Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga menemukan ratusan bungkus komix saat melakukan razia belum lama ini. F Wijaya Satria/Batam Pos

batampos.co.id – Kepala Bidang Penegakan Perda Satpol PP Kabupaten Lingga, Febrizal Taupik menemukan fakta mengejutkan terkait aktivitas penyalah gunaan obat batuk cair Komix. Saat melakukan pengawasan dan patroli, mereka mendapati ratusan bungkus saset komix berserakan di lokasi tempat nongkrong anak remaja di Dabo Singkep.

“Ini sudah pada tahap mengkhawatirkan. Seharusnya Dinas dan pihak terkait yang mengawasi bahan makanan dan obat-obatan dapat mengatur jumlah peredaran Komix seperti di daerah lain,” ujar Taupik, Kamis (3/8) pagi.

Selain menemukan ratusan bungkus komix di tempat mencurigakan, Satpol PP Kabupaten Lingga juga mendapati kalau penjualan komix di sejumlah kedai di Dabo Singkep sangat mengejutkan. Dalam satu pekan saja dari pengakuan beberapa pedagang, mereka dapat menjual komix dalam jumlah besar yakni hingga puluhan kotak komix atau sama dengan ribuan saset komix.

Taupik menambahkan, prilaku menyimpang ini sebagai perubahan dari penggunaan lem benerapa waktu lalu. Dan saat ini, sejumlah remaja terindikasi melakukan penyalahgunaan obat batuk cair komix dalam jumlah banyak. Obat batuk ini disinyalir dapat menimbulkan mabuk seperti layaknya menggunakan lem.

“Jika kami bekerja sendiri kami mengaku tidak dapat mengatasi fenomena ini. Wilayah kami juga tidak dapat menangani terkait pengawasan obat dan makanan,” ujar Taupik.

Dari beberapa sumber menyatakan Badan Narkotika Nasional (BNN) telah mengeluarkan larangan bagi siapa saja untuk tidak melakukan penyalahgunaan terhadap komix. Berdasarkan temuan BNN, selain suka menghisap lem, saat ini anak baru gede mengangap trend mengkonsumsi obat batuk cair merek Komix secara berlebihan dengan tujuan untuk mabuk.

Dari beberapa kali melakukan pengawasan dan patroli, sejumlah pemuda menggunakan komix secara berlebihan dibeberapa titik tempat nongkrong anak remaja yakni di seputaran Batu Berdaun, lapangan Volly bukit timah dan sejumlah lokasi lainnya yang terbilang gelap dan sepi.

“Biasanya mereka mengkonsumsi komix dengan jumlah banyak pada malam hari. Pernah juga kami memergoki anak usia sekolah membeli komix hingga puluhan saset,” ujar Taupik. (wsa)

Respon Anda?

komentar