Anak-anak Kampung Bukit setiap malam usai salat tarawih memainkan meriam kaleng. F. Slamet/Batam Pos.

batampos.co.id – Aroma malam Ramadan begitu kental di Kampung Bukit Indah Kilometer 24 RT 008 RW 003 Kecamatan Toapaya Kabupaten Bintan. Betapa tidak, setiap malamnya usai salat tarawih anak-anak di kawasan lokalisasi itu memainkan meriam kaleng.

Seperti yang dimainkan Dani, Mono, Satria, Budi, dan Heru. Kelima anak usia Sekolah Dasar (SD) itu menyebut permainan rakyat tersebut dengan nama belson. Berbahan kaleng bekas yang dirangkai seperti meriam sungguhan, lalu pada ujung kaleng dilubangi agar bisa diisi minyak tanah.

Satria salah seorang pemain meriam mengatakan permainan belson sudah menjadi tradisi anak-anak di sana. Biasanya permainan belson dimainkan pada malam bulan Ramadan setelah salat tarawih. Sebelum Ramadan, anak- anak di sana biasanya mengumpulkan kaleng bekas untuk dibuat meriam.

“Caranya mudah kok Om,” kata Budi menimpali.

Budi menerangkan, untuk membuat meriam kaleng setidaknya diperlukan 10 kaleng bekas. Kaleng-kaleng bekas tadi disusun, kemudian ujungnya dilubangi untuk memasukkan minyak tanah. “Fungsinya untuk menyulut api agar suara ledakan di ujung belson nyaring,” kata anak kelas 4 SD itu.

Agar suara yang dihasilkan belson lebih nyaring, Budi membagikan tipsnya. Belson sebaiknya dipanasi dengan minyak, lalu ditiup pada sisi ujungnya sampai asapnya keluar. Setelah itu lanjutnya, baru dibakar. “Kalau itu suara nya pasti nyaring,” katanya.

Dani mengiyakan apa yang dikatakan Budi. “Kalau tidak pandai pandai mainnya, susah. Suaranya tidak nyaring,” kata Budi disambut tawa teman temannya. Permainan meriam kaleng ini menambah kemeriahan suasana malam di bulan Ramadan. Selain terdengar suara belson, juga suara anak-anak yang mengaji di musala. (cr21)

Respon Anda?

komentar