ilustrasi

Cinta Donjuan kepada Sephia bukan berdasarkan sayang, namun lebih pada harta.

Dengan janji akan diberikan semua fasilitas rumah, Donjuan mau menikahi Sephia pada Agustus 2015 lalu.

”Pikirku enak punya mertua kaya raya. Soalnya semua kakakku dapat mertua kaya raya, tapi istri mereka normal. Lha ini aku apes,” kata Donjuan dengan penuh penyesalan di sela-sela sidang gugatan cerainya di pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Selasa (25/7).

Menikah di usia muda, bagi Donjuan waktu itu membuatnya minder. Apalagi, banyak teman-temannya yang melanjutkan kuliah bahkan bekerja di bengkel-bengkel ternama di Surabaya.

Akan tetapi, Donjuan akhirnya memilih menikah saja karena melihat peluang kekayaan si mertua. Terlebih, kedua orang tua Donjuan dan Sephia juga bersahabat sejak kecil.

”Pikirku nasibku bakal kayak kakak-kakak dan bapak ibuku. Dapat mertua kaya dan tinggal melanjutkan bisnisnya. Tapi, ndilalah kok malah istriku gak waras. Ini aku lebam dipukul istri,” kata pria itu.

Bak pemain tinju, sang istri bisa sewaktu-waktu meninju bahkan menghajar dirinya habis-habisan.

Biasanya itu dilakukan saat Donjuan sedang menelepon saudara-saudaranya dengan suara keras.

”Logat saya ini begini. Denger suara telepon sering enggak denger, makanya ngomongnya keras,” kata dia.

Saat asyik telepon, istrinya langsung mengambil telepon di gengamannya. Pertengkaran terjadi.

Donjuan kalah karena istrinya mengerahkan seluruh kemampuannya, dari kemampuan gigi dengan menggigit tangan Donjuan, kekuatan kuku dengan cara menjambak rambut dan mencakar sekujur tubuhnya.Kekuatan tangan dan kakinya juga dikerahkan demi memenangi ‘pertandingan’ itu.

Aksi Sephia kian menjadi jika komunikasi di antara keduanya tidak nyambung. Apalagi istrinya mengidap autis.

”Mau ngelawan agak takut soalnya di rumah mertua. Ending-nya saya ketakutan dan mertua justru marah-marah pada saya,” kata bapak satu anak itu.

Setelah berkeluh kesah, Donjuan akhirnya meminta izin untuk bercerai dengan istrinya kepada mertuanya.

Awalnya ditolak, namun sang mertua mulai sadar dengan syarat ia tetap membantu bisnis kayu dan bengkel mertuanya. Sedangkan, Sephia sampai saat ini masih penanganan psikiater.

”Nunggu hasilnya dulu, kalau dia bisa tenang dengan terus konsumsi obat ya saya pertahankan. Ya untung anakku enggak autis juga,” pungkasnya. (Umi Hany Akasah – Radar Surabaya)

Respon Anda?

komentar