Batam memang tidak mempunyai lahan pertanian, tapi sekelompok pelajar SMAN 1 Batam justru terinspirasi dan berhasil menciptakan inovasi alat penyemprot pertanian yang dinamai mereka PPAP.

Di kalangan remaja istilah PPAP tidak asing lagi. Ia adalah singkatan dari Pen-Pinepaple-Apple-Pen, lagu yang dinyanyikan oleh musisi dan komedian Jepang, Kazuhiko Kosaka atau yang populer dipanggil Piko-Taro, yang diunggah di situs YouTube dan viral di dunia maya.

Namun, di tangan tiga pelajar SMAN 1 Batam, PPAP adalah sebuah inovasi baru di bidang pertanian. PPAP bisa digunakan untuk membantu pekerjaan para petani dalam menyemprotkan pupuk di sawah mereka yang berhektare-hektare luasnya.

Bagi Elcity, sebuah kelompok kreatif yang diisi Dimas Ardyaridatama Rayhan, Hendrik, dan Andre Pratama Situmorang, PPAP adalah singkatan dari Penyemprot dan Pengisi Alternatif Pertanian. PPAP ciptaan mereka tidak viral di dunia maya, tapi jadi hits di kalangan finalis Kompetisi Eureka 2017 Institut Teknologi Bandung (ITB). PPAP mengantar Elcity meraih juara satu dalam kompetisi riset teknologi bergengsi tersebut.

Kompetisi RBL Eureka adalah sebuah kompetisi berbasis Reseacrh Based Learning (RBL) yang diselenggarakan bagi siswa SMA sederajat se-Indonesia. Kompetisi ini merupakan kompetisi penciptaan produk sederhana melalui kegiatan RBL yang didasari atas karsa dan nalar dengan memanfaatkan konsep-konsep fisika serta dimaksudkan untuk menjawab berbagai macam permasalahan yang berkaitan dengan isu terkini.

Kompetisi ini bersifat konstruktif dan harus mampu menghasilkan suatu model barang atau prototipe dan sejenisnya hasil kreasi dan inovasi sendiri, atau dapat berupa pengembangan serta penyempurnaan produk terancang sebelumnya.

Melalui inovasi PPAP, petani tidak perlu lagi menggendong alat semprot pupuk sambil mengitari setiap jengkal area persawahan atau perkebunan yang hendak ditebari pupuk. Petani bisa langsung mendorong PPAP saja, cairan berisi pupuk cair bisa langsung tersiram searah dengan jalur dorongan PPAP tersebut.

“Kami juga mendesain PPAP agar bisa didorong dan ditarik saat digunakan,” kata anggota Elcity, Hendrik.

Dengan konsep fisika sederhana, PPAP dirancang sangat ramah lingkungan. Alat ini disematkan tenaga listrik yang berasal dari energi surya, sehingga PPAP lebih ringan ketika didorong oleh petani.

“Selain itu, pupuk cair yang berada dalam jeriken juga otomatis bisa dipompa  dan mengalir dari wadah pipa yang membentang di alat PPAP,” jelas Hendrik.

Menyerupai gerobak sorong, PPAP didesain lebih ramping dengan rangka besi dan satu roda sebagai komponen utamanya. Di atasnya terdapat jeriken yang dapat menampung air hingga 15 liter. Pada bagian mesinnya, mereka menempatkan panel surya untuk mengalirkan air dari jeriken ke pipa yang terbentang sepanjang alat PPAP tersebut.

“Tujuannya karena mengefisienkan tenaga dan waktu petani ketika menyiram pupuk cairnya,” kata anggota Elcity yang lain, Dimas Ardyaridatama Rayhan.

Tidak mudah membuat PPAP ini, karena mereka harus terus mengalami kegagalan dalam hal power supply.

“Kami sempat menggunakan dinamo tapi ternyata tenaga yang dihasilkan tidak stabil. Akhirnya kami memilih menggunakan solarcell (tenaga surya),” jelas Andre Pratama Situmorang.

Setelah dianggap sempurna, ketiganya langsung membuat laporan akhir untuk Kompetisi Eureka 2017. Dalam grand final di Kampus ITB pada 4 Februari lalu, mereka mendapatkan kesempatan membeberkan inovasi yang telah mereka ciptakan.

“Dalam penjurian tersebut, alat yang kami buat ukurannya lebih besar ketimbang peserta yang lain dominan prototype saja,” kata Andre.

Andre mengingat kembali sebelum penjurian, kegalauan melanda ketiganya ketika sampai di Kampus ITB. Panitia menyatakan alat yang telah diciptakan silakan dibawa masing-masing terlebih dahulu. “Kami saling lirik saja, karena peserta lain tinggal dengan entengnya mengangkat prototype mereka masing-masing. Sementara kami harus membongkar kembali alat yang telah kami tunjukkan ke panitia,” ungkap remaja kelahiran Bekasi ini.

Perjuangan mereka nyatanya tidak sia-sia. Elcity berhasil mendapatkan juara 1 dalam Kompetisi Eureka 2017. “Kami berhasil mendapatkan trofi, sertifikat dan beasiswa pendidikan sebesar Rp 7 juta,” sebutnya.

“Alhamdulilah, kami sangat bangga menjadi perwakilan Kepri, khususnya Batam yang notabenenya tidak mempunyai lahan pertanian. Tidak adanya pertanian di Batam bukan berarti kita berhenti berinovasi,” ujarnya.

Mendengar prestasi yang telah ditorehkan oleh para siswanya, M Chaidir, Kepala SMAN 1 Batam sangat bangga. “Inovasinya sangat menginspirasi. Dimana Batam tidak mempunyai lahan pertanian, tapi mereka bisa ciptakan alat penyemprot dan pengisi alternatif pertanian,” kata Chaidir.

Ia berharap ada apresiasi dari pemerintah atas keberhasilan para anak Batam yang berprestasi.

“Batam sebenarnya tidak kekurangan pelajar berprestasi tapi perlu apresiasi lebih untuk mengekspose mereka agar tampil lebih percaya diri. Sekolah sendiri sangat mendukung apapun yang siswanya lakukan selama hal tersebut bernilai positif,” katanya.
(WAHYUDIN NUR, Batam)

Respon Anda?

komentar