Langgeng Saika
foto: putut ariyotejo / batampos

batampos.co.id – Ia bukan musisi. Ia karyawan di sebuah shipyard tapi ia berjiwa seni. Pembaca, perkenalkan Langgeng Saika.

Mengenakan sarung Langgeng menerima saya di kediamannya di Puskopkar Batu Aji, Selasa (15/8/2017) malam pukul 21.00. Sejam lebih lambat dari jadwal yang kami bikin.

Namun ia tetap melebarkan senyum menyambut kedatangan saya.

Saya perlu berjumpa dengannya untuk sekadar menggali kisah tentang lagu yang ia gubah lalu di unggah di laman youtube.

Sebuah lagu dengan judul Proklamator.

Di laman itu ia menulis …. From Batam, Indonesia.

“Saya memang suka dengan lagu-lagu bertema patriotik,” ucapnya membuka percakapan. “Sejak lama memang saya ingin menulis lagu yang membangkitkan heroisme.”

Kisahpun bergulir ke masa lalu saat ia duduk di bangku SMP Negeri 1 Lamongan Jawa Timur. Kala ia pertama kali mengenal dunia musik. Sebuah kegemaran yang berlanjut ke bangku SMA hingga kuliah di ITS Surabaya jurusan Teknik Perkapalan angkatan 1987.

“Pas kuliah rambut saya gondrong sampai segini,” kisahnya sembari menggerakkan tangan kanannya di punggung mendekati pinggang.

“Bila dari belakang banyak yang mengira saya cewek ha … ha.. ha…”

Masa-masa itu ialah masa dimana Langgeng giat bermusik, berbagai arena festival musik rock ia lakoni bersama grup band yang ia miliki.

Lumayan, pernah menyabet penghargaan best keyboardist dan juara 4.

Pada masa remaja Langgeng, Surabaya memang dijuluki barometer musik rock Indonesia. Wajar jika remaja Surabaya dan sekitarnya, kala itu, keranjingan music rock. Banyak band rock bermunculan dari Suarabaya, Sebuat saja Elpamas, Power Metal dan lainnya.

Langgeng berargumen tentang music rock, “bagi saya musik rock itu lah yang pas mewakili lagu patriotis.”

Kini, Langgeng menjabat sebagai Project Manager di sebuah galangan kapal PMA di Kawasan Tanjung Uncang. Sempat prihatin pada 2016, perusahaan dimana Langgeng bekerja menerima beberapa pesanan kapal.

“Lumayan, bisa untuk membaya gaji karyawan.” Langgeng berseloroh.

Kesibukannya, kini, bukan lagi bermusik tapi sibuk memenuhi tenggat waktu pembuatan kapal.

Gitar dan keyboard yang ada di rumahnya ialah sebuah kelangenan, kenikmatan dikala luang.

Di rumahnya tiada ruang khusus untuknya bermusik. Sebuah ruang keluarga di lantai 2 yang ia gunakan untuk mendengar musik dan otak-atik komputer. Program yang digemarinya ialah Sonar X3 yang membantunya membuat lagu.

Bahkan untuk menikmati lagu rock kegemarannya pun Langgeng harus berkompromi dengan keadaan. Ia menggunakan headphone.

Meski demikian gelora cita menelurkan lagu patriotis masih menyala. Langgeng mendaur ulang lagu yang pernah ia gubah dua dekade lalu.

“Sekarang saya punya 11 lagu,” ujarnya.

Lagu itu tersimpan di komputernya yang ia putar saban hari namun hanya satu yang ia unggah di youtube.

Duduk di depan komputer, Langgeng memutar semua lagunya untuk saya dengar.

Semuanya bernada heroik. Sebuat saja judulnya, Surabaya Nopember 45; Laskar Arek Suroboyo; Kusuma Bangsa; Proklamator juga ada yang ia beri judul Malaby is Dead.

Malaby ialah seorang Jendral Inggris yang tewas di Surabaya pada tahun 1945.

“Saya ingat kata guru sejarah saya ‘Inggris ialah pemenang perang dunia tapi jendralnya mati di Surabaya. Jangan remehkan perjuangan arek-arek Surabaya’,” kenang Langgeng. “Masih ingat betul kalimat guru saya itu.”

“Saya ingin membuat animasi untuk lagu-lagu saya. Tapi yah…. Kesibukan kerja ….” Langgeng mengedikkan bahunya.

Itulah alasan mengapa belum semua lagunya ia unggah di youtube.

Bila Anda mampir ke akun youtubenya tertulis di sana tanggal unggahan, 20 Oktober tahun 2014. Lagu yang sama ia unggah ulang pada 12 Juni 2015.

Itupun tak banyak pemirsanya.

“Itu lah…. Saya isin (malu, red) hendak memromosikan.”

Ia bukan tak tahu cara memromosikan hanya tak mau saja. “Kawan saya pun bilang begini-begini cara memromosikan lagu saya di youtube, tapi ya itu tadi….”

Pembaca, perlu sabar untuk menikmati lagu gubahan Langgeng.

“Semoga tahun ini saya bisa up load yang lain di youtube.”

Kelak bila tembang gubahan pecinta Dream Theater ini diunggah, Anda akan menikmati gaya gitar Yngwie Malmsteen seorang gitaris asal Swedia atau Eet Sjahranie mantan gitaris God Bless lalu mendirikan band sendiri dengan nama EdanE.

Bagi Langgeng Eet sangat fenomenal

“Saya tertarik bermain gitar ya gara-gara mendengar cara gitaran Eet,” kenang Langgeng. “Kok bisa ya main gitar seperti itu.”

Langgeng berharap lagu-lagunya bisa mengisi kekosongan lagu-lagu perjuangan. Ia pun menyadari karyanya belum sempurna. Perlu kawan untuk berkolaborasi. Dari sisi vokal pun ia tak puas dengan lagu yang ia rekam.

“Ini gak sanggup,” akunya sembari mengelus leher. (ptt)

Respon Anda?

komentar