foto: smoe.com

batampos.co.id – Industri shipyard dan peralatan migas di Batam sudah lesu, dan ada beberapa perusahaan yang gulung tikar. Salah satu perusahaan shipyard yang cukup ternama PT SMOE yang terletak di Kawasan Industri Terpadu Kabil, juga terkena imbas akibat lesunya perekonomian dunia.

Manager HRD SMOE, Eldiansyah mengutarakan SMOE saat ini ibarat orang yang sedang di air yang kedalamannya hingga dagu.

“Kami butuh pijakan, agar bisa bernapas dengan baik,” katanya saat dihubungi Batam Pos, kemarin.

Ia mengatakan proyek pengerjaan peralatan migas SMOE sudah habis dari Mei lalu. Proyek terakhir yang dilaksankan pihak SMOE permintaan dari Rusia.

“Hingga akhir tahun ini, belum ada project baru lagi,” tuturnya.

Namun Eldiansyah memastikan, pihaknya tak akan menyerah begitu saja dengan keadaan yang ada. Eldiansyah memastikan tahun depan SMOE akan mengerjakan beberapa proyek lagi, sehingga bisa dapat berjalan walaupun lambat.

“Kami secara mandiri mencari proyek-proyek baru. Kami menawarkannya ke Jakarta dan beberapa negara lainnya,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai harapan apa yang diminta SMOE untuk pemerintah, agar bisa menghidupkan kembali industri Shipyar dan peralatan migas. Eldiansyah enggan berkomentar mengenai hal tersebut.

“Tanyakan saja ke BSOA (Batam Shipyard and Offshore Association), Mas,” ucapnya.

Eldiansyah mengatakan saat ini karyawan SMOE seluruhnya berjumlah sekitar 200 orang. Apakah dulu sempat sampai 8 ribu orang?

“Iya memang, tapi itu karena ada project kami ambil tambahan orang. Sekarang project tak ada,” ujarnya.

Mengenai Upah Minumum Sektoral yang cukup tinggi, yakni sekitar Rp 3,4 juta. Eldiansyah mengatakan pihaknya akan mengikuti sistim yang ada.

“Saya sudah sounding ke President Direktur, kita ikuti saja,” ungkapnya. (ska)

Respon Anda?

komentar