepri tahun ini menargetkan angka rasional kunjungan wisman sebanyak 2,2 juta wisman dari empat pintu masuk wisman di Kepri. Dengan rincian, Batam 1,7 juta wisman (lebih kecil dibanding target Pemko Batam 2 juta kunjungan), Bintan 500 ribu kunjungan, Karimun 500 ribu kunjungan serta Tanjungpinang 100 kunjungan.

Dia berharap, tidak hanya pemerintah, swasta atau pelaku pariwisata juga ambil bagian meraup kunjungan wisman. “Misal hotel, lakukan kegiatan datangkan wisman, ini juga bisa mereka lakukan,” ucapnya lagi.

Turis luar negeri berjalan menuju pelabuhan Boat Pancung, Sekupang, Sabtu (28/1). F. Dalil Harahap/Batam Pos

Masih data BPS, turunnya kunjungan wisman turut berimplikasi pada Tingkat  Penghunian  Kamar  (TPK)  hotel  berbintang  di  Kepri. Walau Maret, TPK mencapai rata-rata 47,34 persen atau naik 4,89 poin dibanding TPK Februari 2017 sebesar 42,45 persen. Namun dibanding Maret 2016 malah turun sebesar 2,05 persen, TPK bulan Maret 2016 yaitu sebesar 49,39 persen.

Bahkan, TPK Kepri pada Maret tersebut lebih kecil 7,35 persen  dibanding  dengan  TPK  hotel  berbintang  secara  nasional,  dimana  rata-rata  TPK Nasional mencapai 54,69 persen.

Rata-rata   lama   menginap   tamu   asing  dan   Indonesia   pada   hotel   berbintang   pada  bulan Maret 2017 adalah 1,91 hari, lebih rendah 0,48 persen  dibanding dengan rata-rata  lama  menginap  tamu pada Februari 2017.

Buralimar mengaku potensi wisata Kepri cukup besar, mengembangkan potensi tersebut sejatinya secara kelembagaan dan Sumber Daya Manusia Kepri cukup handal. Namun yang kini jadi kendala adalah pengembangan destinasi wisata yang butuh dana yang cukup besar.

“Pemerintah, dana yang begitu besar kita tidak bisa, kita butuh investor. Kekayaan laut dan pulau kita ini, sangat bagus untuk dikembangkan,” katanya.

Menurutnya, pengembangan destinasi ini perlu peningkatan aksesbilitas/prasarana, amenitas/sarana dan atraksi. “Tiga ini yang perlu kita kejar. Menarik investor, kita terus promosikan potensi wisata kita,” imbuhnya.

Dia berharap semua pihak juga bahu membahu dalam mengembangkan pariwisata, baik akademisi, pemerintah baik pusat maupun daerah, juga media yang punya peranan sangat penting. “Kini kita sedang galakkan pemebntukan komunitas ‘generasi pesona indonesia’ juga,” terangnya.

Dia berpendapat, potensi besar dari sektor pariwisata sayang untuk tidak dikembangkan. Pasalnya sektor pariwisata menyumbang angka yang lumayan pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepri. Tahun 2016  sektor ini menyumbang 2,32 persen dari total PDRB Kepri. Tahun ini, Dispar Kepri menargetkan 2,4 atau 2,5 persen. “Naiknya pertahun sedikit, tapi ingat kenaikannya konsisten tiap tahun,” sebutnya, bangga.

Bahkan khusus Batam, sektor pariwisata cukup gemuk menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pernah diberitakan, umbangsih Pendapatan Asli Daerah sektor Pariwisata selalu menjanjikan. Tiap tahun, sektor ini menyumbang pendapatan yang menggiurkan.

“Cukup menjanjikan dari tahun ke tahun. Makanya walikota (Walikota Batam Rudi) target banyak dari sektor ini,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Pebrialin, belum lama ini.

Dia memaparkan,  tahun 2014 saja dari total PAD sebesar Rp 605 miliar, sektor pariwisata menyumbang Rp 127 miliar. Rincinya, dari hotel Rp 64,1 miliar, restoran Rp 32,4 miliar, sementara hiburan Rp 13,5 miliar.

Sejumlah turis berjalan menikmat fisiltas pendestrian di Dataran Engku Putri Batamcenter, Kamis (13/4). Penataan yang dilakukan Pemko Batam sangat memberikan dampak yang positif bagi kemajuan sektor parawisata Kota Batam. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Tahun 2015, dari total PAD sebesar Rp 824,7 miliar, sumbangsih sektor pariwisata sebesar Rp 144 miliar. Adapun rinciannya, hotel Rp 81,8 miliar,  dari restoran Rp 45,7 miliar serta hiburan Rp 17,06 miliar.

“Persentase sumbangsih tahun 2015 itu,  17,56 persen,” ucapnya.

Dia mengaku belum tahu pasti sumbangsih sektor pariwisata tahun 2016. Namun berdasar pada data Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Kota Batam yakni, hotel sebesar Rp 88,302 miliar, restoran Rp 51,594 miliar serta hiburan sekitar Rp 19 miliar lebih.

Karena sumbangsih PAD yang ‘gemuk’ dari sektor pariwisata inilah, Walikota Batam Rudi bahkan menitipkan tahun 2017 ini Disbudpar meraup PAD yang banyak. Disbudpar bahkan diminta untuk meningkatkan kunjungan wisatawan yang kemudian berimbas ke PAD. “Mereka tidur di (hotel) Batam, kita dapat duit. Makan di Batam dapat duit juga kita,” ucap Rudi.

Maka dari itu, menjemput potensi baik ini pihaknya terus membenahi dan mepercntik kota. “Jalan kami perlebar, pasang lampu supaya bagus. Wisatawan nyaman ke  Batam,” kata mantan polisi ini. (cr13)

Respon Anda?

komentar