ilustrasi

batampos.co.id – Kelesuan ekonomi global berimbas ke Kepri. Industri logam dasar yang sempat menjadi tumpuan utama ekonomi Kepri kini runtuh.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) industri ini hanya bertahan lima tahun, mulai 2012 hingga triwulan pertama 2017.

“Selama lima tahun terakhir, realisasi investasi dari industri logam dasar mencapai Rp 7,967 triliun atau mencapai 25,9 persen dari realisasi investasi yang mencapai Rp 31 triliun,” ujar Direktur Perencanaan Infrastruktur dari Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal RI (BKPM RI), Heldy Putera, Rabu (17/5).

Realisasi investasi hotel dan restauran juga cukup besar di Kepri. Nilainya hampir setara dengan investasi di bidang industri, yakni Rp 6,293 triliun atau setara 20,4 persen.

Dan terakhir industri alat angkutan dan transportasi lainnya yang mencapai Rp 2,785 atau setara 9 persen.

Ketiga sektor tersebut ditinjau berdasarkan Penanaman Modal Asing (PMA). Sedangkan jika ditinjau dari sektor Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), maka industri properti baik itu perumahan, kawasan industri dan perkantoran hanya bisa terealisasi sebanyak Rp 571 miliar.

“Kemudian industri alat angkutan dan transportasi lainnya mencapai Rp 457,6 miliar. Dan terakhir sektor pertambangan dengan angka Rp 153,3 miliar,” ujarnya.

Realisasi investasi selama lima tahun tersebut telah mampu menyerap 142.659 tenaga kerja. Sedangkan jumlah proyek yang terealisasi sebanyak 2.506 proyek.

Dan jika dilihat berdasarkan negara asal investasi, ternyata urutannya sama dengan penyumbang investasi untuk sektor pariwisata.

Singapura masih menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai 1.979, 5 Juta Dolar Amerika. Disusul British Virgin Island dengan nilai 813 ,1 Juta Dolar Amerika. Kemudian Hongkong dengan nilai 243,9 Juta Dolar Amerika, Jepang dengan nilai 122,9 Juta Dolar Amerika dan Korea Selatan dengan nilai 109,8 Juta Dolar Amerika.

Sedangkan jika dilihat berdasarkan realisasi investasi per kabupaten/kota. Maka Batam merupakan kota yang paling dilirik investor asing. Karena nilai investasi di kota industri ini selama lima tahun mencapai Rp 21,423 triliun.

“Sedangkan Bintan hanya terima Rp 8,369 triliun. Dan Karimun terima Rp 2,201 triliun,” imbuhnya.

Realisasi Investasi 2017

Sementara itu, BP Batam menjadi badan yang bertanggungjawab mengelola investasi di Batam mencatat realisasi investasi hingga triwulan pertama 2017 mencapai 50,4 juta Dolar Amerika.

“Triwulan pertama 2017 ada 14 proyek dengan nilai investasi 50,4 juta Dolar Amerika. Dan untuk triwulan kedua nanti, sudah ada 10 perusahaan yang telah menyampaikan minatnya untuk berinvestasi,” kata Deputi V BP Batam, Gusmardi Bustami.

Investor-investor tersebut berasal dari Eropa seperti dari Norwegia, Italia, Prancis dan Inggris. Dan jika terealisasi maka nilai investasinya mencapai 310 juta Dolar Amerika. (leo)

Respon Anda?

komentar