ilustrasi

Donjuan, 38, tiga gali menikah, tiga kali bercerai.

Gara-garanya sepela saja, ketiga istrinya tidak memiliki ’hutan rimba’.

Untuk ketiga kalinya, Donjuan harus berurusan dengan kantor Pengadilan Agama (PA), Klas1 A Surabaya. Rabu (22/6), pria yang bekerja sebagai kontraktor itu mengikuti proses sidang talak cerainya di ruang sidang III PA.

Dengan wajah santai, Donjuan menyatakan sudah ikhlas menjadi duda untuk ketiga kalinya.

Ia berharap bisa mendapatkan istri lagi dalam waktu secepat cepatnya.

”Nasib-nasib enggak selalu beruntung. Pertama gundul, kedua gundul. Sekarang juga,” kata Donjuan.

Menurut Donjuan, memiliki istri yang tidak mempunyai hutan belantara ibarat melihat anak kecil.

Tidak ada seni sehingga ia tidak bisa penetrasi ketika berhubungan dengan istrinya.

Sampai akhirnya, Donjuan harus mengakhiri pernikahan pertamanya dengan waktu tiga bulan saja. Ia pun masih semangat mencari istri lagi.

Setahun setelah bercerai tahun 2007, ia kembali menikah dengan istri keduanya. Usia pernikahannya lebih panjang yakni tiga tahun.

Awalnya, ia merasa baik-baik saja. Namun, lama-lama ia merasakan sering apes.

Rumahnya disita pihak bank karena sertifikatnya digadaikan kakaknya. Selanjutnya banyak malapetaka yang menimpanya.

Yang terakhir ia kecelakaan sehingga tangannya retak, namun kini kembali normal usai menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Tahun 2010, Donjuan memutuskan untuk menceraikan istri keduanya. Ia sudah tanya ke beberapa dukun apakah istrinya pembawa apes.

Si dukun memang belum menyebutkan faktor si istri sampai membuatnya apes. Akan tetapi, Donjuan mulai menganalisa sendiri sampai akhirnya ia menyimpulkan tidak ada hutan belantara-nya lah yang bikin kehidupannya apes.

Entah nasib atau gimana, tahun 2014, Donjuan kembali menikah. Lagi-lagi ia mendapatkan istri lulusan pesantren yang tidak memiliki hutan rimba.

Donjuan pun berusaha menerimanya dan menghilangkan stigma buruknya soal hutan rimba wanita. Namun, nasib sial terus membuntuti Donjuan.

”Bener ini apes. Aku sering kejambret. Sering sakit-sakitan juga. Proyekan sering enggak dapat, enggak bisa kaya-kaya… ,” pungkasnya. (Umi Hany Akasah – Radar Surabaya)

Respon Anda?

komentar