batampos.co.id – Kurangnya ketersediaan air bersih menjadi masalah utama yang masih dirasakan warga Pulau Mapur.

Pasalnya hingga saat ini, warga hanya bisa mengandalkan dua sumur yang berasal dari mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari, seperti untuk minum, mandi, dan lainnya.

“Hampir semua warga disini (Pulau Mapur, red) ngambil air bersih ya di sumur yang ada di sekolah SD, dan SMP di Kampung Deniang, yang berjarak satu Kilometer dari pusat kantor Desa,” ujar Zulkifli, Ketua RT 02, Kampung Deniang, Desa Mapur, Minggu (14/5).

Pria yang akrab disapa Amad ini menjelaskan di Desa Deniang tersebut, sebenarnya sudah sempat dibangun tiga SPAM, yang dialirkan melalui tiga danau buatan, dimana airnya berasal dari mata air.

Namun hingga saat ini ketiga SPAM tersebut belum juga bisa difungsikan.

“Padahal sudah ada SPAM yang dibangun dari pembangunan yang pertama tahun 90 hingga yang ketiga dibangun tahun 2016. Namun belum berfungsi, sehingga tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sampai sekarang,” terangnya.

Pria berumur 48 tahun ini mengakui untuk pembangunan SPAM yang ketiga, sempat airnya mengalir ke kran rumah warga selama satu bulan lebih, namun air yang dikeluarkan hasilnya kotor dan berlumpur, sehingga tidak bisa digunakan oleh warga.

“Pernah setahun lalu, hampir dua bulan airnya jalan, namun tidak maksimal karena airnya kotor. Gak tahu kenapa bisa gitu?” sebutnya.

Padahal lanjutnya semua kelengkapan pipa untuk pengaliran air sudah terpasang rapi di rumah warga.

“Kami betul-betul tak tahu apa yang menjadi kendala, sehingga SPAM yang sudah terbangun tidak berfungsi.” imbuhnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Warga Desa Deniang One, 41. Ia mengakui air bersih merupakan kebutuhan utama yang saat ini sangat diperlukan warga di desa tersebut.

“Sulit kami dapat air bersih. Itu pun kalau mau air bersih mau tak mau harus ngambil jauh dari sini,” terangnya.

Ia berharap Pemkab Bintan, bisa segera mencarikan solusi atas permasalahan air bersih tersebut, sehingga segala kebutuhan untuk aktifitas sehari-sehari warga di Desa Mapur, bisa segera terpenuhi.

“Mudah-mudahan pemerintah daerah bisa mendorong untuk segera mengupayakan agar SPAM yang sudah terbangun bisa berfungsi. Sehingga warga tidak kesulitan lagi untuk mencari air bersih,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Bintan Apri Sujadi, mengakui keterbatasan untuk ketersediaan air bersih memang menjadi kendala yang dirasakan warga Pulau Mapur saat ini.

“Saya sudah dengar langsung keluhan dari masyakat disini (Mapur, red). Benar mereka sulit mendapat air bersih,” ujar Apri, dalam kunjungan kerjanya di Pulau Mapur, Minggu (14/5).

Politisi partai Demokrat ini menuturkan keluhan warga terkait keterbasan air bersih ini, tentunya akan ditampung oleh Pemkab Bintan, untuk segera dicarikan solusinya.

“Kami akan segera rundingkan permasalah ini dengan Pemerintah Pusat. Sebab melihat letak geografis wilayahnya, Mapur ini termasuk pulau terluar, jadi untuk penyediaan air bersih, kami akan mencoba memanfaatkannya melalui dana APBN, yang termasuk dalam anggaran daerah perbatasan,” terangnya.

“Mudah-mudahan setelah nanti kami sampaikan, Pemerintah Pusat bisa cepat menanggapi ini, sehingga penyaluran air bersih untuk masyarakat Pulau Mapur bisa segera terpenuhi,” harapannya. (cr20)

Respon Anda?

komentar