Lembaga peradilan Eropa, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sampai Paus Fransiskus pun ikut urun suara untuk membahas nasib Charlie Gard. Siapa dia?

Gard ialah bayi berusia 11 bulan. Tapi, namanya mendunia gara-gara kelainan genetis yang dia idap sejak lahir.

”Anak lelaki saya adalah segalanya bagi saya. Saya akan melakukan apa pun untuknya,” kata ayah Charlie, Chris Gard. Pria 30 tahun asal Bedfont, subdistrik di kawasan barat Greater London, Inggris, itu berharap bisa memperpanjang kebersamaannya dengan putra pertamanya yang lahir Agustus lalu itu. Di hati kecilnya, ayah muda tersebut yakin bahwa Charlie bakal bertahan hidup.

Terlahir dengan kelainan genetis mitochondrial DNA depletion syndrome, harapan hidup Charlie memang tipis. Tim dokter di Great Ormond Street Hospital (GOSH), tempat Charlie dirawat, menyatakan, jika alat-alat penopang hidupnya dicabut, bayi mungil itu dipastikan bakal langsung meninggal dunia. Karena itu, GOSH pun menyarankan Gard dan istrinya, Connie Yates, untuk merelakan si kecil.

Sebagai orang tua, Gard dan Yates jelas menolak saran rumah sakit. Mereka tidak rela kehilangan Charlie secepat itu. Apalagi, bayi kecil mereka terlihat masih mampu bertahan. Ayah dan ibu baru tersebut tak mau menyerah. Dengan segala cara, mereka berusaha mempertahankan hak hidup sang putra. Berdasar informasi yang mereka terima, ada harapan bagi Charlie untuk bertahan lewat terapi khusus.

Sayang, terapi itu baru bisa dilakukan di Negeri Paman Sam. Tak mau melewatkan kesempatan yang mungkin menjadi satu-satunya jalan kesembuhan bagi Charlie, mereka lantas membuat akun di GoFundMe. Mereka berusaha menggalang dana untuk membawa bayi mereka pulang dari GOSH dan menerbangkannya ke AS. Dalam waktu tiga bulan, target dana yang digalang orang tua Charlie terlampaui.

Untuk biaya rumah sakit dan ongkos perjalanan ke AS, Gard dan Yates membutuhkan dana minimal GBP 1,3 juta (setara Rp 22,45 miliar). Kini uang yang jumlahnya lebih dari itu sudah ada di tangan. Tapi, Charlie tak bisa meninggalkan GOSH. ”Hukum Inggris melarangnya (meninggalkan rumah sakit lantas ke AS, Red),” ujar jubir GOSH kepada media pada Selasa (4/7).

Charlie Gard. (Keluarga Charlie Gard via AP)

Pekan lalu Mahkamah HAM Eropa memerintahkan GOSH untuk mencabut seluruh alat-alat medis dari tubuh Charlie. Keputusan itu merupakan penegasan dari vonis yang sebelumnya telah dijatuhkan pengadilan-pengadilan di tingkat lebih rendah. Pengadilan tinggi, pengadilan banding, dan Mahkamah Agung (MA) berpihak kepada tim dokter GOSH yang menganggap Charlie sudah tidak punya harapan hidup.

Bagi tim dokter GOSH, membiarkan Charlie menghadap Sang Pencipta adalah keputusan paling bijaksana. Sebab, alat-alat medis yang terpasang di tubuh bayi kecil itu tidak bisa selamanya menopang hidupnya. Sedangkan terapi oral di AS yang masih berada dalam tahap percobaan tersebut tidak bisa diandalkan. Menurut GOSH, segala upaya medis itu hanya akan membuat Charlie menderita lebih lama.

Disebarluaskan media, perseteruan GOSH dengan orang tua Charlie mencuri perhatian dunia. Minggu (2/7) bapa suci umat Katolik buka suara. Rohaniwan 80 tahun itu meminta GOSH berbelas kasih kepada orang tua Charlie. Setidaknya Gard dan Yates harus diizinkan untuk mendampingi dan memberikan perawatan yang terbaik sampai ajal menjemput putra mereka.

”Bapa suci terus memantau perkembangan Charlie Gard dengan penuh perhatian dan simpati. Beliau juga berdoa untuk mereka dan berharap keinginan orang tua Charlie untuk mendampingi putra mereka sampai akhir bakal terwujud,” kata Kepala Humas Vatikan Greg Burke, menirukan ucapan Paus.

Keesokan harinya giliran Trump yang menyampaikan pendapat. Melalui akun Twitter-nya, taipan 71 tahun itu mengungkapkan simpati kepada orang tua Charlie. ”Andaikan kami bisa membantu si kecil #CharlieGard seperti teman-teman kita di Inggris dan juga Paus, kami akan melakukannya dengan senang hati,” cuit suami Melania tersebut.

Selanjutnya giliran Mariella Enoc yang memainkan peran. Direktur Rumah Sakit Bambino Gesu di Kota Roma itu mengontak GOSH dan menawarkan diri untuk merawat Charlie. ”Saya dihubungi ibu sang bayi. Dia adalah perempuan yang sangat tegas dan tegar. Dia tidak akan berhenti untuk memperjuangkan kehidupan putranya. Tapi, GOSH berpendapat lain,” ujarnya.

Meski semua jalan yang mereka tempuh seakan berujung buntu, Chris dan Yates tetap berjuang. Kali ini mereka membawa Charlie pulang. ”Saya selalu mengatakan kepada Charlie bahwa kami akan membawanya pulang. Itu yang akan terjadi,” ungkap Yates. Dia tidak mau melihat Charlie menemui ajal di rumah sakit setelah seluruh alat medis dicabut. Sebagai ibu, dia ingin mengantarkan Charlie pergi lewat pelukannya. (BBC/CNN/theindependent/thesun/hep/c11/any)

Respon Anda?

komentar