THM Diberlakukan Buka Tutup

batampos.co.id – Bupati Karimun Aunur Rafiq memastikan, selama bulan suci Ramadan, bagi pelaku usaha hiburan kepariwisataan tetap diberlakukan buka tutup Tempat Hiburan Malam (THM) sesuai Peraturan Daerah (Perda) no 2 tahun 2011 tentang penyelenggaraan usaha kepariwisataan.

Pada Perda tersebut diatur buka tutupnya THM saat hari besar keagamaan seperti bulan suci Ramadan dan Lebaran idul fitri.

”Seperti tahun-tahun sebelumnya. Bagi pelaku usaha hiburan harus mematuhi Perda yang sudah berlaku dan selama ini tidak ada kendala,” ungkap Bupati beberapa waktu lalu.

Sementara Ketua DPW Laskar Melayu Bersatu (LMB) Kepri Datuk Azman Zainal, ketika dimintai tanggapannya mengatakan, secara umum alangkah baiknya tempat-tempat hiburan maupun panti pihak supaya tidak beroperasi selama bulan suci Ramadan. Sedangkan, tempat kedai kopi maupun rumah makan dipersilahkan buka seperti biasa.

”Saya lebih setuju tempat hiburan maupun panti pijat tutup total. Jangan ada alasan, karyawan tidak dapat makan atau berbagai alasan. Yang jelas selama 11 bulan mereka sudah untung cukup banyak,” jelasnya, kemarin (19/5).

Masih kata Azman lagi, seperi di Kabupaten Karimun, para wakil rakyat seharusnya sudah melakukan revisi Peraturan Daerah (Perda) no 2 tahun 2011 tentang penyelenggaraan usaha kepariwisataan yang mengatur buka tutupnya Tempat Hiburan Malam (THM) saat hari besar keagamaan seperti bulan suci Ramadan dan Lebaran.

Sebab, sudah jelas di Perda tersebut pasal 6 poin 2 berbunyi pimpinan penyelenggara usaha pariwisata dilarang titik dua huruf e, menjalankan (mengoperasikan) kegiatan usahanya pada hari-hari besar keagamaan khususnya untuk usaha pariwisata seperti kelab malam, diskotek, karaoke, Pub, Panti Pijat, Panti Mandi uap (Sauna) kecuali Hotel berbintang yang merupakan fasilitas hotel sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan diperuntukan bagi tamu hotel.

”Sebenarnya ini kasus klasik setiap tahun ada pro dan kontra menjelang puasa. Dan di huruf selanjutnya cukup rancu, boleh beroperasi di tiga hari awal, tiga hari pertengahan bulan suci Ramadan dan satu hari sesudah hari Raya Idul Fitri. Kan, aneh Perda ini,” keluhnya.

Ditambah lagi kata Azman, belum lagi kucing-kucing para pengusaha hiburan tersebut. Dan setiap tahunnya, ada juga gejolak ditengah-tengah masyarakat yang ujungnya tidak pernah ada solusi terbaik. Ini berarti Perda tersebut, sudah selayaknya dilakukan revisi supaya jelas aturannya.

”Ketika si pengusaha hiburan ketangkap basah. Tidak ada sanksi terhadap mereka, pada di Perda tersebut sudah jelas-jelas pada pasal 22 ayat 1 dinyatakan dapat diancam pidana kurungan selama 6 bulan dan atau denda setinggi-tingginya Rp50 juta,” ungkapnya. (tri)

Respon Anda?

komentar