Pasca Dikebiri, Nasib Cheng Ho Berubah

466

Kunyang merupakan salah satu kawasan di Tiongkok yang paling nyaman ditinggali. Alamnya indah, cuacanya sejuk, dan dekat dengan salah satu danau terluas di dunia, Danau Dianchi. Di kawasan inilah tujuh abad silam peristiwa yang mengubah jalan hidup Cheng Ho terjadi.

Ya, pada 1381 terjadi penyerbuan oleh tentara Dinasti Ming terhadap penguasa Dinasti Yuan. Ayah Cheng Ho, Ma Hazhi (Haji Muhammad) yang menjadi pejabat pemerintah Dinasti Yuan di Kunyang, menjadi pihak yang kalah. Pembersihan terhadap tentara dan pengikut Dinasti Yuan terus dilakukan.

”Pasukan Ming terus mencari tentara Yuan yang bersembunyi atau orang-orang yang membantu tentara Yuan,” kata Yang Liyun, staf pengelola Taman Nasional Cheng Ho.

Dalam literatur Mandarin yang dimiliki Yang, Cheng Ho ditangkap tentara Ming pada 1381. Caranya pun luar biasa.

”Zheng He (Cheng Ho) sejak kecil sudah sangat berani,” papar Yang.

Ketika itu, jenderal Ming yang bernama Fu Youde yang memimpin pasukan untuk mencari tentara Yuan berpapasan dengan Cheng Ho kecil di pinggir jalan. Iseng, Jenderal Fu bertanya: ”Kamu tahu tempat sembunyi orang Mongol atau pengikutnya?”

Cara menjawab dan jawaban Cheng Ho membikin Jenderal Fu keki. ”Cari di danau sana. Mereka pada nyemplung ke sana,” ujarnya.

Marah, Jenderal Fu langsung memerintah tentaranya untuk menangkap Cheng Ho kecil.

Museum Presidential palace di kota Nanjing Provinsi Jiangsu, China 28/5/2017. Museum ini merupakan pusat pemerintahan pada abad ke 17 sebelum pindah ke Beijing (BOY SLAMET/JAWA POS)

Pada titik itulah nasib Cheng Ho berubah. ”Dia mengalami penderitaan yang berat,” ungkap Yang. Sebab, pada masa itu, tentara Ming di Yunnan memberlakukan dua hal. Yakni, membunuh seluruh pria dewasa yang menjadi prajurit dan mengebiri anak laki-laki untuk dijadikan kasim.

Pada usia 10 tahun, kelamin Cheng Ho dipotong. Konon, dia menaruh potongan ”pao”-nya itu di dalam sebuah peti kecil khusus dan selalu membawanya ke mana-mana. Dia percaya bahwa dirinya harus menjadi orang besar, memberi budi besar, dan kemudian mati sebagai orang baik.

”Dia percaya, di akhirat nanti, dengan pahala yang dibawanya, dia dapat kembali menjadi seorang pria normal,” kata pakar Cheng Ho asal Inggris, Gavin Menzies, dalam bukunya, 1421: Ketika China Menemukan Dunia.

Namun, takdir membawanya ke tempat yang lebih baik. Alih-alih ditempatkan di Istana Raja Yu Zhuanzang, Cheng Ho ditempatkan di istana putra Yu, Zhu Di. Saat itu Zhu Di berusia 21 tahun.

”Ini penting karena ada perbedaan antara Kaisar Yu dan Pangeran Zhu dalam memperlakukan hambanya,” kata Yang.

Kaisar Yu yang berjuluk Kaisar Hong Wu lebih suka membuat kasim-kasimnya terbelakang, buta huruf, serta tidak berpendidikan. Hal itu berbeda dengan kebijakan Zhu Di. Sang pangeran sangat memperhatikan kasim-kasimnya. Tidak hanya menyekolahkan, dia memantau bakat masing-masing kasim, kemudian menyuruh mereka mengembangkannya.

Semua kasim yang diangkut dari seluruh Tiongkok, termasuk Cheng Ho, dibawa ke Nanjing. Di ibu kota Tiongkok yang telah dibangun Dinasti Wu pada 456 SM itulah semua administrasi pemerintahan dilakukan. Termasuk penyortiran kasim.

Istana itu terus digunakan hingga zaman Tiongkok modern. Termasuk menjadi pusat perlawanan terhadap Jepang yang dikobarkan pahlawan Tiongkok dr Sun Yat Sen. Karena itu, bangunan tersebut mengalami beberapa kali modernisasi.

Di tempat tersebut, bakat dan kemampuan Cheng Ho langsung terlihat. Bentuk fisiknya memang sudah mencuri perhatian. Ketika dewasa, penggambaran fisik Cheng Ho seperti ini. Tubuhnya setinggi lebih dari 2 meter, pinggangnya sebesar pohon, suaranya memekakkan telinga seperti bel, hidungnya kecil, dan tatapannya tajam. Berat badannya mencapai 100 kg dengan langkah seperti ”harimau”.

Selain fisiknya, Cheng Ho terlihat menonjol dalam kelas seni perang dan diplomasi. Itulah yang membuat Zhu Di merasa suka sehingga menjadikannya orang kepercayaan. Mulai saat itu, Cheng Ho dan Zhu Di menjadi sahabat karib dan saling memercayai hingga ajal mereka tiba. (ano/c5)

Respon Anda?

komentar