ilustrasi

Seperti tahun tahun sebelumnya, #BakarTongkangFest tahun ini juga dimulai dari kelenteng Ing Hock King menuju areal ritual bakar tongkang di Jalan Perniagaan Kota Bagansiapiapi.

Puluhan ribu masyarakat berjubel, berjalan menuju tempat dibakarnya tongkang yang diiringi tambuk atau simbal yang dipukul bertalu talu ini bergerak keluar dari Kelenteng tertua di kawasan Pekong Besar, Minggu (11/6).

Perjalanan menuju lokasi pembakaran memakan waktu 20 menit, dan replika tongkang mulai masuk areal bakar tongkang sekitar pukul 15.30 WIB. Jadwal ini lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya, tidak ada acara seremonial, setelah Replika Kapal Tongkang diletakan di atas ribuan tumpukan kertas sembahyang, kemudian para tokoh dan pejabat pemerintah daerah naik diatas replika kapal untuk memberikan ucapan selamat.

Tampak di atas tongkang, Kapolda Riau Irjen Pol Zulkarnain, Bupati Rohil Suyatno, Tokoh Masyarakat Tionghoa Sugianto serta pejabat lainnya menaiki tongkang. Saat mereka turun, tongkang pun mulai dibakar, api mulai mengepul, dalam waktu singkat, tongkang terbakar, dan satu tiang tongkang jatuh ke laut dan tiang satu lagi juga jatuh mengarah ke laut.

Ini pertanda apa bagi masyarakat Tionghoa yang hadir pada acara itu?

Menurut kepercayaan warga Tionghoa Bagansiapiapi, kemana arah tiang itu pertanda keselamatan dan peruntungan usaha serta mata pencarian lebih baik atau lebih banyak datangnya dari laut.

“Tahun ini mengarah ke laut, maka menurut kepercayaan mereka tahun ini rezeki datang dari laut,” ucap Ali Asfar, Kepala Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kab Rokan Hilir.

Ali menambahkan, tahun lalu, bakar tongkang tahun 2016 atau tahun monyet api, dipercaya masyarakat etnis Tionghoa sebagai arah keberuntungan dalam memperoleh rezeki bahwa peruntungannya lebih banyak di air.

“Ini artinya, sektor mata pencaharian melaut bagi nelayan lebih besar. Selain itu, masyarakat Tionghoa juga mempercayai bahwa melestarikan budaya leluhur dapat mempererat tali silaturahmi. Lihat di sepanjang jalan menuju lokasi pembakaran tadi, banyak warga yang menyediakan minuman gratis kepada para wisatawan yang ikut arak-arakan itu. Ini Luar Biasa,” ujar pria berusia 52 tahun ini.

Menurut sejarah, agenda ritual Bakar Tongkang ini sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak tahun 1825 Masehi, sejalan dengan berdirinya Kelenteng Ing Hok King di Bagansiapiapi. Data Dinas Pariwisata Rokan Hilir, ritual yang hanya hanya dilakukan pada bulan kelima penanggalan Imlek tanggal 16 disebut Go Gwee Cap Lak ini dihadiri lebih dari 52 ribu wisatawan nusantara dan mancanegara, melebihi target yang dicanangkan sebanyak 47 ribu wisatawan

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya pun optimis Riau belum terlambat membangun sektor pariwisata. Selain kaya akan tradisi dan budaya, terutama Melayu, kondisi alam Riau sebenarnya juga tidak kalah menarik.

“Kemarin kita telah tetapkan Gelombang Bono sebagai destinasi berkelas dunia, kini ada #BakarTongkangFest yang tak kalah menariknya, ini juga destinasi world class,” kata Arief Yahya.

Dengan destinasi yang world class itu, Arief Yahya minta Riau bisa menempatkan pariwisata sebagai leading sector selain infrastruktur, maritim, pangan dan energi.

“Pariwisata bisa sebagai core economy, karena komoditas yang paling sustainable, menyentuh level bawah dan performancenya setiap tahun menanjak,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Permintaan Menpar Arief Yahya hanya satu. CEO Commitment! Keseriusan Pimpinan Derahnya untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai prioritas membangun daerahnya.

“Kalau Bupati, Walikota dan Gubernurnya komit, tidak ada yang tidak bisa! Pasti bisa bergerak lebih cepat,” papar Menpar Arief. (*)

Respon Anda?

komentar