Yusbahar terbaring lemah didampingi istrinya Nurhandri Yenti di kediamannya jalan Pramuka Lorong Bunyu Tanjungpinang, Selasa (16/5). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Berjalan mengitari perumahan usai subuh, tak lagi dilakukan Yusbahar selama tiga bulan belakang. Kakinya melepuh, empat jarinya, telunjuk hingga kelingking, terpaksa harus dibuang demi menyelamatkan bagian kaki lainnya.

Penjual baju anak-anak di wilayah Pasar Baru Tanjungpinang ini, tak menyangka akan sakit yang dideritanya. Yusbahar beserta istri, Nurhandri Yenti tak mampu menjelaskan banyak hal akan penyakit yang merubah warna di kehidupan keluarga ini.

“Awalnya seperti kena asam urat,” terang Yenti dengan sayu di matanya. Terlihat keletihan yang coba ia usir dalam dirinya.

Di awal Februari, Yusbahar yang akrab disapa Ujang ini, diketahui memakan sayuran pecal dengan porsi yang lumayan banyak. Tepat pada malam harinya, keluhan pertama mulai ia rasakan. Kaki kirinya memanas. Ujang merintih. Menurut Yenti, kaki bapak dari lima orang anak perempuannya ini, memerah di bagian mata kaki. Dan sang suami kian merintih, saat kakinya dicoba menapak lantai.

“Akhirnya kami panggil tetangga untuk mengecek asam uratnya suami saya ini,” jelas Yenti.

Setelah diperiksakan, asam urat Ujang mencapai angka 10,5. Dari kondisi tersebut, Yenti menerangkan, tetangga yang membantu memeriksakan sempat khawatir telah terjadi pemecahan pembuluh darah.

Namun karena mengetahu kadar asam urat dalam tubuhnya tinggi, maka keduanya memilih untuk beristirahat terlebih dulu di rumah.

Akan tetapi keesokan harinya, kondisi Ujang memarah. Bengkak dari pergelangan kaki hingga ke jarinya semakin besar. Namun lembut jika ditekan. Kulitnya menipis karena bengkak.

“Jarak beberapa hari, keluar nanah dari kakinya,” sambung Yenti sembari memberikan gambaran dengan kakinya.

Dan jika telah mengeluarkan nanah, sambung dia, bengkak akan menjalara. “Begitu terus. Sampai akhirnya sekarang luka itu sampai lutut,” tutur dia.

Tak ada tanda-tanda bahwa Ujang akan membaik. Akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit. Yang akhirnya mendapatkan diagnosa awal, adanya virus yang menyerang tubuh pria berusia 56 tahun ini. Dan kemungkinan pecahnya pembuluh darah juga kembali dilontarkan di salahg satu Rumah Sakit di Tanjungpinang.

“Virus apa kami tak tahu pasti. Karena harus ke lab dulu untuk tahu nama virusnya. Karena cuma sekedar untuk tahu, kami tak mencoba ke lab. Fokuskan lagi pada pengobatan,” terang wanita yang merupakan Ketua RT di Lorong Bunyu, No 53, Jalan Pramuka ini.

Tidak ada perubahan, Ujang lantas dipulangkan. Sehingga pihak keluarga besar, menganjurkan untuk turut mencoba pengobatan alternatif. “Karena bapak juga mulai meracau,” ucap Yenti.

Ujang, selama hampir sebulan tak mengenali keluarganya. Seringkali marah jika diminta untuk istighfar. Menurut Yenti, sikap suaminya yang berubah ini juga dikarenakan pengaruh obat tidur. “Memang sama dokter dikasih dosisi tinggi. Karena bapak sempat susah tidur,” terangnya.

Namun karena lama tidak mendapatkan pengobatan medis, kaki kiri Ujang akhirnya infeksi. Sehingga merah dan juga menghitam seperti terkena luka bakar mulai dari bawah lutut hingga jari-jari kakinya. “Tidak keras bagian kulit yang menghitam itu. tapi ya memang sudah infeksi ternyata,” tutur dia.

Akhirnya Ujang kembali dirawat di rumah sakit. Namun karena tidak dapat mengetahui pasti penyebab sakitnya.Ujang kembali dirawat jalan, sembari istirahat di rumahnya.

“Jadi kakinya harus diperban rapat. Tadinya dibantu perawat perhari kami harus mengeluarkan dana untuk itu. Akhirnya belakangan saya yang urus sendiri,” papar dia.

Namun penemuan yang ada pada kaki suaminya pada Senin (15/5) kemarin, membuat Yenti bergidik dan menangisi kondisi suaminya tersebut.

“Ada sekitar 20 ekor belatung di bagian belakang kaki, dekat mata kakinya,” ucap Yenti masih tak sanggup membayangkan kejadian yang ia alami kemarin.

Sembari menangis, Yenti membersihkan belatung yang ada pada kaki suaminya itu. Dengan mencoba menghubungi warganya yang juga seorang perawat.

“Karena itu akhirnya kami percepat, untuk membawa bapak ke Padang,” katanya.

Sebelumnya, Ujang telah disarankan untuk dapat dibawa ke Jakarta atau ke Padang. Agar dapat dilakukan cangkok kulit pada bagian kaki kirinya itu. Namun karena takut akan diamputasi, dan juga biaya tanggungan yang besar. Maka keberangkatan sempat ditunda.

“Tapi sudahlah. Kalau sampai berulat macam itu. Kasihan bapak. Anak yang SD pun terpaksa nanti ujian susulan saja,” tutur Yenti.

Ia dan suami beserta dua anak yang berusia 10 dan empat tahun, berencana akan berangkat menuju Padang pada Kamis esok. Untuk mendapatkan pengobatan di Rumah Sakit M Jamil, Padang.

“Yang menjadi beban pikiran kami saat ini, adanya tanggungan anak-anak sekolah ditengah cobaan ini,”keluh ibu berusia 47 tahun ini.

Kedua putri dari pasangan yang tinggal bersebelahan dengan Masjid Babussalam ini, tengah menempuh Perguruan Tinggi. Sementara putri ketiganya duduk di bangku SMA. Dan putri keempat masih di Sekolah Dasar, sementara si bungsu masih berusia empat tahun.

“Rezeki memang pasti selalu ada. Kami berdoa saja. Sambil mengusahakn agar anak-anak bisa mendapatkan beasiswa. Terutama yang sedang kuliah ini. Jangan sampai pendidikan anak-anak putus di tengah jalan,” pungkas Yenti. (aya)

Respon Anda?

komentar