Serda TNI AD Bikin Kagum Tentara Negara Lain dalam Hal Menembak

Wolly Hamsan ditandu dengan kursi setelah terpilih menjadi petembak terbaik di ASAAM 2017 di Kompleks Militer Puckapunyal, Victoria, Australia, 26 Mei lalu. (DISPENAD for JAWA POS)

SEJUMPUT rumput itu dipegang Wolly Hamsan sembari matanya mendongak. Sejurus kemudian dilemparnya rumput tadi. Diamatinya di mana jatuhnya. Dan, dor, dor, dor! Hasilnya? Cukup dengan metode pengukuran angin secara sederhana itu, Wolly meraup poin sempurna di nomor tembak reaksi. Tanpa memerlukan alat bantu wind speed meter seperti para rival.

“Begitu saja bisa tepat. Kami yang canggih (memakai alat, Red) malah tidak,” kata Wolly menirukan pujian yang dia peroleh dari petembak lain.

Hasil di nomor tembak reaksi tersebut hanyalah satu di antara sederet kesuksesan yang dibawa prajurit TNI-AD berpangkat sersan dua (serda) itu di Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) pada 5-26 Mei lalu. Selama 22 hari berkompetisi bersama perwakilan 19 negara se-Asia-Pasifik di Kompleks Militer Puckapunyal, Victoria, Australia, dia total mengoleksi 18 medali.

Perinciannya, 15 emas (9 perseorangan dan 6 beregu), 2 perak, dan 1 perunggu. Ayah dua anak tersebut mengulangi prestasinya di ajang yang sama pada 2011 dengan terpilih sebagai petembak terbaik. Bahkan dengan embel-embel raihan emas perseorangan lebih banyak ketimbang 2011 yang “hanya” merebut 8 emas.

Selain itu, Wolly berperan besar mengantarkan kontingen TNI-AD menjadi juara umum dengan total 28 emas, 6 perak, dan 5 perunggu. Itu gelar juara bertahan TNI-AD untuk sepuluh kali berturut-turut. Kian membanggakan lagi karena pistol dan senapan produksi yang digunakan Wolly dan 14 petembak lain di tim TNI-AD merupakan produksi PT Pindad.

Kesuksesan Wolly tersebut datang dari kedisiplinan dan kegigihan dalam berlatih. Kendati sudah tujuh kali jadi bagian dari skuad TNI-AD ke ajang itu, prajurit kelahiran 19 Februari 1979 tersebut tetap tak mengendurkan rutinitas dalam mengasah kemampuan.

Sampai-sampai personel Kontingen Garuda (Konga) 2009-2010 itu sempat diprotes sang istri karena rumah pun dijadikan tempat latihan. Bukan dar-der-dornya tentu. Melainkan latihan mengatur posisi dan strategi. “Ini rumah, bukan tempat latihan,” ucap dia menirukan perkataan sang istri.

Lantaran sadar betul AASAM bukan kompetisi sembarangan, Wolly kerap menambah jam latihan. Setiap hari dia berlatih menembak sejak pagi sampai sore. Tidak kurang sembilan jam dia berlatih bersama petembak lainnya.

Latihan tambahan biasa dilakukan Wolly setelah istirahat. Salah satunya ketika berada di rumah. Dia tidak segan telungkup sambil membayangkan tengah memegang senapan. Itu yang sering membuat istrinya geleng kepala.

Tidak cukup dengan latihan tersebut, Wolly juga kerap meluangkan waktu untuk yoga. “Satu jam setiap malam,” ucapnya. Itu dia lakukan untuk melatih konsentrasi. Selain melawan diri sendiri, dibutuhkan konsentrasi tinggi ketika tengah beradu ketangkasan dalam kompetisi menembak. Tanpa itu, sulit menembak tepat sasaran. Jika sudah demikian, jangan harap dapat medali dan poin tinggi.

Wolly berkenalan dengan dunia menembak sejak belia. Di kampungnya di Sambas, Kalimantan Barat, sana, Wolly sudah doyan berburu dengan senapan angin mulai SMP. Begitu masuk TNI-AD pada 1998, Wolly menambah ilmu dengan mengikuti beberapa pelatihan menembak. Skill-nya pun kian terasah dan terpantau para senior.

Seleksi internal untuk bisa masuk tim ke AASAM juga sangat ketat. Sebab, bagi TNI-AD, ajang tersebut merupakan salah satu media unjuk kemampuan. Juga sebagai sarana diplomasi.

“Menembak itu bukan hanya soal bagaimana bisa tepat sasaran, tapi juga menaklukkan ego,” tutur Wolly.

Atas raihan prestasinya tersebut, Wolly pun mendapat hadiah rumah dari Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono yang diserahkan di Jakarta Selasa lalu (30/5/2017). Dia pun mengaku sangat bangga dan terharu.

“Hadiah ini saya dedikasikan untuk istri dan anak-anak,” katanya. (SAHRUL YUNIZAR, Jakarta)

Respon Anda?

komentar