Semarak Lebaran di Amerika Serikat

McCORMICK Palace Chicago, Illinois. Di Minggu pagi 25 Juni lalu masih sepi. Mungkin karena hari libur. Puluhan orang sedang memarkir mobil, puluhan lagi yang umumnya mengenakan busana muslim bergegas ke dalam gedung.

“Assalamu’alaikum,” sapa seorang wanita asal Saudi Arabia. “Are you going to Ied prayer?

Sambil naik eskalator, kami menuju lokasi salat. Terlihat segera akrab. Para jamaah perempuan usai mengucapkan salam langsung berangkulan. Jamaah pria juga begitu.
Di banyak tempat di AS, salat Ied dilaksanakan dua sesi. Sesi I pukul 10.00, sesi II pukul 11.00. Ada juga yang menyelenggarakan sesi I pukul 08.00, sesi II pukul 09.00.

Di beberapa tempat, jamaah membayar tiket masuk. Uangnya untuk panitia menyewa tempat dan operasional lainnya. Umumnya tiket masuk USD 5 (setara Rp 66.500) jika dipesan via online. Jika registrasi di tempat, tiket masuk USD 7, setara Rp 93.100. Ada juga kegiatan pengumpulan zakat, sedekah dan infak sebelum salat Ied dimulai.

Saya memesan tiket online untuk salat Ied di McCormick Palace. Tiket ini sudah termasuk melihat pameran dan bazar, juga menikmati fasilitas lainnya yang disediakan seharian selama kegiatan Ied Celebration. Umumnya salat Ied di AS dirangkaikan dengan “one day Ied celebration.”

McMormick Place langganan salah satu lokasi salat Ied warga muslim Chicago. Ini termasuk gedung pertemuan dan pameran terbesar di Amerika Utara. Gedung yang terletak di 2391 South Lake Shore Drive ini tiap tahun jadi tempat Chicago Auto Show (Februari), International Home and Housewares Show (Maret), dan National Restaurant Association (Mei).

McCormick Place di tepi Danau Michigan, menempati area seluas 24,8 hektare. Salat Ied dilaksanakan di Hall B bagian utara gedung. Lokasi yang dijadikan tempat salat seukuran lapangan sepakbola.

Dari kejauhan gema takbir bersahut-sahutan. Di pintu masuk setiap jamaah harus menunjukkan tiket. Setelah diverifikasi, panitia memberi tanda dengan membubuhkan cap di lengan. Untuk memudahkan kontrol dan pengamanan.

Menjelang pukul 10.00, jamaah sudah memenuhi area salat. Seribuan jamaah yang mengikuti salat Ied sesi I dan sesi II di McCormick Place.

Saya mengikuti salat Ied di sesi I. Imam dan khatibnya Prof Sherman A Jackson PhD. Pakar agama, kajian Amerika dan etnik, dan Direktur Pusat Pemikiran dan Kebudayaan Islam di University of Southern California. Penulis ratusan buku dan artikel tentang sudut pandang Islam terhadap masalah-masalah hukum, teologi, sejarah dan muslim modern di Amerika.

Buku-bukunya diterbitkan oleh Universitas Oxford dan Yale University. Prof Sherman satu dari sepuluh ahli terkemuka tentang Islam di AS, dan masuk daftar 500 pemikir muslim paling berpengaruh di dunia versi Royal Islamic Strategic Studies Center di Amman, Jordania.

Prof Sherman seorang pemikir dan pembaharu. Saat menyampaikan kutbah Idul Fitri, dia tak menggunakan mimbar. Alat mic digenggamnya. Dia berdiri bebas di panggung yang disediakan buat imam memimpin salat.

Mengenakan setelan jas abu-abu, seperti sedang memberi ceramah pada pertemuan ilmiah.

Selama menyampaikan kutbah, dia bergerak dinamis di area panggung. Tangan kanan dan kirinya bergantian menggenggam mic.

Tanpa teks. Di tangannya hanya selembar catatan yang (sepertinya) berisi ayat-ayat Al-Quran. Saat membaca ayat-ayat itu, dia menggunakan kacamata. Usai itu, kacamatanya hanya digeser ke atas kepalanya.

Sesekali dia meneguk air mineral yang disediakan di lantai panggung. Lalu, “tradisi lama” dia dobrak: sesekali mengajak jamaah berinteraksi. Beberapa kali dia melontarkan pertanyaan, dan meminta respon jamaah seketika.

Seperti sedang memberi kuliah, atau ceramah di sebuah seminar. Gaya dan intonasi kata-katanya begitu hidup, ekspresif dan melibatkan emosi dan pikiran jamaah. Materi kutbahnya kaya data, informasi dan argumentasi. Sesekali dia melontarkan kata-kata yang mengundang tawa spontan jamaah.

