Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kemenpar RI Riaynto Sofyan memaparkan materinya pada Seminar Nasional Wisata Halal di Hotel Aston Tanjungpinang, Minggu (23/7). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Semangat Festival Pulau Peneyengat (FPP) 2017 harus menjadi titik balik untuk meneguhkan Kepri sebagai pilot project wisata halal. Apalagi Pulau Penyengat adalah merupakan pusat Tamadun Melayu yang sudah diakui sampai di mancanegera. Langkah tersebut adalah untuk mendukung Kepri sebagai Bunda Tanah Melayu yang berkhalak mulia.

“Kita tahu bahwa Indonesia, Malaysia dan Thailand terikat dalam Joint Working Group Halal Food. FPP 2017 menjadi wadah yang sesuai untuk mempromosikan bentu-bentuk wisata halal yang ada di Kepri, Tanjungpinang khususnya,” ujar Asisten II Pemprov Kepri, Syamsul Bahrum yang mewakili Gubernur Kepr, Nurdin Basirun usai membuka “Road to Fesyar” Festival Pulau Penyengat Syawal Serantau dalam kegiatan Seminar Nasional Wisata Halal di Hotel Aston, Tanjungpinang, Minggu (23/7).

Dijelaskannya, istilah kerjasama tersebut adalah saling mengunjungi. Artinya bukan hanya wisatawan Malaysia dan Thailand yang datang ke Indonesia. Tetapi adalah sebaliknya. Menurutnya, ikatan kerjasama itu memberikan banyak keuntungan tentunya bagi Kepri. Karena merupakan daerah perbatasan yang bersentuhan langsung dengan negara tetangga Malaysia dan Thailand.

“Kita juga bisa mempelari bagaimana penyajian wisata halal yang ada di Malaysia maupun Thailand. Apalagi kita daerah melayu yang sudah kental dengan islamnya,” jelasnya.

Lebih lanjut jelasnya, istilah wisata halal bukan hanya berkaitan dengan kuliner atau manakan yang disajikan. Tetapi juga dilihat dari sopan santun dan etika dalam berbusana. Tentu hal itu sejalan dengan misi Provinsi Kepri yang ingin memperkuat ekonomi maritim. Dijelaskannya, saat ini Kepri masih mengeksplorer untuk menjadikan Kepri sebagai pilot projek wisata halal.

“Kedepan untuk lebih baik, kita mendorong kabupaten/kota lainnya yang ada di Kepri juga bisa terlibat didalam FPP 2018 mendatang. Karena melalui kegiatan ini, bisa mempromosikan bagaimana bentuk-bentuk wisata halal yang ada di Kepri,” jelas Syamsul Bahrum.

Pria yang pernah menimba pengalaman sebagai Asisten III di Pemko Batam tersebut juga mengatakan, Masjid Istiqlal, Jakarta saat ini sudah terbuka untuk umum. Bahkan wisatawan asing yang non muslim juga bisa melihat aktivitas di dalam masjid. Sama halnya dengan Masjid Sultan Riau, Penyengat yang bisa dikemas menjadi salah satu destinasi wisata halal.

“Wisatawan non muslim juga bisa masuk ke Masjid. Tentu dengan pakaian yang sopan, atau diberikan sarung. Dan ini juga merupakan salah satu bentu pelayanan wisata halal,” jelasnya lagi.

Sekretaris Dewan Kawasan (DK) Bintan, Tanjungpinang dan Karimun itu mengatakan, wisata halal itu identik dengan pendekatan secara syariah. Ia juga menyampaikan aperasiasinya perbankan-perbankan syariah yang sudah mendukung untuk kegiatan wisata halal di Kepri. Diungkapkannya, untuk mewujudkan penerapan wisata halal di Tanjungpinang, Pemprov Kepri akan menata kawasan pemukiman di Teluk Keriting, Tanjungpinang.

“Kita menginginkan rumah-rumah masyarakat yang menghadap ke laut bisa menjadi home stay bagi para wisatawan. Sehingga bisa merasakan langsung pelayanan masyarakat Melayu itu seperti apa. Selain Teluk Keriting, kedepannya adalah Pulau Penyengat tentunya,” tutup Syamsul Bahrum.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar mengatakan dari kegiatan FPP 2017 ini tentu akan dilakukan evaluasi tentunya. Yakni dengan menjaring masukan-masukan dari berbagai pihak. Ia juga sepakat untuk mendorong Kabupaten/Kota lainnya yang ada di Kepri ikut terlibat dalam FPP mendatang. Apalagi kegiatannya memang mengusung local content.

Pantauan di lokasi kegiatan, selain mengegelar seminar yang diisi dari berbagai narasumber nasional tersebut. Panitia juga mengajak pelaku-pelaku Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) di Provinsi Kepri untuk berpartisipasi. Bahkan Anggota DPRD Kepri, Susi Susilawati juga ikut menampilkan produk UMKM dari Bintan.(jpg)

Respon Anda?

komentar