Mencari Celah Mengembangkan Pariwisata di Kepri

266
Sejumlah wisatawan Mancanegara asal Singapura saat akan menikmati wahana hiburan gokar di Golden Prawn Bengkong, Selasa (16/5). kunjungan wisman ditriwulan pertama ditahun 2017 menurun dibanding tahun lalu. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Kepri masih belum menjadi sasaran utama investor di sektor pariwisata. Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Koordinasi Penanaman Modal, realisasi investasi per lokasi sejak tahun 2012 hingga 2016, Kepri masih duduk di posisi keempat dengan realisasi sebesar 8 persen dengan nilai investasi capai Rp 4,672 triliun

“Dalam lima tahun terakhir, 58 persen investasi direalisasikan di Bali dan Jakarta. Makanya pemerintah ingin mendorong investasi di ’10 Bali Baru’,” kata Direktur Perencanaan Infrastruktur dari Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal RI (BKPM RI), Heldy Putera, Selasa (16/5).

Selama 2012 hingga 2016, investor telah menanamkam modalnya di bidang pariwisaa sebesar Rp 58,406 triliun.

Realisasi terbesar ada pada investasi di bidang hotel dan restauran sebesar Rp 53,087 triliun. Kemudian investasi di bidang jasa penunjang pariwisata sebesar Rp 4,785 triliun dan terakhir investasi untuk kawasan wista sebesar Rp 534 miliar.

Sedangkan investor terbesar berasal dari Singapura dengan persentase 39 persen, kemudian British Virgin Islands dengan persentase 16 persen. Lalu Hongkong dengan 4,8 persen, Jepang dengan 2,6 persen, Korea Selatan dengan 2,2 persen dan negara lainnya sebanyak 35,4 persen.

Kepri masih kalah dengan Jawa Barat yang duduk di posisi ketiga dengan realisasi sebesar 9 persen. Bahkan jauh dibawah Bali dengan realisasi 33 persen dan Jakarta dengan realisasi 25 persen. Namun Kepri masih unggul dari Jawa Timur dengan realisasi 4 persen.

“Walau baru mencakup 8 persen nilai investasi, investasi jasa penunjang pariwisata di Kepri tumbuh pesat,” tambahnya.

Sedangkan Asisten Deputi Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah dari Kementerian Pariwisata, Tazbir mengatakan Batam sangat potensial karena punya potensi bagus dan masih harus buka banyak destinasi wisata.

“Batam punya lokasi strategis. Sehingga wisman yang datang rata-rata berasal dari Singapura dan Malaysia punya daya beli kuat,” jelasnya.

Salah satu hal yang perlu diperbaiki untuk membenahi pariwisata di Batam adalah penambahan destinasi wisata baru.”Batam, produk pariwisatanya masih belum kuat sehingga lama tinggal wisman hanya sebentar,” katanya.

Kepri menjadi penting karena dianggap oleh pemerintah pusat karena potensinya yang bisa dikembangkan bersama destinasi lainnya seperti Jakarta dan Bali.

Berdasarkan data dari Kemenpar, jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia hanya 10 persen dari jumlah wisman yang berkunjung ke ASEAN, yakni sekitar 97,22 juta wisman.

Indonesia hanya kebagian 9 juta wisman pertahunnya. Sangat jauh jika dibandingkan degnan Malaysia yang mampu meraup 27,4 juta wisman, Thailand yang dikunjungi 24,8 juta wisman dan Singapura yang dikunjngi 15,1 juta wisman pertahunnya.

Makanya pemerintah pusat terus menggenjot dunia pariwisata di Kepri dengan berbagai aksi. Salah satunya adalah dengan membranding pariwisata Indonesia dengan branding Wonderful dan Pesona Indonesia.

“Brand Wonderful Indonesia sudah dipromosikan di Eropa. Hadir sebagai tampilan luar bus bertingkat disana. Saya kira media juga penting, makanya kami promosi hingga miliaran rupiah di sana,” pungkasnya. (leo)

Respon Anda?

komentar