Pelajar SDN 002 Pulau Buluh, Bulang, berangkat sekolah dengan menaiki Boat Pancung menuju Pelabuhan Sagulung, Selasa (3/1). Meskipun akses pendidikan masih terbatas, para siswa tetap bersemangat untuk sekolah, terlihat dari terisi penuhnya bangku di boat pancung tersebut. Boat pancung sendiri merupakan salah satu mode transportasi laut yang menghubungkan pulau ke pulau yang lainnya di Kepulauan Riau. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Masyarakat hinterland yang bermukim di Rempang dan Galang, meminta perhatian pemerintah untuk memberikan kemudahan transportasi bagi anak-anak mereka ke sekolah. Sebab, ketersediaan transportasi saat ini tidaklah mampu menampung jumlah para siswa, imbasnya proses belajar mengajar jadi kerap terganggu.

“Keluhan masyarakat kurangnya sarana transportasi disana. Bus siswa angkutan massal yang dimiliki Batam saat ini, dirasa tidak cukup,” ujar anggota DPRD Kota Batam Komisi IV, Suardi Tahirek.

Dia mengungkapkan, transportasi bus sekolah merupakan salah satu faktor utama penunjang minat para siswa untuk bisa merasakan dunia pendidikan di sekolah. Alasannya dikarenakan jarak antara rumah mereka dengan sekolah terbilang jauh, sehingga ketika mau berangkat atau pulang sekolah selalu menjadi permasalahan.

Ia menilai siswa di Kawasan hinterland kurang mendapatkan perhatian pemeintah. Bahkan, akibat kekurangan bus, siswa SD yang harusnya pulangnya lebih cepat, terpaksa menunggu siswa SMP dan SMA pulang. Kondisi berlangsung setiap hari. Sehingga tak jarang tenaga dan pikiran mereka yang harusnya diarahkan kepada belajar di sekolah menjadi terbuang percuma.

“Padahal mereka juga calon generasi penerus Batam. Untuk itulah kita meminta agar kebutuhan bus transportasi ini diakomodir,” tutur politisi yang berasal dari pemilihan kawasan Hinterland tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Batam, Yusfa Hendri mengakui kekurangan armada bus sekolah di hinterland tersebut. Menurutnya, Pemko Batam sudah mengajukan ke kementerian terkait untuk penambahan 50 armada bus di Batam. Armada ini nantinya akan diperuntukan untuk bus transbatam dan bus sekolah pelajar di hinterland.

“Mudah-mudahan tahun ini sudah terealisasi. Sehingga anak-anak kita di hinterland tak kekurangan bus lagi,” tuturnya.

Untuk saat ini, kata Yusfa, baru ada delapan bus anak sekolah di hinterland. Memang jumlah yang sangat kurang bila melihat jumlah siswa yang belajar disana. Tak khayal, mereka berdesak-desakan di atas bus tersebut.

“Idealnya 15 bus. Tapi baru ada delapan bus. Bus ini akan tetap kita prioritaskan,” jelasnya. (rng)

Respon Anda?

komentar