Amat Tantoso: Jangan Biarkan Batam Bangkrut

Pengusaha Batam yang juga Wakil Ketua Kadin Kepri, Datok Amat Tantoso saat diskusi ekonomi Batam dengan sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) di Hotel Vanilla, Lubukbaja, Kamis (15/6). F. Iman Wachyudi/ Batam Pos

batampos.co.id – Pengusaha Batam yang juga Wakil Ketua Kadin Kepri, Amat Tantoso mengingatkan bahwa seluruh elemen masyarakat harus bergerak, guna menyelamatkan Kota Batam.

Katanya, sejak 25 tahun menjadi pengusaha di Batam, baru tahun inilah ekonomi Batam dirasakannya yang paling susah. Tak ada dampak kemajuan ekonomi. Pria yang bergelar Datok itu khawatir Batam akan bangkrut (kolaps).

“Jangan biarkan Batam bangkrut. Kalau Batam bangkrut banyak pengangguran, kriminalitas pun meningkat,” ujar Datok Amat disela-sela acara buka puasa bersama dan diskusi ekonomi dengan sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) di Hotel Vanilla, Lubukbaja, Kamis (15/6).

Datok Amat mengatakan, untuk bayar gaji setiap bulan kepada 800-an karyawannya saja sudah susah. Ditambah lagi, dengan kenaikan tarif listrik, kenaikan Upah Minimum Sektor (UMS), serta disusul rencana kenaikan tarif ATB. “Biasanya bayar listrik Rp 76 juta per bulan, tapi sekarang sudah Rp 100 juta lebih. Daya beli susah. Mau bertahan sampai kapan?” tanya dia.

Datok Amat menilai banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. “Gubernur itu harus bisa merangkul,” katanya.

Diakui Datok Amat, memang untuk memajukan Batam bukan hanya kewajiban dari pemerintah atau pengusaha saja, tapi juga semua pihak dan elemen masyarakat. Menurutnya, agar ekonomi Batam bangkit lagi, hilangkan egoistik dari dualisme kepemimpinan BP Batam dan Pemko Batam tadi,” harapnya.

Datok Amat mengatakan BP Bintan dan BP Karimun di bawah naungan Bupati. Seharusnya, kata Datok Amat BP Batam dibawah naungan Pemko Batam.

Menurutnya, tak boleh ada pembiaran karena kemunduran ekonomi Batam terus terjadi, dan itu dimulai semenjak Pemerintah Pusat mengirimkan 7 Pimpinan Badan Pengusahaan (BP) Batam. Bahkan menurutnya kondisi sekarang ini yang terparah semenjak berdirinya Kota Batam.

“Kemunduran ekonomi terjadi sejak Pemerintah Pusat mengirim 7 Pimpinan BP Batam, dan ini yang terparah sepanjang keberadaan Kota Batam,” terangnya.

Saat ini, Kata Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Indonesia ini, perusahaan terus bertumbangan karena tidak sanggup lagi membayar gaji karyawannya. Sebagian lagi melakukan pengurangan secara bertahap demi untuk bisa tetap jalan.

“Kalau terus begini sampai kapan kami bisa bertahan,” keluhnya.

Karenanya, kata Datok Amat, dia akan mengajak semua pihak bisa bersama-sama memikirkan nasib Batam, salah satunya menuangkan konsep kemudian dibawa secara bersama-sama ke presiden.

“Harus ada konsep dan kita bawa ke pak presiden. BP Batam tidak perlu dibubarkan, tapi diletakkan di bawah Pemko seperti halnya BP Bintan dan BP Karimun,” katanya lagi.

Ditambahkan Amat, jika usulan itu tak didengar pengusaha akan membuat forum diskusi yang lebih besar. Kurang lebih 58 ormas di Batam dilibatkan untuk duduk bersama membahas masalah itu. “Hasilnya nanti akan disampaikan langsung ke presiden, seperti apa kondisi Batam sekarang,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Ketua FKUB Batam, Rustam Effendi Bangun, ia menyoroti hal yang sama bahwa harus segera diambil langkah penyelamatan.

“Sejak saya di Batam, ini kondisi terparah yang saya alami. Dan ini harus kita bergerak bersama agar kondisi ekonomi di Batam bergairah kembali,” katanya. (iwa)

Respon Anda?

komentar