Petugas Dinas Pertanian Kabupaten Bintan memeriksa kesehatan sapi di
kandang yang ada di Bintan, baru-baru ini. F. Slamet/Batam Pos.

batampos.co.id – Dinas Peternakan Bintan mengambil sampel darah sekitar 100 ekor sapi dari 300 ekor sapi dan dibawa ke laboratorium peternakan di Bukit Tinggi. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus jembrana yang banyak menjangkiti sapi bali.

“Di peternak kita banyak sapi bali yang didatangkan dari Riau dan Jambi. Virus jembrana di sana beberapa bulan yang lalu sudah outbreak,” kata Kasi Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Bintan, Iwan Berri Prima, Selasa (8/8).

Sebenarnya ada beberapa virus yang harus diantisipasi yakni virus antraks dan virus gibram yang menyerang usus sapi. Disebutkanya, untuk sapi yang terjangkit virus antrak belum ditemukan di Bintan.

Begitu juga virus gibram yang gejala awal sapi akan mengeluarkan keringat berdarah hingga mengakibatkan kematian. “Kalau yang jembrana memasuki titik kritis di daerah lain, makanya harus diperiksa. Tapi sejauh ini belum ditemukan kasus sapi mati akibat terjangkit virus jembrana di Bintan,” tuturnya.

Maka itu Iwan mengingatkan agar pengusaha yang mendatangkan hewan kurban tidak melalui jalur ilegal. Sapi yang didatangkan dari luar daerah harus dikarantina dan masuk melalui pelabuhan yang dijaga petugas karantina.

“Pelabuhan Sripayung Tanjungpinang, Pelabuhan ASDP Tanjunguban dan Lagoi, itu ada petugasnya,” sebutnya.

Iwan juga mengatakan seminggu sebelum Hari Raya, pihaknya akan memeriksa sapi kurban untuk diberi label sehat dan layak. Sehingga masyarakat yang berkurban tidak tertipu membeli sapi kurban. Karena di tahun lalu ditemukan kasus sapi betina dan ada kasus sapi yang belum cukup umur disembelih. Padahal di undang-undang nomor 41 tahun 2014 tentang peternakan mengatur larangan menyembelih hewan sapi betani dan belum cukup umur.

“Alasannya, sapi betina itu produktif, sedangkan sapi yang bisa disembelih jika usianya sudah di atas 2 tahun. Kalau dilanggar, ada sanksi pidananya,” jelasnya.

Kepada petugas penyembelih hewan kurban, Iwan juga mengingatkan agar tidak menggunakan kantong plastik warna hitam. Karena mengandung racun dan bisa mengakibatkan kanker. “Ini terus kami imbau, tapi banyak petugas yang tidak tahu akhirnya masih saja ditemukan kasus ini,” tukasnya.

Untuk diketahui, hingga Juli lalu ketersediaan hewan kurban di Bintan sekitar 347 ekor. “Data kebutuhan hewan kurban biasanya di Kemenag,” tukasnya.

Kakanmenag Bintan, Erizal Abdullah mengatakan, tahun lalu realitas sapi yang disembelih sekitar 194, sedangkan kambing 90 ekor. Tahun ini jumlah hewan yang dikurbankan tidak jauh berbeda, atau diprediksi sekitar 200 ekor.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk sering berkurban karena bisa menghapuskan sifat-sifat yang tidak baik pada diri manusia. “Jangan sekali saja, harus berkali kali,” imbuhnya. Disinggung soal larangan menyembelih hewan betina, ia mengatakan di Islam tak mengatur demikian. ” Tidak apa-apa,” katanya.

Sementara itu, Kadis Pertanian Bintan Supriyono mengatakan, sapi yang didatangkan ke Bintan sudah diperiksa petugas karantina di pelabuhan Tanjungpinang. Karena itu, pihaknya menjamin sapi yang masuk Bintan sehat. “Kalau di masing-masing kecamatan biasanya sapi yang diternak dan dikembangkan sendiri oleh peternak,” tukasnya. (cr21)

Respon Anda?

komentar