Prof Sherman menjadikan kutbah bukan wahana untuk memutlakkan pendapat. Dia memberi ruang berbeda pandangan. “Ini pendapat saya. Mungkin Anda punya pandangan yang berbeda,” katanya sebelum mengakhiri kutbah.
Imam dan khotib pada salat Ied sesi kedua, Dr Mohammad Kaiseruddin. Pakar rekayasa nuklir ini salah satu pendiri dan mantan Chairman di Council of Islamic Organizations of Greater Chicago (CIOGC). Dr Kaiseruddin juga berkutbah tanpa mimbar.

Di Chicago salat Ied dilaksanakan di lebih dari lima lokasi. Warga Indonesia salat Ied di Wisma Indonesia, 614 Pine Line, Winnetka. “Salatnya mulai jam 10.00,” kata staf KJRI Chicago di balik telepon. Lokasi lain di Islamic Center Chicago, atau di taman terbuka.
Paling ramai salat Ied di Toyota Park Stadium Chicago. Markas Chicago Red Star, salah satu peserta Major League Soccer (MLS), liga utama sepak bola AS, ini terletak di 7000 Harlem Avenu, Bridgeview, sekitar 12 mil dari pusat kota. Warga muslim dari berbagai bangsa salat ied di stadion berkapasitas 28.000 tempat duduk ini. The Huffington Post (HuffPost) melaporkan, sekitar 25.000 jamaah mengikuti salat Ied di Toyota Park Stadium.

Walau tradisi buka puasa bersama yang dilaksanakan sejak (mantan) Presiden Bill Clinton di Gedung Putih (Istana Presiden AS) tidak diteruskan oleh Presiden Donald Trump dan tradisi syawalan tahun ini tak dilaksanakan di Departemen Luar Negeri AS, tapi warga saling menghargai dan memiliki toleransi yang tinggi. Di berbagai lokasi salat ied di tempat-tempat terbuka berlangsung aman dan damai. Aparat keamanan berjaga-jaga, tetapi tidak mencolok.

Di Angel Stadium of Anaheim, California, ribuan jamaah memadati markas Angeles Baseball, tim Los Angeles yang berkompetisi di Major League Baseball (MLB) –kompetisi divisi utama baseball AS. Umumnya, pengamanan lebih banyak dilakukan oleh panitia penyelenggara. Di Angel Stadium, panitia mewajibkan setiap jamaah melewati X-ray di pintu gerbang.

Toleransi dan penghargaan pemerintah lokal terlihat di berbagai tempat. Wali Kota New York Bill De Blasio dan Fist Lady New York Chirlane McCray berbaur bersama ribuan warga muslim yang salat Ied di Bensonhurst Park Brooklyn. Chirlane dan Bill berpidato usai salat Ied, dan meluangkan waktu bersilaturahmi dengan warga muslim New York di taman di tepi sungai Hudson itu.

Islamic Center New York of University juga melaksanakan salat Ied. Di State Island dan sejumlah tempat menjadi lokasi salat Ied di New York. Di Des Moines, Ibukota Negara Bagian Iowa, salat Ied antara lain dilaksanakan di Islamic Centre Darularqam.

Di Cedar Rapids, kota kedua terbesar di Negara Bagian Iowa, warga muslim sepanjang Ramadan dan saat Idul Fitri salat di Mother Mosque of America.

Disebut “Ibu mesjid Amerika” karena inilah mesjid tertua di AS, diresmikan pada 16 Juni 1934. Masjid ini menyimpan banyak benda dan dokumen berharga bagi sejarah muslim di AS. Pemerintah AS menetapkan masjid tua ini sebagai salah satu situs yang dilindungi, muslim heritage di Amerika.

Imigran asal Lebanon dan Syiria tiba di Cedar Rapids pada 1895. Kuburan muslim pertama di Amerika Utara berada di kota ini, terbentang di lahan 4,9 hektare, hibah H Yahya William Aossay pada 1948.

Tidak hanya di bulan puasa dan lebaran muslim di Cedar Rapids ramai dengan berbagai kegiatan. Banyak yang mengakui, keberadaan muslim di kota ini memainkan peranan penting bagi sejarah Islam di Amerika. Muslim dari Cedar Rapids yang jadi pionir untuk sertifikat makanan halal di AS. Di Cedar Rapids sertifikat halal sudah ada sejak 1975, jauh sebelum Indonesia mewajibkan sertifikat halal pada produk makanan, minuman dan obat-obatan.

Posisi politik warga muslim AS mulai punya daya pikat. Calon Gubernur New Jersey Phil Murphy berbaur dengan warga muslim yang salat Ied di South Brunswick Township, New Jersey City. Usai berpidato singkat, Phil bersilahturahmi dengan warga muslim di kota tetangga New York itu. (SUHENDRO BOROMA, Chicago)

Respon Anda?

komentar