batampos.co.id – Para pelaku industri di Batam kian optimistis menjalani aktivitasnya. Ini karena sejumlah sektor industri mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitannya. Kinerja sektor manufaktur dinilai terus membaik, begitu juga dengan sektor properti yang diprediksi akan bangkit, setidaknya pada awal tahun depan.

“Penjualan properti memang turun, tapi geliatnya masih terus tumbuh,” kata Ketua Real Estate Indonesia (REI) Batam, Achyar Arfan, Jumat (18/8).

Achyar mengakui, kelesuan ekonomi global berdampak pada sktor properti. Bukan hanya di Batam, tetapi di seluruh daerah di Indonesia, bahkan di dunia. Makanya REI Batam tak berani memasang target tinggi-tinggi dari penjualan properti tahun ini.

Meskipun begitu, optimisme tetap harus dilambungkan tinggi karena Batam dinilai masih sangat menjanjikan. Lagipula pertumbuhan properti tidak akan mati karena jumlah penduduk terus bertambah.

“Batam ini punya koneksi penerbangan ke 15 kota lain di Indonesia. Karenanya target market properti di Batam tidak hanya lokal saja, tapi juga daerah lain,” katanya.

Selain itu, REI juga bertekad untuk membangun rumah murah. Target mereka sebanyak 2.500 unit sepanjang tahun 2017. Namun, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 64 Tahun 2015 yang mengenai kebijakan mempermudah pembangunan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dianggap tidak terlalu berpengaruh dalam misi tersebut.

“Sebenarnya baik jika dilaksanakan. Walaupun ada ketentuannya yang justru menambah beban,” cetusnya.

Salah satu ketentuan baru tersebut adalah keharusan untuk mengurus Sertifikat Laik Fungsi (SLF) untuk rumah MBR.” Ini malah menambah beban,” terangnya.

Ini yang membuat pelaksanaan PP Nomor 64 Tahun 2016 di seluruh Indonesia belum berjalan. “Kami berencana mengangkat masalah ini dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) REI 2017 di Jakarta,” tambahnya.

Sejumlah pengembang di Batam saat ini memilih menahan penjualan properti karena lesunya pasar. Bahkan mereka enggan meluncurkan produk baru, sebelum kondisi ekonomi membaik.

“Pertumbuhan pangsa pasar properti sangat stagnan, kurang bergairah. Sehingga saat ini belum tepat untuk meluncurkan produk apapun,” General Manager Fanindo Group, Asep Darmadjaja, di kantornya, Jumat (18/8).

Ia mengakui banyak developer sudah ancang-ancang mempersiapkan lahan untuk membangun proyek baru. Tapi urung dilaksakanan karena situasi ekonomi yang sulit.

Asep melihat pangsa pasar Fanindo berkutat pada masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Umumnya kategori masyarakat tersebut bekerja di sektor industri seperti galangan kapal dan manufaktur. Dan ada juga yang bekerja di sektor informal seperti pedagang dan lainnya.

“Shipyard lesu sangat berpengaruh karena target kami menengah saja,” katanya lagi.

Selain sektor properti, optimisme juga sedang menghinggapi para pelaku industri manufaktur. Sebab sektor ini dinilai terus menunjukkan kinerja yang lebih baik.

“Industri manufaktur awal tahun 2017 stabil. Dan memang kalau kita lihat dari data BPS memang sudah ada tanda-tanda akan terus membaik,” kata Wakil Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing, Jumat (18/8).

Ia mengatakan saat ini perusahaan di Batamindo sering melakukan perekrutan karyawan. Itu artinya, produksi berjalan. Baru-baru ini, ada ratusan pencari kerja memasukkan lamaran kerjanya ke PT Indoyasa Karya Utama di MPH Batamindo. Selain itu PT Tunas Karya juga melakukan perekrutan.

“Kalau PT Indoyasa itu untuk PT Ciba Vision. Sementara PT Indoyasa melakukan rekrutmen untuk PT SUmitomo dan Ciba,” katanya.

Membaiknya industri manufaktur di Batam juga bisa dilihat dari banyaknya perusahaan yang menggunakan fasilitas 123J atau atau layanan izin investasi 3 jam di Badan Pengusahaan (BP) Batam.

“Setahu saya ada beberapa tenan di kawasan industri yang diberikan fasilitas 123j. Seperti tiga tenan di Kawasan Industri Tunas, satu di Batamindo, dan dua di Kawasan Industri Kabil,” katanya.

Menurut pria yang akrab disapa Ayung ini, yang mendapatkan fasilitas 123j ini tidak langsung komersil atau pun produksi. Butuh enam bulan sampai setahun untuk proses persiapan hingga produksi.

“Nah investor yang dapat fasilitas itu di awal tahun mulai terasa efeknya. Dan yang baru dapat fasilitas itu mungkin baru tahun depan efeknya. Dan sebagian besar adalah industri manufaktur,” katanya.

Managing Director Panbil Group, Johanes Kennedy juga mengatakan di kawasan Industri Panbil kondisinya masih stabil. “Masih sama, tidak ada perubahan yang signifikan,” katanya.

Ia berharap, ke depan industri di Batam akan semakin baik. Semua pihak juga diminta untuk sama-sama menjaga iklim investasi di Batam. Khususnya pihak pemerintah agar lebih agresif mendatangkan investor ke Batam.

“Ini menjadi tugas bersama. Jadikan Batam menjadi daerah yang memang masih menjadi primadona investor. Caranya dengan memberikan kemudahan dan kepastian hukum dalam berinvestasi,” katanya.

Sementara Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Panusunan Siregar, mengatakan bahwa niai ekspor industri pada Juli jauh meningkat dibanding Juni lalu. Tercatat, di Juli nilai ekspor hasil industri mencapai 678.137.000 dolar AS atau meningkat jauh dibanding Juni lalu yang hanya sekitar 546.711.000 dolar AS.

“Yang paling tinggi itu adalah untuk mesin atau peralatan listrik dengan nilai ekspor di Juli mencapai 198 juta dolar Amerika. Lebih besar dari Juni lalu,” katanya.

Kemudian mesin-mesin atau pesawat mekanik yang nilainya mencapai 95 juta dolar Amerika. Jauh meningkat dibanding Juni lalu yang hanya 73 juta dolar Amerika.

“Mudah-mudahan di Agustus ini nantinya produksinya terus meningkat. Dan ekonomi membaik,” harapnya.

Direktur Humas dan Promosi Badan Pengusahaan (BP) Batam, Purnomo Andiantono, mengakui bahwa saat ini fasilitas 123J sudah mulai dinikmati investor. Di mana investor dimudahkan untuk mengurus izin investasi di Batam.

“Memang sudah mulai banyak. Dan perlu diingat Batam ini memang masih seksi bagi Singapura dan investor lain,” katanya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah untuk membuat investasi di Batam terus berkembang. Beberapa di antaranya menambah fasilitas dan kemudahan di Batam seperti tax allowance, tax holiday, kemudahan Bea Cukai, Imigrasi, dan kemudahan lainnya. (leo/ian)

Respon Anda?

komentar