Mengenal Sosok Harun Tahir, Pahlawan RI yang Gugur di Singapura

327

Pembaca batampos.co.id, sejenak marilah kita berkenalan lebih dekat dengan Kopral Dua Korps Komando Operasi (KKO) Anumerta Harun Tahir.

Namanya diabadikan sebagai KRI Usman-Harun dan Lapangan Terbang Harun Tahir Bawean.

Dia gugur di tiang gantung Singapura setelah mengemban misi konfrontasi Indonesia-Malaysia yang memanas.

Ibundaku yang dikasihani, surat ini berupa surat terakhir dari Ananda Tohir. Ibunda, sewaktu Ananda menulis surat ini hanya tinggal beberapa waktu saja Ananda dapat melihat dunia yang fana ini.

Pada tanggal 14 Oktober 1968, rayuan ampun perkara Ananda kepada Presiden Singapura ditolak. Jadi, mulai dari hari ini Ananda hanya tinggal menunggu hukuman yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 1968. Hukuman yang akan diterima oleh Ananda adalah hukuman digantung sampai mati. Di sini Ananda harap kepada Ibunda supaya bersabar karena setiap kematian manusia adalah rida siapa yang boleh menentukan, satu-satunya yang menentukan ialah Tuhan Yang Mahakuasa.

Dan setiap manusia yang ada di dalam dunia ini akan kembali kepada Ilahi. Mohon Ibunda ampunilah segala dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan Ananda selama ini. Sudilah Ibundaku menerima ampun dan salam sembah sujud dari Ananda yang terakhir ini, tolong sampaikan salam kasih mesra Ananda kepada seisi kaum keluarga.

Ananda tutup surat ini dengan ucapan terima kasih dan selamat tinggal untuk selama-lamanya, Amin.

Itu adalah isi surat terakhir Tahir bin Mahdar yang ditulis untuk sang ibu, Aswiyani.

Dia menulis surat tersebut di penjara Changi tiga hari sebelum dieksekusi. Tangis ibunya pecah. Tak pernah terbayang putra ketiganya gugur dengan cara itu.

”Shock. Sampai Embah bilang, jangan sampai anak cucunya jadi tentara lagi,” ujar keponakan Tahir, Muhammad Salim, di rumahnya di Desa Diponggo, Bawean, Jumat (5/5).

Wajar bila Aswiyani bilang begitu. Emosinya saat itu sedang memuncak. Dia tidak tahu bahwa Tahir menjadi tentara. Dia hanya pamit bekerja sebagai mualim pelayaran. Sebagai orang Bawean, merantau memang sudah menjadi pilihan hidup.

Tahir menjadi satu di antara tiga prajurit pilihan yang mendapat tugas misi balas dendam. Misi pengeboman di Singapura dilakukan atas balasan serangan speedboat milik tentara Indonesia oleh kapal penyapu ranjau yang tergabung dalam South Asia Treaty Organization (SEATO), Desember 1964.

Kala itu, konfrontasi Indonesia-Malaysia memanas saat Persekutuan Tanah Melayu hendak menggabungkan Brunei Darussalam, Sabah, dan Sarawak ke Federasi Malaysia. Hal tersebut tidak sesuai dengan Persetujuan Manila yang ditandatangani pada 5 Agustus 1963.

Karena kejadian itu, pemerintah Singapura dan Malaysia menganggap dua prajurit tersebut sebagai teroris. Namun, di mata Indonesia, keduanya adalah pahlawan.

Jasadnya disambut besar-besaran pada 17 Oktober 1968. Keduanya lalu dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Muhammad Salim berpose bersama foto pamannya, Harun Tahir. Anggota KKO itu gugur di tiang gantungan setelah tertangkap dalam misi di Singapura. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Pada 1966, semasa kepemimpinan Presiden Soeharto, ketegangan antarnegara tetangga itu mereda. Soeharto menandatangani perjanjian damai di Kuala Lumpur.

Seiring berjalannya waktu, keluarga mengikhlaskan kepergian Tahir. Dia gugur membawa nama baik keluarga dan berjasa bagi negara.

Salim tidak pernah bertemu sosok Tahir. Dia baru lahir dua tahun setelah pamannya itu dieksekusi. Ibu Salim, Asiyah, adalah adik Tahir. Dia banyak menceritakan bagaimana nakalnya Tahir saat masih bocah hingga remaja.

Tahir kecil paling sulit disuruh mengaji. Padahal, jarak masjid dengan rumah sangat dekat. Bila sudah ngamuk, dia bersembunyi di kuburan di atas bukit. Bahkan, sampai bermalam di sana. Dia memang dikenal sebagai bocah yang tak kenal takut. Mungkin karena jiwa pemberani itulah, Tahir pantang mundur saat ditunjuk sebagai tim khusus untuk melaksanakan misi pengeboman di Singapura pada 10 Maret 1965.

