Sejumlah kapal terparkir dikawasan galangan kapal Tanjung Uncang Batuaji, Sabtu (18/3). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Industri galangan kapal (shipyard) di Batam benar-benar butuh pertolongan. Sepinya order akibat lesunya ekonomi global membuat industri ini bertumbangan. Badan Pengusaha (BP) Batam punya rencana baru menghidupkan kembali industri yang sempat menjadi tulang punggung ekonomi Batam ini.

“Mulai sekarang akan fokus untuk promosi terarah yakni bagaimana cara masukkan industri teknologi tinggi dan bagaimana membangun shipyard,” terang Kepala BP Batam, Hatanto Reksodipoetro setelah acara halal bihalal, Selasa (4/7).

Menurut Hatanto, faktor penyebab jatuhnya industri shipyard di Batam bukan hanya pengaruh ekonomi global saja, tapi juga faktor teknologi. “Semua orang tahu bahwa sebagian besar teknologi shipyard di Batam masih rendah,” jelasnya.

Hingga saat ini, ratusan shipyard di Batam hanya membuat kapal tongkang untuk keperluan eksplorasi minyak dan gas (migas).

“Shipyard kita menggantungkan pasarnya dari tambang minyak dan batubara. Sehingga begitu tambang jatuh, pesanan tongkang berkurang,” jelasnya lagi.

Makanya BP Batam berkeras ingin memasukkan industri berteknologi tinggi termasuk shipyard yang mau membangun kapal-kapal kelas tinggi.

Ia berharap shipyard berteknologi tinggi tersebut bisa mentransfer ilmunya kepada shipyard-shipyard yang sudah lama bermukim di Batam.

“Kita cari investor berteknologi tinggi sehingga potensi yang lebih tinggi bisa dilihat. Harapannya shipyard yang ada nanti tidak hanya buat tongkang saja, tapi juga buat kapal militer atau lainnya,” ungkapnya.

Hatanto juga mengungkapkan pemikirannya bagaimana jika shipyard menggabungkan asetnya, baik itu lahan maupun modalnya. Karena seperti yang telah diketahui, lahan tepi pantai yang bisa dialokasikan untuk shipyard sudah tidak ada lagi.

“Sehingga mereka bisa kerjasama. Investor pun jadi tertarik. Shipyard itu sangat penting,” tegasnya.

Seperti diketahui, Batam Shipyard Offshore Association (BSOA) mencatat, sejauh ini sudah ada 20 galangan kapal yang tutup karena sepinya pesanan.

“Anggota BSOA itu ada 50, dan 20 perusahaan sudah berhenti produksi,” kata Sekretaris BSOA, Suri Teo, beberapa waktu lalu.

Sementara 30 perusahaan lainnya mencoba bertahan karena masih menyelesaikan pesanan kapal di tahun lalu. Sebagian lainnya hanya melakukan perbaikan kapal-kapal kecil. Sedangkan mengenai jumlah karyawan, saat ini tinggal tersisa 2.500 orang. Sebelumnya, pekerja galangan kapal di Batam sempat menembus angka 250 ribu pekerja. (leo)

Respon Anda?

komentar