Dikira Air Putih, Rupanya Air Aki, Jamal Dilarikan ke Puskemas

batampos.co.id – Salah seorang warga Desa Rewak Kecamatan Jemaja Jamal, minum air aki secara tidak sengaja. Beruntung cepat dilarikan ke Puskemas terdekat sehingga nyawanya dapat diselamatkan. Meski tidak menyebabkan kematian tapi kejadian ini cukup mengejutkan warga sekitar.

Jamal menceritakan, ia tidak sengaja meminum air keras itu. Ketika ia usai mengisi air aki, sisanya ia masukan ke dalam gelas. Beberapa waktu kemudian ia sedang melaksanakan kegiatan lain di rumahnya. Setelah merasa haus, ia langsung saja meminum air aki itu yang kebetulan menyerupai air putih.

Kata jamal, setelah minum air aki, seketika ia menjerit kesakitan
dibagian tenggorokannya, lalu penglihatannya kabur dan pingsan.
Setelah itu ia tidak sadarkan diri lagi hingga dibawa ke Puskesmas
ini. “Saya lupa, ketika saya merasa haus langsung saja saya minum air yang ada didalam gelas tadi itu,” jelasnya saat masih menjalani perawatan di ruang pengobatan puskesmas, Minggu (18/6).

Ia mengaku tidak bermaksud melakukan bunuh diri. Hal itu terjadi karena unsur ketidaksengajaan. “Tidak benar saya berupaya ingin melakukan perbuatan bunuh diri, saya pastikan kejadian itu unsur ketidaksengajaan. Anak saya banyak, tak mungkin bunuh diri,” tegasnya.

Ia juga berharap kepada Pemerintah Daerah (Pemda) agar dapat memberi bantuan biaya pengobatan, sebab kartu BPJS yang dimilikinya tidak berlaku di Puskesmas. Padahal keluarganya tergolong masyarakat tidak mampu.

Tambahnya, terkait tidak aktif kartu BPJS ia tidak mengerti, sebab saat pendataan yang dilakukan oleh pemerintah desa menyatakan bahwa dirinya termasuk masyarakat yang ditanggung oleh Pemda, namun realitanya tidak demikian. Jika harus dilakukan pembayaran setiap bulannya sesuai aturan BPJS ia katakan dirinya tidak menyanggupi.

Diakuinya, bukan dirinya saja mengalami hal yang sama mengenai biaya BPJS, masih banyak warga Jemaja yang tidak aktif kartu BPJS tersebut. Mereka menerima kartu BPJS tapi ketika hendak berobat pihak Puskesmas, kartu yang ia miliki tidak aktif sehingga harus mengeluarkan biaya pengobatan selama dalam perawatan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, pekerja serabutan terebut mengaku terpaksa menggadaikan sebagian tanahnya kepihak bank dan ia merasa sangat sulit membayar iuran setiap bulan dengan pekerjaan yang tidak ada.

“Jangankan untuk membayar kartu tersebut, untuk makan bagi keluarga saya saja sudah sulit. Jika memang Pemda tidak mampu membayarkan iuran kartu BPJS kenapa harus meminta data,” tanya Jamal. (sya)

Respon Anda?

komentar