Warga sedang memilih daging di Pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji, Senin (8/5). Harga daging beku masih normal menjelang bulan puasa Rp 80.000. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id –  Jelang Ramadhan, DPRD Kota Batam berencana memantau harga bahan pokok di sejumlah pasar tradisional.

“Kami baca di media harga sembako sudah dijual di atas harga eceran tertinggi (HET). Kenaikan ini jelas membebani masyarakat, guna memastikan harga kita lakukan sidak,” ujar Wakil Ketua Komisi II DPRD Batam, Sallon Simatupang, Kamis (18/5).

Dalam sidak nanti, pihaknya mengaku akan menggandeng Dinas Perindustrian, Perdagangan (Disperindag) Kota Batam. Sidak tersebut akan dilakukan berkelanjutan, sehingga pemerintah dan legislatif bisa mengontrol harga di pasaran.

“Saya juga sudah usulkan tahun ini diberlakukan lagi monitoring harga di seluruh pasar,” tuturnya.

Termasuk juga, kata Sallon menyediakan timbangan oleh Pemko Batam di masing-masing pasar. “Ini inisiatif saya, masyarakat yang tidak mempercayai bisa nimbang sendiri di timbangan ini,” tutur politisi Nasdem tersebut.

Uba Ingan Sigalinging, anggota DPRD Batam mengaku posisi harga sudah ada standarisasi harga tertinggi. Tinggal bagaimana pemerintah, dalam hal ini disperindag mengontrol dan mengecek harga tersebut di pasaran.

“Kalau hanya alasan mau lebaran atau listrik naik saya pikir gak ada korelasi sembako naik,” tegasnya.

Disini perlu adanya jaminan kepada masyarakat, bahwa pemerintah sebagai regulator memiliki kemampuan pengawasan dan sekaligus mengontrol harga. Sidak sendiri kata Uba, harus dimulai dari sekarang dan dilakukan secara berkelanjutan.

“Harus bisa dikendalikan. Sebab, kalau ini tak bisa tingkat inflasi akan gila-gilaan,” tuturnya.

Seperti diketahui, sejumlah sembako sudah mulai merangkat naik jelang ramadhan. Bawang putih misalnya, di pasar Mitra Raya dijual dengan harga Rp 50 ribu perkilo. Padahal HET sendiri hanya sebesar Rp 38 ribu perkilonya.

Begitu juga komoditas daging ayam. Pedagang daging Idris mengatakan secara bertahap kenaikan sudah terjadi dua minggu terakhir dari Rp 25 ribu menjadi Rp 35 perkilo.

“Panen ayam kurang, kebutuhan naik makanya (harga) naik juga,” ucapnya. (rng)

 

Respon Anda?

komentar