Berkunjung ke Kunyang, Kampung Halaman Cheng Ho

AIR di panci besar itu mendidih dan mengeluarkan bau harum daging sapi pilihan. Ditambah dengan sayur yang baru saja dimasukkan, aroma membuat perut terasa lapar. Memesan daging 0,5 kg untuk empat orang, kami tak butuh waktu lama untuk menandaskan hidangan tersebut. Apalagi, kami baru saja naik dan turun Gunung Yuesan mengelilingi Taman Nasional Cheng Ho.

Sajian itu dikenal sebagai hotpot. Yakni panci besar yang berisi air mendidih, kemudian pembeli tinggal memilih daging dan sayuran untuk dimasukkan ke dalamnya. Tunggu sebentar, lalu santap. Itu adalah pilihan makanan yang sangat terkenal di seantero Tiongkok.

Tapi, khusus pagi itu, kami memilih makan di hotpot paling terkenal di Kunyang. Hotpot sapi Maji Kunyang. Restoran halal yang pemiliknya muslim.

“Tiap hari setidaknya saya habis 3 kuintal daging sapi,” kata Ma, bos restoran tersebut. Omzet yang lumayan untuk sebuah restoran di kota kecamatan berpenduduk 84.178 jiwa itu.

Status Kunyang sekarang adalah kota kecamatan (ibu kota Kabupaten Jinning). Persis seperti Wonosari di Gunungkidul. Namun dengan tingkat kemajuan yang berbeda.

Data 2016 menunjukkan bahwa pendapatan per kapita penduduk Kunyang adalah CNY 40 ribu (sekitar Rp 80 juta) atau sekitar Rp 6,2 juta per bulan. Dari total penduduk tersebut, lebih dari separo atau tepatnya 44.942 bekerja di sektor agrobis alias menjadi petani.

Dengan tanah yang lumayan subur dan iklim yang dingin, Kunyang cocok untuk budi daya teh, bunga, sayur-sayuran, dan tanaman pangan. Sebagai salah satu provinsi yang disebut kerajaan teh di Tiongkok, lereng gunung itu dikenal sebagai salah satu penghasil teh di Yunnan.

Penduduk kota memang bangga dengan Cheng Ho. Mereka juga sangat senang dengan adanya Taman Nasional Cheng Ho. Namun, Kunyang tetap saja tak lepas dari masalah yang dihadapi banyak kota kecamatan lainnya. Yakni, banyak penduduk mudanya yang pindah ke kota yang lebih maju. Utamanya ke Kunming, yang berjarak sekitar 70 km dari Kunyang.

Makam Ma Hazhi, ayah Cheng Ho, di area Taman Nasional Cheng Ho, Kunyang, Yunnan. (BOY SLAMET/JAWA POS)

“Komunitas muslim memang masih ada, tapi tidak banyak,” kata pemandu saya yang juga mahasiswa jurusan bahasa Indonesia Xu Meilan.

Menurut Xu, kehidupan komunitas muslim justru lebih semarak di Kunming ketimbang di Kunyang.

“Di Kunming setidaknya ada lebih dari 70 ribu muslim,” ungkapnya.

Dengan total penduduk Kunming sekitar 700 ribu orang, jumlah itu mencapai 10 persen sendiri. Itulah sebabnya, mudah ditemui restoran dengan sertifikasi halal di Kunming.

Yang tersisa soal Cheng Ho dari Kunyang adalah Taman Nasional Cheng Ho saja. Soal Islam dan komunitas muslim, justru lebih mudah menemukannya di Kunming. “Soal Cheng Ho, memang sebenarnya tidak banyak yang bisa dilacak jejaknya di sini. Lebih banyak di Nanjing,” kata Yang Liyun, staf pengelola Taman Nasional Cheng Ho.

“Setelah menjadi laksamana, memang sempat beberapa kali (Cheng Ho) ke Kunyang. Namun lebih bersifat memugar makam bapaknya. Bukan membuat komunitas,” tambahnya. (KARDONO S , BOY SLAMET dari Kunyang, Yunnan)

Respon Anda?

komentar