Adalah Ajun Komisaris Polisi (AKP) Rosana Albertina Laborbar atau yang akrab disapa dengan Ocha yang menjadi ujung tombak pengungkapan penyelundupan 1 ton narkoba jenis sabu dari jaringan internasional asal Taiwan di Pantai Anyer, Banten.

Sekilas, jika dilihat dari wajah dan penampilannya, ibu muda satu anak kelahiran 19 Oktober 1986 itu tampak tenang dan pendiam. Ternyata, setelah mengenal lebih jauh, perempuan bertubuh mungil itu adalah sosok yang berani, tak takut pada apapun. Hal itu dibuktikannya saat berada di posisi paling depan saat meringkus jaringan narkoba internasional asal Taiwan itu.

’’Biasa saja, kalau berhadapan dengan orang, tak ada yang saya takutkan. Sejak kecil saya berani terhadap apapun termasuk itu (binatang seperti kecoa, dan lainnya). Malah saya lebih takut setan, enggak lucu kan kalau saya tiba-tiba lari karena suasana saat penangkapan itu gelap,’’ katanya lantas tertawa saat berbincang dengan JawaPos.com di Mapolresta Depok.

Ocha adalah polisi perempuan kelahiran kota Ambon, Maluku. Sejak kecil, prestasi Ocha sudah gemilang. Ocha selalu meraih juara kelas, tak boleh terpental dari ranking empat besar oleh orang tuanya. Tak hanya prestasi akademik, Ocha juga meraih prestasi di bidang seni.

Saat SD, Ocha meraih juara tiga tingkat nasional dalam lomba mata pelajaran kesenian. Saat SMP, Ocha juga juara nasional saat mengikuti festival musik tradisi nusantara. Prestasi itu tetap konsisten diraihnya saat SMA. Ocha meraih juara olimpiade matematika dan Paskibra Provinsi Maluku.


AKP Ocha adalah anggota Tim Gabungan Satuan Tugas Merah Putih yang menggagalkan penyelundupan satu ton sabu (DERY RIDWANSAH/JAWA POS)

“Saya dari SD, SMP, SMA di Ambon. Orang tua saya mengajarkan jangan pikirkan yang lain, artinya saya harus fokus belajar, jangan sampai memalukan orang tua. Jangan sampai ibu dan bapak ambil rapor duduk paling belakang. Karena saya harus juara kelas, enggak boleh lebih dari ranking 4,” kata Ocha.

Ocha menjalani semangat yang diberikan orang tuanya dengan senang hati. Terbukti, dari setiap prestasi yang diraihnya selalu membuat orang tuanya bangga. Almarhum ayahnya adalah seorang sipir lapas di Ambon, sedang sang ibunda merupakan seorang bidan.

“Saat SMA saya berada di kelas unggulan, begitu juga SMA unggulan tepatnya di SMAN 1 Ambon. Hitungannya semua adalah orang pintar di sana. Jadi saya selalu berusaha bisa menyesuaikan diri enggak jauh rankingnya,” kata perempuan pecinta mi instan itu.

Kecintaan Ocha di dunia Paskibra mempertemukannya pada senior-senior dan para taruna. Saat itu keinginannya menjadi polisi akhirnya bisa tersalurkan. Ocha memutuskan diri masuk Akademi Kepolisian (Akpol) pada 2004.

“Sampai pada akhirnya, 2004 saya ikut tes Akpol karena saran dari para taruna di Paskibra. Lalu lulus Akpol pada 2007 langsung penempatan Polda Sulawesi Tenggara. Penempatan pertama di Polres Kolaka sebagai Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK),” tuturnya.

Di Polres Kolaka, Ocha juga pernah menjabat sebagai Kanit Lantas, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Pjs Kapolsek hingga akhirnya dia dimutasikan menjadi Kapolsek di Polsek Kemaraya di bawah Polresta Kendari.

“Saya menikah di usia 25, pada 2012, saat itu di bertemu suami saya di kota Kolaka tempat tugas pertama. Begitu hamil, masuk Polda menjadi Kanit Tipikor (Subdit Tipikor). Lalu dipercaya menjadi Kasat Reskrim Polres Kolaka Utara selama dua tahun,” papar perempuan yang hobi fitness itu.

Selesai menjabat sebagai Kasat Reskrim, Ocha lantas masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) selama 18 bulan. Setelah itu, Ocha ditempatkan di Bareskrim Polri Direktorat IV Narkoba hingga dimutasikan ke Polda Metro Jaya dan ditempatkan di Polresta Depok sebagai Wakil Kepala Satuan (Wakasat) narkoba. Ocha juga menjadi Kepala Tim Penyelidikan (Katim Lidik) penangkapan penyelundupan 1 ton sabu asal Taiwan yang melejitkan namanya. (ika/JPC)

Respon Anda?

komentar