ilustrasi

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat nilai realisasi investasi asing yang masuk ke Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam semester pertama 2017 mengalami penurunan dibandingkan periode sama 2016.

“Pada semester pertama 2016 nilai investasi mencapai 377,342 juta dolar Amerika Serikat (AS), sementara semester pertama 2017 tercatat nilai investasi yang masuk sebanyak 300,220 juta dolar AS,” kata Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Purnomo Andiantono belum lama ini.

Realisasi investasi yang masuk ke Batam semester pertama 2017, kata Purnomo, berasal dari sebanyak 25 proyek investasi. Sementara pada 2016 dari 39 proyek investasi.

“Pada awal 2016 ada satu investor yang sudah berinvestasi di Batam melakukan perluasan hingga 155 juta dolar AS. Sementara 2017 tidak ada, jadi secara total tahun ini mengalami penurunan,” kata dia.

Nilai investasi tersebut, kata dia, sudah mencapai sekitar 60 persen dibandingkan dengan terget investasi asing yang diharapkan masuk ke Batam sebesar 500 juta dolar AS.

“Untuk tahun ini target kami akan ada investasi masuk ke Batam sebesar 500 juta dolar AS. Kami tetap optimis apalagi sampai pertengahan tahun sudah masuk 300,220 juta dolar AS,” kata Purnomo.

Hingga saat ini, kata dia, investasi yang masuk ke Batam masih berasal dari Singapura meskipun belum tentu perusahaan tersebut milik Singapura.

“Sebagian ada perusahaan asing yang beroperasi di Singapura dan juga membuka usaha di Batam. Jadi tidak selalu perusahaan asal Singapura,” kata dia.

Sebelumnya pada akhir Mei 2017, Kepala Badan Pengusahaan Batam Hatanto Reksodipoetro memaparkan berbagai terobosan guna mempermudah investasi di Batam pada sekitar 50 pengusaha Singapura dalam kegiatan Singapore Business Federation.

Terobosan yang dimaksud menurut Hatanto adalah perbaikan sistem dari manual menjadi online di seluruh layanan yang dimanfaatkan oleh investor. Sistem tersebut diterapkan dalam berbagai layanan seperti izin investasi tiga jam (i23J) dan Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KILK) yang sangat diapresiasi oleh investor.

“Juga fasilitas dan layanan lainnya seperti Host to Host Sistem Perijinan Online Pelabuhan dan aplikasi Geographical Information System (GIS) untuk manajemen lahan dengan pemetaan menggunakan drone seperti di Singapura,” kata Hatanto. (leo)
    

Respon Anda?

komentar