batampos.co.id – Perekonomian di Kepri hanya tumbuh 2,04 persen, sedangkan inflasi pada kisaran 3 persen. 70 persen yang mendongkrak perekonomian Kepri adalah Batam.

Kepala Bank Indonesia Kepri Gusti Raizal Eka Putra menilai pelemahan ekonomi ini akibat pengoptimalan budget, dan belanja modal hanya 1 persen saja.

Selain itu Kepri secara keseluruhan mengalami devisit transaksi.

“Kami memberikan beberapa solusi, dan permasalahan ini sedang dikaji di Kementerian Keuangan serta Perekonomian,” katanya saat ditemui di Mapolda Kepri, Senin (5/6).

Solusi untun perlambatan perekonomian ini untuk Batam yakni mengkaji kembali Free Trade Agrement (FTA).

Ia mengatakan FTA memberikan keleluasaan untuk industri di Asia Tenggara berkembang, dengan cara menggratiskan bea masuk ke Jakarta atau pasar domestik di Indonesia. Sementara itu produk hasil industri di Batam, dibebankan bea masuk beberapa persen.

“Padahal produknya sama,” tutur Gusti.

Ia mengatakan saat permintaan global rendah, dan masih cukup tingginya permintaan dalam negeri. Kenapa kebijakan FTA ini dikaji ulang, dimana memberikan kesempatan kepada industri dalam negeri untuk berkembang dengan membebaskan bea masuk ke pasar domestik.

“Saya sudah berdiskusi dengan kementerian Keuangan tentang hal ini, dan ini dalam pengkajian,” ujarnya.

Ia membeberkan banyak hasil industri di Batam, dapat mencukupi kebutuhan dalam negeri tanpa harus mengimpor barang yang sama dari luar negeri. Bila hal ini diterapkan, industri di Batam diharapkan bisa kembali tumbuh dan membaik.

“Contohnya ponsel produksi SatNusa, bisa mencukupi kebutuhan domestik. Kan sekarang ini banyak dijual untuk kebutuhan dalam negeri,” ungkapnya.

Solusi lain yang ditawarkan Gusti yakni pariwisata. Ia mengatakan bahwa Kepri memiliki beberapa produk unggulan untuk pengembangan Pariwisata. Tapi entah kenapa malah tidak bisa berkembang seperti seharusnya.

Sejumlah wisatawan saat tiba di Pelabuhan Internasional Sekupang, Batam.  F Cecep Mulyana/Batam Pos

“Hingga kini pariwisata belum memberikan keuntungan yang signifikan untuk Kepri. Padahal kita tahu potensinya sangat besar,” tuturnya.

Ia mengatakan seluruh instansi yang ada di Kepri, haruslah memperhatikan ini. Dan bersama-sama mendorong industri Pariwisata ini bisa berkembang.

Solusi yang ketiga yakni meningkatkan potensi perikanan dan maritim di Kepri.

“Kepri diketahui memiliki sumber ikan yang sangat besar, tapi belum ada pabrik pengolahannya. Ini yang harus kota dorong menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.

Untuk membantu perekonomian Kepri ini, Kapolda Kepri Irjen Pol Sam Budigusdian mengatakan akan ikut mengawasi hal ini. Supaya perekonomian di Kepri, khususnya Batam bisa kembali menggeliat. Ia mengatakan akan mencoba menjaga konduaifitas dan stabilitas di Kepri. Sehingga membuat para pengusaha aman dan nyaman dalam berusaha .

“Salah satunya kami memantau berita hoax, karena kadang berita-berita yang mengatakan hal tak mengenakan tentang Batam sengaja diputar di luar negeri. Sehingga membuat orang urung untuk masuk ke Batam,” tuturnya.

Selain itu ia juga akan memperhatikan penegakan hukum pengunaan rupiah. Kepri rawan akan hal ini, sebab berbatasan dengan negeri tetangga.

“Kami akan selalu koordinasi dengan BI terkait penggunaan rupiah yang harus berdaulat di negeri sendiri,” tuturnya.

Sam mengatakan pihaknya juga akan memantau peredaran transaksi ilegal, Money Changer, dan peredaran uang palsu yang menyebabkan inflasi. Dengan pengawasan ketat ini, Sam berharap ekonomi di Batam bisa pulih. (ska)

Respon Anda?

komentar