Target 2017; 20.000 Homestay Desa Wisata

136
Desain bagian bawah homestay Labuan Bajo. Foto/repro: dok. kemenpar

Indonesia akan menjadi negara dengan homestay terbesar, berbanyak, dan terbaik dunia. Itulah “mimpi besar” Menpar Arief Yahya dari Rapat Koordinasi Pariwisata II/2017 yang bakal digelar di Birawa Assembly Hall Hotel Bidakara  Jakarta Selatan, 18-19 Mei 2017.

Target jumlah homestay baru di 2019 ada di angka 100.000. Tersebar di seluruh Indonesia, minimal di 10 Bali Baru, atau 10 Destinasi Prioritas yang sudah diputuskan oleh Presiden Joko Widodo. Diantaranya, Danau Toba Sumut, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu Jakarta, Borobudur Jawa Tengah, Bromo Jawa Timur, Mandalika Lombok, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Maltara.

Tahun 2017 ini ditargetkan 20 ribu, tahun 2018 ditambah 30 ribu lagi, dan tahun 2019 dibangun 50 ribu. Total 100 ribu.

“Homestay itu dikelola secara korporasi, bukan cara koperasi. Homestay ini dijalankan dengan mesin baru, model bisnis baru, berbasis pada digital yanh saya sebut digital  sharing economy,” kata Arief Yahya.

Mimpi besar itulah yang akan di-Rakornas-kan, dengan spirit “Indonesia Incorporated.” Rakornas Pariwisata inilah untuk memperkuat sinergitas semua elemen dalam mewujudkan target nasional pariwisata khususnya pembangunan homestay desa wisata sebagai Top 3 program Kemenpar 2017. Selain Go Digital dan Air Connectivity. Persis dengan   tema rakornas II/2017: “20.000 Homestay Desa Wisata 2017”.

Rakornas itu akan dibuka dan sekaligus  keynote speech oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjodjo, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  (PUPR) Mochamad Basoeki Hadimoerlyono.

Menpar Arief Yahya mengatakan, program homestay desa wisata yang dilaksanakan mulai tahun ini merupakan kontribusi Kemenpar terhadap pendukungan program satu juta rumah terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang dibuat Kementerian PUPR.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, pembangunan homestay mempunyai nilai strategis. Terutama untuk memperkuat unsur Amenitas dalam teori 3A (Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas)-nya Menpar Arief. Selain 10 Bali Baru, juga di Banyuwangi Jatim, Mandeh Sumbar, Bali dan Makassar.

“Pengelolaan homestay dengan platform digital sharing economy adalah the only choice, karena kalau kita tidak melakukannya, kita pasti  habis terdisrupsi oleh pengelola homestay yang menggunakan platform digital. Kalau kita tidak melakukannya, maka orang lain yang akan melakukannya dan kita tergilas,” sebutnya.

Kunci sukses dalam mengembangkan homestay desa wisata, menurut Menpar Arief Yahya, adalah sinergi Kemendes dan Kemenpar yang didukung oleh aksesibilitas, amenitas, promosi, SDM dan kelembagaan dengan penguatan jejaring antar industri; pengelolaan destinasi; penguatan capacity building SDM di bidang hospitality; entrepreneurship;  serta penguasaan bahasa asing.

Konsep pengembangan wisata pedesaan dan perkotaan mengacu pada  Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010 – 2025; sebagai  daya tarik wisata budaya (culture tourism) antara lain wisata perkotaan dan pedesaan, selain itu wisata sejarah dan religi serta kuliner, seni dan tradisi.

Indonesia memiliki 74.745 desa yang tersebar di seluruh wilayah Tanah Air. Dari jumlah desa yang ada tersebut, sebanyak 1.902 berpotensi untuk dikembangkan sebagai desa wisata yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata untuk dikunjungi wisatawan; wisman dan wisatawan nusantara (wisnus). Sementara itu target pariwisa tahun 2019 sebesar 20 juta wisman, diharapkan yang mengunjungi wisata pedesaan sebanyak 2 juta wisman  dan wisata perkotaan sebanyak 2,5 juta.

Rangkaian kegiatan Rakornas Pariwisata II-2017 antara lain diisi dengan diskusi/workshop seputar percepatan target pembangunan 20.000 homestay tahun ini dengan tema bahasan antara lain; legalitas lahan, skema pendanaan, skema pengelolaan homestay desa wisata serta kisah sukses (succes story) pengelolaan desa wisata; Desa Dieng Kulon, Desa Pemenang Barat, Desa Songgon, Desa  Panglipuran, Asosiasi Pondok Wisata Ubud, dan Kampun Sampireun.

Selain itu dilakukan penandatangan kerjama (MoU) dengan beberapa instansi terkait serta lembaga pemerintah dan non-pemerintah.  Rakornas Pariwisata II-2017 diikuti sekitar 500 peserta dari kalangan akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah dan media (pentahelix) serta menghadirkan sejumlah pembicara di antaranya  Rhenald Khasali  yang menyampaikan paparan dengan tema “Paradigma Digital  Disruption.” (*)

Respon Anda?

komentar