Suasana Presidential Palace (Istana Kepresidenan) Nanjing pada Minggu siang (28/5) sangat ramai. Lebih dari 500 orang memadati empat loket pembelian tiket. Mayoritas berasal dari Nanjing. Sisanya adalah rombongan dari luar kota.

Masyarakat Nanjing memang tengah libur panjang. Hampir semua tempat wisata di kota yang luasnya 10 kali lipat luas Jakarta (Jakarta seluas 661 km2, sedangkan Nanjing 6.500 km2) itu ramai pengunjung. Terutama Istana Kepresidenan yang menjadi istana bagi enam dinasti awal kekaisaran Tiongkok.

Di Istana Kepresidenan itu pula sejarah yang membentuk takdir Cheng Ho terjadi. Juga, kelak di kota itulah Cheng Ho paling banyak menghabiskan waktu.

”Selama di Tiongkok, Nanjing boleh dibilang home base Cheng Ho,” kata Ian Hudson, tangan kanan Gavin Menzies, penulis buku terkenal Cheng Ho, 1421, melalui e-mail. ”Tidak di Kunyang, tidak di Beijing. Tetapi Nanjing,” imbuhnya.

Bermula ketika kaisar pertama Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, berhasil merebut Nanjing pada 1368 dan mengalahkan kaisar terakhir Dinasti Mongol Yuan, Toghon Temur. Sebagai anak kaisar, Zhu Di berhasil membuktikan dirinya sebagai pria tangguh dengan ikut serta menghancurkan bangsa Mongol di tanahnya sendiri.

Seusai kampanye penaklukan itu, Zhu Di mendapat penempatan di Ta-Tu, lalu mengganti namanya dengan Beijing. Tentu saja, saat itu Cheng Ho sudah menyertainya. Baik sebagai sahabat maupun kasim yang paling dipercaya.

Pada 1387, perangai Kaisar Zhu Yuanzhang makin aneh. Terutama setelah kematian anak pertama dan ketiganya (Zhu Di adalah anak kedua). Dia menyingkirkan banyak orang, termasuk para jenderal militernya, dengan alasan yang tak jelas. Banyak perwira militer yang dituding berkhianat, lalu dihukum pancung.

Museum Presidential palace di kota Nanjing Provinsi Jiangsu, Tiongkok (28/5). Museum itu merupakan pusat pemerintahan pada abad ke 17 sebelum pindah ke Beijing.

Termasuk kepada Zhu Di. Kaisar yang berjuluk Hong Wu itu bahkan menganggap Zhu Di sebagai orang Mongol. Ketika akan meninggal pada 1398, Zhu Yuanzhang menunjuk Zhu Yunwen, keponakannya, sebagai kaisar. Zhu Yunwen ini meneruskan program aneh Zhu Yuanzhang dan mengirimkan banyak pembunuh bayaran ke Beijing untuk menghabisi Zhu Di.

Terjepit, Zhu Di yang ditemani Cheng Ho meninggalkan istananya dan selama beberapa bulan hidup sebagai gelandangan di jalanan Beijing. Tidur di selokan dan siangnya menelusuri jalanan Beijing. Tentu untuk melihat situasi dan menghindari sekaligus merencanakan serangan balasan kepada para pembunuh bayaran itu.

Tepat pada saatnya, Zhu Di dan Cheng Ho serta sejumlah tentara yang masih setia melakukan serangan balik. Sekitar 200 pembunuh bayaran berhasil dikepung dan dikalahkan di tempat yang kini menjadi Lapangan Tiananmen.

Tahu upayanya gagal, Zhu Yunwen tak menyerah. Dia mengirimkan 500 ribu tentara ke Beijing. Namun, takdir pula yang menentukan. Persis seperti tentara Nazi yang gagal menyerbu Rusia gara-gara musim dingin, begitu pula pasukan Zhu Yunwen. Hanya mengenakan seragam tentara musim panas dan sandal jerami, pasukan Zhu Yunwen tak bisa berbuat banyak ketika musim dingin datang menyelimuti Beijing. Dengan mudahnya pasukan Zhu Di menghabisi mereka.

Kendali di tangan Zhu Di. Begitu sudah kuat, giliran Zhu Di yang menyerbu Nanjing. Pada 1402, Zhu Di berhasil merampas Istana Naga (kini Istana Kepresidenan) di Nanjing. Sementara itu, Zhu Yunwen kabur menyelamatkan diri dan tidak diketahui rimbanya.

Ada kabar bahwa Zhu Yunwen melarikan diri hingga ke luar negeri. Itu pula yang konon menjadi salah satu alasan Zhu Di memerintah Cheng Ho untuk membangun armada besar untuk mengelilingi dunia. Tujuannya, mencari Zhu Yunwen.

Sejak tahun itulah Cheng Ho membangun banyak hal untuk kepentingan ekspedisi tersebut. Mulai memperbesar ukuran galangan kapal di Longjiang hingga membangun sekolah penerjemah. (kardono / boy slamet/ jawa pos)

Respon Anda?

komentar