batampos.co.id – Potensi maritim Kepri luar biasa besar. Namun hingga kini, potensi tersebut belum terkelola dengan baik sehingga belum sepenuhnya dinikmati masyarakat.

Ada beberapa hal yang membuat potensi tersebut tak terkelola dengan baik, salah satunya yakni aturan yang diterapkan di Indonesia kerap berubah.

“Potensi minyak dan gas bumi yang ada di Natuna tidak pernah putus, malah China dan AS dan banyak investor di Amerika hanya wait and see karena kebijakan di Indonesia selalu berubah-ubah,” kata Laksamana TNI (Purn) Marsetio saat jadi narasumber dalam seminar internasional berbasis pembangunan maritim di Kepri yang digelar di Hotel Best Western Panbil, Kamis (10/8).

Penasehat senior Menko Kemaritiman ini, menyebutkan persoalan investasi yang ada di Kepri, yakni disebabkan oleh kurangnya koordinasi atau jemput bola pejabat daerah ke pusat.

Narasumber lain, Dosen Senior Kebijakan Publik Harvard University School, Prof. Jay Keith Rosengard mengungkapkan ketidak pastian hukum dan kebijakan akan membuat investor memilih negara lain jadi tempat investasi. Persoalan pemerintahan dan administrasi yang rumit sehingga Indonesia kurang bersaing dengan Singapura.

“Kalau investor, modal gampang namun masalah hukum dan kebijakan ini (yang membuat) pusing,” katanya.

ilustrasi

Dalam seminar, beberapa pertanyaan apa yang bisa dilakukan pusat agar memebrikan nilai manfaat bagi Kepri, karena potensi maritim yang melimpah. Deputi II Bidang Koordinasi Sumber DAya Alam dan JAsa Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Agung Kuswandono balik menanyakan kira-kira apa yang diinginkan Kepri.

Ia menilai Kepri mendapat status FTZ namun hinggakini belum memberikan sumbangsih sesuai dengan kekhususan yang didapatkan. “Kepri harus mengejar investor, bisa bekerjasama dengan BUMN , BUMD, atau swasta dalam negeri. Kalau hanya diam dan menunggu otomatis pertanyaan Kepri dapat apa akan menucul terus,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Pemprov Kepri menyampaikan, soal keinginan Kepri punya banayk keinginan. Bahkan karena paham dengan potensi maritim yang luar biasa sudah tak terhitung berapa kali pemerintah daerah berkoordinasi dengan pusat.

“KOmunikasi daerah ke pusat sering kami lakukan.Natuna gasnya 4 kali lipat dari Masel, kita lihat masyarakat Natuna hari ini masih banyak yang miskin. Kepri, masih gelap gulita, hasil ikan kita, kita selalu berteori tapi hasilnya tidak ada,” ucap Burhan.

Ia mengatakan membangun Kepri tak hanya sekedar teori. Kini, Kepri butuh turun tangan pemerintah pusat dalam pengembangan potensi maritimnya.

“Kepri sudah berikhtiar dalam visinya Kepri menjadi kekuatan maritim ekonomi Indonesia saat ini,” pungkasnya. (cr13)

Respon Anda?

komentar