Setelah hampir dua dekade sejak pertama dikembangkan di Jepang, emoji melaju kencang. Dari sekadar ungkapan perasaan menjadi bahasa universal.

Ungkapan lawas, katakan dengan bunga, pun rasa-rasanya perlu dikoreksi. Katakan saja dengan emoji.

Punya kawan di Timbuktu atau Alaska? Cukup kirim gambar smiley, dengan segera dia akan tahu bahwa Anda sedang bergurau. Minimal dia tahu hati Anda sedang senang.

Yang punya pasangan atau teman dekat, cukup kirim gambar red heart, tak peduli dari kebangsaan apa pun, dijamin dia bakal klepek-klepek. Minimal dia tahu bahwa Anda punya perhatian khusus ke dia. Tak perlu bilang susah payah mengeja I love u, ich liebe dich, Je t’aime, atau ti amo untuk mengatakan ”aku cinta padamu”.

Sekitar 6 miliar emoji dipakai per hari dalam percakapan di dunia maya. Dari pengguna yang berasal dari berbagai penjuru bumi.

Emoji bahkan diklaim sebagai ”bahasa” yang persebarannya paling cepat di dunia. Pada 2015, Oxford English Dictionary, kamus yang sangat dihormati, juga menobatkan emoji face with tears of joy sebagai ”Kata Tahun Ini”.

Bahkan, kendati tak punya struktur seperti umumnya bahasa, emoji toh bisa disusun menjadi sebuah kalimat. Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh penulis dan seniman Joe Hale.

Dia menerjemahkan buku terkenal, Alice’s Adventures in Wonderland, karya Lewis Carroll dalam bentuk emoji. Chevrolet pernah pula membuat pers rilis yang semuanya ditulis dengan emoji dan meminta orang-orang untuk mengubahnya menjadi kalimat biasa.

Tak berlebihan pula kalau kemudian menyebut emoji sebagai bahasa yang menyatukan dunia. Setiap tahun, ikon emoji baru dirilis oleh Unicode Consortium. Sampai Mei lalu, sudah ada 2.666 ikon.

Dan, dalam setiap perkembangannya, selalu ada pembaruan agar setiap orang bisa terwakili. Misalnya, menyajikan pilihan warna yang berbeda-beda untuk ikon manusia.

Bagi para pelaku usaha, emoji juga merupakan bahasa bisnis yang bisa mengeruk banyak keuntungan. BBC mulai menggunakan rangkaian emoji untuk meringkas berita mingguannya. Itu dilakukan untuk menarik pembaca yang masih muda.

Twitter membanderol sekitar USD 1 juta atau setara dengan Rp 13,3 miliar untuk setiap ikon emoji khusus milik perusahaan yang digunakan di platform mereka. Beberapa perusahaan yang rela membayar adalah Coca-Cola, Pepsi, Starbucks, dan Disney.

”Para akademisi menyatakan bahwa ada lebih banyak interaksi ketika emoji digunakan,” tulis CNBC.

Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan Twitter. Platform tersebut meluncurkan emoji berbentuk lebah pekerja untuk menghormati para korban serangan di Manchester Arena, Inggris. Ikon itu diluncurkan berbarengan dengan pertandingan uji coba antara Manchester United dan Manchester City Jumat (21/7) di Houston.

Itu adalah pertandingan pertama dua klub tersebut sejak serangan di Manchester Arena Mei lalu. Kedua tim yang selama ini bermusuhan sengit itu pun mengenakan kaus khusus dengan logo resmi Manchester, yaitu lebah pekerja tadi.

Itu adalah simbol dari tradisi kerja keras warga Manchester. Twitter memanfaatkan peluang tersebut dengan merilis emoji lebah pekerja yang bisa diaktifkan dengan menulis tagar #ACityUnited dan #ManchesterDerby.

Dalam sejarahnya, mengungkapkan emosi dengan gambar sudah berlangsung puluhan tahun lalu. Yaitu, dengan penemuan emoticon oleh ilmuwan komputer di Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS), Scott Fahlman.

Pada 19 September 1982 dia memperkenalkan emoticon 🙂 di papan buletin online di tempatnya mengajar. Emoticon itu digunakan untuk menunjukkan senyuman agar rekan-rekannya tidak salah paham ketika dia menulis candaan atau sindiran tapi dianggap sebagai sesuatu yang serius. Emoticon-emoticon lain pun lantas mulai bermunculan.

Nah, emoji lain lagi. Bentuknya sudah full gambar, bukan tanda baca. Emoticon jika dikirimkan ke perangkat lain yang berbeda bisa berubah, tapi tidak dengan emoji.

Jadi, jangan khawatir bakal ada miskomunikasi. Mengirim red heart ke orang yang dicinta lantas berubah jadi si wajah merah. Pakai tanduk lagi. Alias angry face with horns hiii…. (TheGuardian/TheIndependent/CNN/sha/c10/ttg)

Respon Anda?

komentar