Tahir ditangkap bersama Serda KKO Anumerta Usman Janatin setelah mengebom McDonald House di Orchard Road, Singapura. Kapal karet yang ditumpangi mereka berdua terkena razia patroli polisi laut Singapura tiga hari setelah peledakan.

Aparat keamanan setempat memang melakukan operasi pengamanan besar-besaran tiga hari setelah ledakan. Nyaris tidak ada celah untuk kabur meski hanya selubang jarum.

Kenakalan Tahir kecil tidak berhenti di situ. Dia juga pernah ketahuan mencuri padi di Desa Kepuh Teluk, Desa sebelah. Namun, padi itu tidak dia bawa pulang atau dimakan sendiri. Melainkan, dibagi-bagikan kepada fakir miskin di Pulau Putri, sebutan lain Bawean. Tampaknya, dia terinspirasi kisah Sunan Kalijaga.

”Wah, gara-gara itu, dia sampai dirantai,” ucap Salim lalu meringis sambil geleng-geleng kepala.

Di rumah Salim terpampang pigura dengan lukisan wajah Tahir. Pria berkumis tipis itu mengenakan baret di kepalanya. Terlihat tulisan KKO di sebelah kiri baju hijau dorengnya. Di sebelah kanan terpampang nama Harun. Di bawah pigura itu, ada juga foto KRI Usman-Harun yang sedang menerjang ombak.

Harun sejatinya nama samaran. Saat menyamar sebagai warga sipil di Singapura, nama asli Tahir bin Mahdar diganti dengan Harun bin Said.

Saat peresmian KRI Usman-Harun pada awal 2014.

Salim diundang. Saat itu, ketegangan Indonesia dan Singapura sempat kembali memanas. Singapura protes karena nama kapal tersebut dianggap sebagai provokasi.

Namun, pihak keluarga menganggap penamaan kapal tersebut lumrah saja. Sebab, keduanya gugur dalam tugas negara. Karena itu, negara berhak menobatkan keduanya sebagai pahlawan.

Selain foto, salah satu peninggalan pahlawan yang lahir pada 14 April 1943 itu adalah rumah tinggal. Letaknya hanya sepelemparan batu dari rumah Salim. Deretan bangunan di atas bukit tersebut menjadi kompleks rumah keluarga besar.

Salim lalu membuka gembok pagar bangunan selebar 8 meter sore itu. Rumah berwarna dominan putih tersebut tidak ditempati. Di situ terdapat dua pintu masuk. Yang sebelah kiri mengarah ke ruang tamu. Satu lagi langsung mengarah ke dapur.

Kami masuk dari pintu ruang tamu. Hawa pengap langsung merasuk ke paru-paru. Sudah lama rumah itu tidak dikunjungi. Beberapa kelelawar terlihat beterbangan di dalam rumah. Hewan nokturnal penghuni rumah tersebut kaget dengan kedatangan kami.

Terdapat amben kayu di ruang tamu itu. Bagian atasnya dilapisi anyaman bambu. Dahulu ruangan tersebut dijadikan tempat berkumpul keluarga atau para tamu. Di ujung kanan ruang ada beberapa guci tua yang terlihat masih utuh. Memang banyak guci kuno yang ditemukan di Diponggo.

Ada dua pintu kamar yang terhubung dengan ruang tamu. Terdapat dipan tanpa kasur di kamar tersebut.

”Kalau kamarnya Pak Tahir, saya kurang tahu. Bisa tidur di mana saja,” ujar ayah tujuh anak itu.

Dinding rumah putih bersih. Tampaknya baru saja dicat. Salim menceritakan bahwa akhir tahun lalu rombongan Korps Marinir melakukan kerja bakti di sana. Mereka mengecat dinding rumah itu.

”Sebelumnya hanya cat kapur. Sudah kotor pula,” ujar Salim yang juga menjadi kepala desa Diponggo.

Ada rencana rumah tersebut bakal dijadikan diorama. Selain itu, ruangan-ruangan yang kosong bisa jadi tempat menginap para tamu yang berkunjung ke Diponggo. Terutama bagi keluarga Marinir yang sering berkunjung.

Di bagian belakang rumah terdapat dapur yang dahulu digunakan keluarga Tahir. Masih memakai tungku kayu. Sementara itu, pintu belakangnya terhubung dengan pekarangan. Tempat itu dahulu menjadi penyimpanan kayu bakar.

Sebagai ahli waris, Salim mempersilakan Korps Marinir untuk memanfaatkan rumah tersebut. Keluarga bakal sangat senang melihat jasa Tahir diabadikan di tempat tinggalnya dulu. Masyarakat Diponggo dan Bawean juga pasti bangga bahwa prajurit gagah berani itu pernah tinggal di tanah yang sama, tanah Bawean. (*/c6/dos)

Respon Anda?

komentar